![]() |
| Pertamina meraih BIG40 Awards 2025 atas kontribusi menjaga pasokan energi nasional dan mengembangkan inovasi rendah karbon. | PERTAMINA |
PT Pertamina (Persero) meraih penghargaan BIG40 Awards 2025 kategori The National Energy Security & Integrated Resources Stewardship yang diumumkan Bisnis Indonesia Group pada Senin (8/12). Penghargaan yang berlangsung di Jakarta itu diberikan atas peran perseroan menjaga keandalan pasokan energi nasional di tengah percepatan transisi menuju ekonomi hijau.
Pengakuan tersebut masuk dalam daftar 40 tokoh dan institusi yang dinilai memberi dampak luas bagi perekonomian Indonesia, termasuk sektor energi. Pertamina disebut menjaga suplai bahan bakar minyak di seluruh wilayah, terutama pada periode peningkatan kebutuhan akhir tahun.
Sebelum penghargaan ini diberikan, Pertamina melaporkan kinerja operasional yang stabil pada semester I 2025. Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menjelaskan perusahaan mempertahankan produksi migas di atas 1 juta barrel oil equivalent per day (BOEPD) serta menemukan cadangan baru, termasuk sekitar 724 juta barrel oil equivalent di wilayah kerja Rokan.
Ia menyebut capaian tersebut sejalan dengan agenda pemerintah memperkuat ketahanan energi dan mengejar target swasembada. Dalam waktu bersamaan, Kementerian ESDM dan Kementerian Pertahanan menetapkan kilang Pertamina sebagai objek vital strategis yang mulai Desember 2025 dijaga satuan TNI untuk mengamankan rantai distribusi energi.
“Upaya menjaga keandalan pasokan menjadi fokus utama kami di tengah kebutuhan nasional yang terus meningkat,” ujar Simon dalam keterangan resmi.
SAF, panas bumi, dan agenda transisi hijau
Di sisi inovasi, Pertamina menonjolkan pengembangan energi rendah karbon yang kini masuk indikator penilaian BIG40.
Pada paruh pertama 2025, Pertamina mengoperasikan produksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) pertama di Asia Tenggara dengan kapasitas 9.000 barrel per hari melalui teknologi co-processing minyak tanah dan minyak jelantah. SAF tersebut telah diuji dalam penerbangan komersial dan mengantongi sertifikasi internasional.
Pertamina NRE, anak usaha yang mengelola energi baru terbarukan, juga melaporkan kapasitas terpasang lebih dari 2,8 GW dan produksi listrik sekitar 4 TWh hingga pertengahan tahun. Sebagian besar berasal dari pembangkit panas bumi, termasuk operasi PLTP Lumut Balai yang menghasilkan sekitar 800 GWh per tahun.
Simon menyebut ekosistem bisnis SAF tidak hanya memperkuat kemandirian energi, tetapi ikut mendorong ekonomi sirkuler di tingkat lokal.
Satgas energi jelang nataru
Menjelang libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, Pertamina bersama Kilang Pertamina Internasional mengaktifkan Satgas Pengendalian dan Pemantauan Penyaluran Energi.
Satgas yang bekerja sejak akhir November hingga awal Januari ini bertugas memastikan stok dan distribusi BBM tetap terjaga, melengkapi sistem pengawasan reguler di internal perusahaan dan kementerian terkait.
Pemerintah juga membuka ruang partisipasi swasta melalui penyesuaian kuota impor dan kebijakan bauran biofuel untuk menekan ketergantungan impor jangka panjang.
Dalam konteks itu, penghargaan BIG40 menempatkan Pertamina sebagai aktor sentral menjaga stabilitas energi sekaligus mengawal transisi menuju ekonomi rendah karbon.

0Komentar