![]() |
| pangkalan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA), angkatan bersenjata Republik Rakyat Tiongkok. |
Departemen Pertahanan Amerika Serikat memperingatkan bahwa China tengah mengupayakan akses ke pangkalan militer di Bangladesh dan Pakistan sebagai bagian dari langkah terarah untuk membangun jejak militer global. Peringatan tersebut disampaikan dalam laporan tahunan Pentagon kepada Kongres yang dirilis pada Selasa, yang menilai ekspansi militer Beijing di luar negeri semakin sistematis.
Dalam laporan itu, Pentagon menyebut Tentara Pembebasan Rakyat (People’s Liberation Army/PLA) secara aktif mempertimbangkan akses militer atau infrastruktur di sedikitnya 21 negara.
Fokus utama China adalah mengamankan posisi strategis di sepanjang jalur perdagangan maritim vital, termasuk Selat Malaka dan Selat Hormuz, yang dinilai krusial bagi arus perdagangan dan pasokan energi Beijing.
Pentagon juga mengonfirmasi bahwa fasilitas China di Pangkalan Angkatan Laut Ream, Kamboja, kini telah beroperasi penuh. Instalasi tersebut menjadi pangkalan militer luar negeri kedua Beijing setelah fasilitas di Djibouti.
Menurut laporan tersebut, perluasan kehadiran militer China berkaitan erat dengan upaya melindungi kepentingan ekonomi dan jalur logistik globalnya. Akses militer di kawasan strategis dinilai dapat meningkatkan kemampuan Beijing dalam merespons krisis atau konflik regional.
“China kemungkinan besar juga telah mempertimbangkan pangkalan di Angola, Bangladesh, Burma, Kuba, Guinea Khatulistiwa, Indonesia, Kenya, Mozambik, Namibia, Nigeria, Pakistan, Papua Nugini, Seychelles, Kepulauan Solomon, Sri Lanka, Tajikistan, Thailand, Tanzania, Uni Emirat Arab, dan Vanuatu,” demikian pernyataan dalam laporan Pentagon.
Di sisi lain, analis pertahanan AS menyoroti meningkatnya penggunaan infrastruktur dual-use oleh China. Fasilitas yang dibangun dengan dalih investasi komersial dinilai berpotensi dimanfaatkan untuk kepentingan militer, termasuk pengumpulan intelijen dan pemantauan pergerakan militer AS serta sekutunya. Aktivitas tersebut diperkirakan dilakukan secara terselubung dengan dukungan kemampuan teknis canggih yang sulit dideteksi oleh negara tuan rumah.
Pentagon juga mencatat bahwa Beijing secara paralel memperkuat mekanisme komando dan kontrol untuk mengelola infrastruktur militer luar negeri. Langkah ini memungkinkan PLA mengoperasikan pangkalan di wilayah terpencil dengan koordinasi yang lebih efektif, sekaligus meningkatkan kesiapan logistik dan operasional pasukan.
Ekspansi tersebut ditempatkan dalam konteks modernisasi militer China yang lebih luas. Pentagon menyebut peningkatan kemampuan militer Beijing bersifat “bersejarah” dan berdampak langsung pada tingkat kerentanan daratan AS. Persediaan hulu ledak nuklir China diperkirakan masih berada di kisaran “600-an rendah” pada akhir 2024, namun diproyeksikan melampaui 1.000 unit pada 2030.
Pada saat yang sama, Angkatan Laut PLA menargetkan pembangunan enam kapal induk tambahan hingga 2035, sehingga total armada kapal induk China mencapai sembilan unit. Target ini sejalan dengan arahan Presiden Xi Jinping untuk membangun militer world-class pada 2049, bertepatan dengan agenda peremajaan nasional China.
Pentagon menjelaskan bahwa Beijing menetapkan tiga sasaran utama pada 2027, yakni mengembangkan kemampuan memenangkan konflik terkait Taiwan, mencapai kesetaraan dengan AS dalam kekuatan nuklir dan strategis, serta mempertahankan tekanan berkelanjutan terhadap negara-negara lain di Asia.
Dalam kerangka tersebut, laporan itu juga menyoroti kerja sama pertahanan China yang semakin erat dengan Pakistan, termasuk pengiriman 36 jet tempur J-10C dan empat kapal fregat.

0Komentar