![]() |
| Bendera Somaliland berkibar di Hargeisa menjelang agenda politik nasional, di tengah upaya wilayah tersebut memperoleh pengakuan internasional. (AFP/LUIS TATO) |
Israel secara resmi mengakui Republik Somaliland sebagai negara merdeka dan berdaulat. Pengakuan yang diumumkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Jumat (26/12) itu menjadikan Israel sebagai negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa pertama yang memberikan pengakuan formal kepada wilayah yang memisahkan diri dari Somalia tersebut.
Pengumuman disampaikan usai penandatanganan deklarasi bersama melalui konferensi video antara Netanyahu, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Sa’ar, dan Presiden Somaliland Abdirahman Mohamed Abdallahi.
Deklarasi itu menandai dimulainya hubungan resmi antara Israel dan Somaliland, setelah wilayah tersebut selama lebih dari tiga dekade berupaya memperoleh pengakuan internasional.
Dalam pernyataan resminya, kantor Netanyahu menyebut pengakuan ini dibingkai dalam semangat Abraham Accords yang diprakarsai Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kesepakatan tersebut juga mencakup rencana awal kerja sama politik dan keamanan, termasuk kemungkinan Somaliland menerima pengungsi Palestina dari Gaza. Namun, Israel belum merilis rincian teknis maupun jadwal pelaksanaan rencana tersebut.
Langkah Israel ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan keamanan di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden. Sejumlah analis keamanan Israel menilai posisi geografis Somaliland memiliki nilai strategis, khususnya terkait perlindungan jalur pelayaran internasional yang dalam beberapa waktu terakhir kerap menjadi sasaran serangan kelompok Houthi.
Dalam pernyataan terpisah di media sosial, Netanyahu memuji kepemimpinan Presiden Abdallahi dan menyampaikan undangan kunjungan resmi ke Israel. Ia juga menyoroti peran Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar serta Direktur Mossad David Barnea dalam memfasilitasi proses diplomatik tersebut.
“Pengakuan ini membuka jalan bagi kerja sama yang lebih luas di bidang keamanan, pertanian, kesehatan, teknologi, dan pembangunan ekonomi,” ujar Netanyahu, sebagaimana dikutip The Times of Israel.
Laporan Institute for National Security Studies (INSS) Israel pada November 2025 sebelumnya menyebut bahwa pengakuan terhadap Somaliland berpotensi memperkuat strategi keamanan Israel di kawasan Tanduk Afrika.
Laporan itu menyoroti garis pantai Somaliland sepanjang sekitar 460 mil serta Pelabuhan Berbera yang dinilai strategis bagi kepentingan keamanan dan logistik regional.
Pelabuhan Berbera dikembangkan melalui investasi senilai US$442 juta oleh perusahaan logistik DP World yang berbasis di Uni Emirat Arab. Infrastruktur tersebut dipandang berpotensi mendukung kerja sama keamanan maritim sekaligus kepentingan ekonomi Israel di kawasan Laut Merah.
Somaliland terletak di barat laut Somalia dengan populasi sekitar 3,5 juta jiwa. Wilayah ini mendeklarasikan kemerdekaan pada 1991 setelah runtuhnya rezim militer Siad Barre. Sejak itu, Somaliland berfungsi sebagai negara de facto dengan pemerintahan, mata uang, dan sistem politik sendiri.
Pada 2001, Somaliland menggelar referendum yang menghasilkan dukungan 97% pemilih terhadap kemerdekaan serta ratifikasi konstitusi nasional. Meski relatif stabil dan rutin menggelar pemilu, status internasional Somaliland hingga kini tetap belum diakui secara luas.
Sebelum langkah Israel, tidak ada negara anggota PBB yang memberikan pengakuan formal terhadap Somaliland. Taiwan menjadi salah satu entitas yang menjalin hubungan erat dengan membuka kantor perwakilan di Hargeisa pada 2020, meski tanpa pengakuan kenegaraan resmi.
Pemerintah Federal Somalia di Mogadishu secara konsisten menolak upaya pengakuan terhadap Somaliland dan menegaskan wilayah tersebut tetap merupakan bagian dari Somalia. Hingga Minggu (28/12), pemerintah Somalia belum mengeluarkan pernyataan resmi menanggapi pengumuman Israel.
Namun, pada awal Desember lalu, pejabat Somalia menepis klaim adanya komunikasi diplomatik dengan Israel serta menolak wacana relokasi warga Palestina ke wilayah Somalia. Pernyataan itu disampaikan menyusul laporan media internasional mengenai pendekatan Israel ke sejumlah aktor di kawasan Tanduk Afrika.
Pengakuan Israel terhadap Somaliland diperkirakan akan memicu beragam respons di Afrika Timur dan Timur Tengah. Meski demikian, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari Uni Afrika maupun Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Israel menyatakan akan menindaklanjuti pengakuan tersebut dengan pembukaan jalur diplomatik dan peningkatan kerja sama, dengan fokus awal pada isu keamanan maritim, pembangunan ekonomi, serta pertukaran teknologi.

0Komentar