Kapal Tanker Milik Pertamina International Shipping. | Pertamina


Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan Indonesia tetap berkomitmen melanjutkan rencana impor minyak dan gas bumi (migas) dari Amerika Serikat senilai sekitar US$ 10 miliar atau setara Rp 168,56 triliun. 

Komitmen ini disampaikan di tengah kabar bahwa kesepakatan dagang Indonesia–AS berisiko tidak rampung sesuai jadwal. Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (12/12/2025).

Yuliot menyatakan, rencana impor migas dari AS tetap diupayakan sesuai kesepakatan awal yang telah dibangun kedua negara. Koordinasi lanjutan akan dilakukan oleh Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dengan melibatkan kementerian dan lembaga terkait, mengingat isu ini menjadi bagian dari paket negosiasi dagang yang lebih luas.

Langkah tersebut muncul setelah muncul laporan dari sejumlah media asing yang menyebut kesepakatan dagang Indonesia–Amerika Serikat yang diumumkan pada Juli 2025 menghadapi kendala. Dalam laporan itu, pejabat AS menilai Indonesia menarik kembali sebagian komitmen, terutama terkait penghapusan non-tariff barrier pada produk industri dan pertanian AS, serta isu perdagangan digital.

Meski begitu, pemerintah Indonesia membantah adanya kebuntuan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut proses negosiasi masih berjalan dan sebagian besar substansi telah disepakati. Ia menjelaskan bahwa isu hambatan non-tarif tinggal diformalkan dalam dokumen perjanjian setelah pembahasan di tingkat teknis.

Menurut Airlangga, pembahasan lanjutan dilakukan usai pertemuannya dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer pada Kamis malam (11/12). Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat melanjutkan proses menuju finalisasi kesepakatan yang dinamakan Agreement on Reciprocal Tariff (ART).

Pemerintah berencana mengirimkan delegasi ke Washington pada pekan depan untuk memfinalisasi perjanjian tersebut. Presiden Prabowo Subianto disebut telah menginstruksikan agar negosiasi tarif Indonesia–AS dapat diselesaikan sebelum akhir 2025.

Dalam kerangka kesepakatan Juli 2025, Indonesia berkomitmen meningkatkan impor energi dari AS hingga US$ 15 miliar, termasuk sekitar 15 juta barrel of oil equivalent (BOE) migas yang akan ditugaskan kepada PT Pertamina (Persero). 

Sebagai imbal balik, AS menurunkan tarif produk Indonesia dari 32 persen menjadi 19 persen, dengan sejumlah komoditas seperti minyak sawit mentah, karet, teh, dan kopi ditargetkan memperoleh tarif 0 persen.

Pemerintah menilai kerja sama ini menjadi bagian dari upaya menyeimbangkan neraca perdagangan sekaligus memperkuat hubungan ekonomi bilateral. Airlangga juga menyebut Indonesia termasuk salah satu dari sedikit negara yang telah mencapai kesepahaman awal dengan AS dalam skema tarif resiprokal yang didorong pemerintahan Presiden Donald Trump.