![]() |
| Kubah Pengaman Baru (New Safe Confinement/NSC) di atas reruntuhan reaktor 4 Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl di Ukraina. | Tim Porter/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 |
Struktur pelindung New Safe Confinement (NSC) yang menutup reaktor nuklir Chernobyl berisiko runtuh jika kembali terdampak serangan Rusia, bahkan tanpa terkena hantaman langsung. Peringatan tersebut disampaikan Direktur Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl, Serhii Tarakanov, hampir sepuluh bulan setelah serangan drone Rusia merusak sistem keselamatan fasilitas itu.
Dalam wawancara dengan Agence France-Presse pada 23 Desember, Tarakanov menyatakan integritas NSC—lengkungan baja raksasa yang menutup sisa Reaktor No. 4—masih berada dalam kondisi rentan. Struktur tersebut terletak di wilayah Chernobyl, Ukraina utara, dan menjadi elemen utama pengaman radiasi pascabencana nuklir 1986.
Menurut Tarakanov, ancaman tidak hanya berasal dari serangan langsung. Getaran akibat rudal atau drone yang jatuh di sekitar lokasi, termasuk sistem balistik seperti Iskander, dinilai cukup untuk memicu guncangan yang berisiko merusak struktur.
“Jika rudal atau drone mengenainya secara langsung, atau bahkan jatuh di suatu tempat terdekat, itu bisa menyebabkan gempa mini di wilayah ini,” ujarnya. Ia menegaskan tidak ada jaminan NSC akan tetap berdiri dalam kondisi tersebut.
Kekhawatiran itu berangkat dari kerusakan serius akibat serangan drone Rusia pada 14 Februari lalu. Drone dengan hulu ledak high-explosive menghantam atap luar NSC dan menciptakan lubang sekitar 15 meter persegi. Serangan tersebut memicu kebakaran yang baru dapat dipadamkan setelah lebih dari dua minggu, sekaligus menembus lapisan cladding internal dan eksternal struktur.
NSC merupakan proyek internasional senilai sekitar €1,5 miliar yang rampung pada 2019. Struktur ini dirancang untuk menahan radiasi dan melindungi sarkofagus era Soviet selama setidaknya 100 tahun.
Namun, Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi pada awal Desember bahwa NSC telah kehilangan fungsi keselamatan utamanya, termasuk kemampuan containment, meski tidak ditemukan kerusakan permanen pada struktur penahan beban utama maupun sistem pemantauan.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi menekankan pentingnya pemulihan menyeluruh untuk mencegah degradasi lanjutan dan menjaga keselamatan nuklir jangka panjang. Penilaian tersebut disampaikan setelah tim IAEA melakukan inspeksi lanjutan pascaserangan.
Saat ini, lubang utama di atap NSC telah ditutup menggunakan layar pelindung sementara. Namun, sekitar 300 lubang kecil yang dibuat selama proses pemadaman kebakaran masih membutuhkan perbaikan lanjutan.
Tarakanov memperkirakan pemulihan penuh fungsi keamanan NSC akan memakan waktu tiga hingga empat tahun, dengan biaya yang berpotensi melampaui €100 juta.
Otoritas setempat menyatakan tingkat radiasi di area Chernobyl masih berada dalam batas normal dan relatif stabil. Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kerusakan pada NSC kembali membuka paparan terhadap sarkofagus lama yang sudah rapuh. Jika struktur internal tersebut runtuh, debu radioaktif berisiko terlepas ke lingkungan sekitar.
Sebagai konteks, bencana Chernobyl pada 1986 melepaskan setidaknya 5% inti radioaktif reaktor ke atmosfer, dengan kontaminasi terdeteksi hingga wilayah Eropa Utara, termasuk Swedia. Hingga kini, reaktor yang rusak tersebut masih mengandung sekitar 200 ton material yang sangat radioaktif.
Ukraina berulang kali menuduh Rusia menargetkan fasilitas nuklir Chernobyl sejak invasi skala penuh Moskwa pada 2022. Tuduhan itu kembali mencuat setelah serangan Februari lalu, meski Kremlin membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut.

0Komentar