gardu induk atau substation listrik. | ABB Hitachi


PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mulai mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Krueng Raya berkapasitas 15 megawatt (MW) di Kabupaten Aceh Besar pada Selasa, 23 Desember 2025. Pengoperasian pembangkit ini menjadi bagian dari percepatan pemulihan sistem kelistrikan Banda Aceh setelah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025, menjelang Natal, Tahun Baru, dan Bulan Ramadan.

Dengan beroperasinya PLTD Krueng Raya, pasokan listrik yang menopang sistem Banda Aceh kini mencapai total 32 MW. Daya tersebut berasal dari PLTD Lueng Bata milik PLN Nusantara Power berkapasitas 7 MW serta pasokan 25 MW dari PLN Nusa Daya yang tersebar di dua lokasi. Penambahan kapasitas ini ditujukan untuk menjaga keandalan pasokan di tengah keterbatasan jaringan transmisi akibat bencana.

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyatakan, pengoperasian pembangkit diesel dilakukan sebagai langkah percepatan pemulihan layanan dasar bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya kontinuitas pasokan listrik agar aktivitas warga dapat kembali berjalan.

“Kehadiran PLTD ini menjadi bagian dari langkah strategis PLN untuk mempercepat pemulihan sistem kelistrikan. Pascabencana, kami terus bergerak agar kebutuhan dasar masyarakat segera terpenuhi dan aktivitas sosial maupun perekonomian dapat kembali berjalan normal,” ujar Darmawan dalam keterangan tertulis, Rabu, 24 Desember 2025.

PLN juga menyiapkan penguatan lanjutan melalui rencana pengoperasian PLTD Ulee Kareng berkapasitas 25 MW. Jika pembangkit tersebut beroperasi, total cadangan daya atau backup yang menopang Banda Aceh akan meningkat menjadi 57 MW, sehingga ruang manuver sistem kelistrikan menjadi lebih longgar.

Sebelumnya, banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi sejak 26 November 2025 menyebabkan kerusakan besar pada infrastruktur ketenagalistrikan Aceh. 

Sebanyak 12 menara transmisi Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) 150 kV dilaporkan rusak di jalur Bireuen–Arun, Brandan–Langsa, serta Peusangan–Bireuen. Kerusakan tersebut berdampak pada terganggunya pasokan listrik di lebih dari 10 kabupaten dan kota.

Bencana itu juga menimbulkan korban jiwa dan berdampak pada hampir 2 juta penduduk di 18 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Akibat terganggunya jaringan transmisi, Banda Aceh sempat mengalami pemadaman bergilir dengan defisit daya hingga 40 MW selama beberapa pekan.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary Marimbo mengatakan, penempatan pembangkit di titik-titik strategis dilakukan untuk mengoptimalkan distribusi listrik selama masa pemulihan. 

“PLN menargetkan layanan kelistrikan tetap aman dan andal agar mendukung pemulihan sosial serta perekonomian masyarakat Aceh pasca banjir,” kata Rizal.

Darmawan juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, TNI, Polri, serta masyarakat yang terlibat dalam proses pemulihan kelistrikan. Salah satu capaian terbaru adalah pulihnya jaringan transmisi 150 kV Pangkalan Brandan–Langsa pada 17 Desember 2025, yang kembali menghubungkan sistem kelistrikan Aceh dengan sistem Sumatera.