![]() |
| Korea Utara memamerkan rudal bergaya Barat dalam kunjungan Kim Jong-un ke Pangkalan Udara Kalma. | KCNA |
Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, meninjau Pangkalan Udara Kalma di Wonsan pada 28 November 2025 untuk menghadiri peringatan 80 tahun Angkatan Udara Tentara Rakyat Korea. Dalam kunjungan itu, foto-foto yang dirilis Korean Central News Agency (KCNA) menunjukkan sejumlah pesawat tempur yang membawa persenjataan baru yang tampilannya menyerupai rudal buatan Eropa Barat.
Foto yang dipublikasikan memperlihatkan dua jet serang Su-25 bernomor ekor 99 dan 57 membawa rudal jelajah yang bentuk luarnya mirip Storm Shadow produksi Prancis-Inggris.
Su-25 tersebut juga tampak dilengkapi rudal yang menyerupai Brimstone buatan Inggris, terpasang pada peluncur rangkap tiga seperti yang umum digunakan pada Eurofighter Typhoon. Pada gambar lain, jet tempur MiG-29 terlihat membawa rudal udara-ke-udara yang tampilannya mendekati IRIS-T buatan Jerman.
Sejauh ini, KCNA tidak menyebutkan nama, spesifikasi, maupun status operasional dari sistem persenjataan tersebut. Informasi yang beredar hanya bersumber dari analisis visual atas foto-foto acara, sehingga identifikasi rudal masih bersifat indikatif.
Beberapa analis pertahanan menyebutkan bahwa bentuk dan dimensi luar rudal-rudal itu memang menyerupai model Barat, namun tidak ada bukti teknis yang dapat memastikan apakah perangkat tersebut benar-benar berfungsi atau hanya tiruan untuk keperluan publikasi internal.
Kunjungan ke Kalma berlangsung bersamaan dengan pertunjukan akrobatik udara dan peninjauan sejumlah aset baru yang diklaim Korea Utara sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan udara.
Media pemerintah menyebut Kim memberikan apresiasi terhadap kontribusi historis Angkatan Udara serta meninjau sejumlah drone dan platform peluncur lainnya yang dipajang dalam acara tersebut.
Di sisi lain, analis pertahanan menilai bahwa kemunculan rudal-rudal serupa Storm Shadow, Brimstone, dan IRIS-T itu muncul di tengah keterbatasan akses Korea Utara terhadap teknologi Barat akibat sanksi internasional.
Karena itu, ada kemungkinan persenjataan tersebut merupakan hasil reverse engineering atau sekadar mock-up yang dirancang untuk kepentingan propaganda visual.
Meski begitu, apabila perangkat itu pada akhirnya benar-benar diproduksi atau diuji, kemampuan serang presisi udara-ke-darat maupun udara-ke-udara Korea Utara berpotensi meningkat dibanding inventaris yang mereka miliki selama ini.
Namun demikian, hingga saat ini tidak ada laporan uji tembak, verifikasi independen, maupun temuan intelijen yang dapat memastikan tingkat kesiapan tempur persenjataan tersebut.

0Komentar