siluet seorang tentara atau pejuang yang berdiri di ambang pintu atau terowongan yang hancur. REUTERS/Amir Cohen

Militer Israel menyebutkan telah menewaskan lebih dari 40 pejuang Hamas yang terperangkap di jaringan terowongan bawah tanah di Rafah sepanjang sepekan terakhir. Pernyataan ini disampaikan pada Minggu waktu setempat, di tengah situasi gencatan senjata yang telah tercatat mengalami ratusan pelanggaran sejak mulai berlaku pada 10 Oktober. 

Insiden berlangsung di wilayah Rafah, Gaza selatan, ketika sistem pengawasan Israel mendeteksi pergerakan kelompok yang diyakini mencoba keluar dari terowongan menuju zona yang kini berada di bawah kendali pasukan Israel.

Menurut laporan yang dikutip dari The New Arab dan Inquirer, sekitar 60 hingga 80 pejuang Hamas masih terjebak di sisi garis penarikan gencatan senjata yang dikuasai Israel. Empat pejuang tambahan dilaporkan tewas pada Sabtu malam setelah muncul dari salah satu pintu keluar terowongan di Rafah timur.

Sumber-sumber diplomatik dari Mesir, Qatar, dan Turki yang dilibatkan sebagai mediator menyebutkan bahwa pembahasan mengenai jalur aman bagi para pejuang yang terjebak belum mencapai titik temu. 

Negosiasi yang didukung Amerika Serikat itu disebut macet akibat perbedaan posisi yang sangat mendasar. Israel menuntut para pejuang menyerah tanpa syarat dan ditawan, sementara Hamas menolak opsi tersebut.

“Para pejuang kami di Rafah tidak dapat menerima menyerah atau menyerahkan senjata mereka kepada pendudukan,” ujar pejabat senior Hamas Husam Badran dalam pernyataannya yang dikutip beberapa media Timur Tengah. 

Ia menuding Israel menghambat peralihan menuju fase kedua gencatan senjata dan memperingatkan risiko ketidakstabilan yang lebih luas.

Informasi dari The Media Line menjelaskan bahwa para pejuang tersebut terjebak di bawah tanah sejak gencatan senjata mulai berlaku. Pintu keluar terowongan yang sebelumnya menuju area yang dikuasai Hamas berubah menjadi zona patroli Israel, membuat mereka tidak dapat bergerak tanpa terdeteksi.

Data yang disampaikan Kantor Media Pemerintah Gaza dan dikutip dari beberapa media internasional menyebutkan ada 591 pelanggaran gencatan senjata oleh Israel antara 10 Oktober hingga 29 November. Insiden itu mengakibatkan sedikitnya 357 warga Palestina tewas dan lebih dari 900 orang luka-luka.

Di sisi lain, Israel menyatakan tindakan militer terhadap pejuang Hamas di wilayah yang dikuasai pasukannya tidak melanggar kesepakatan gencatan senjata. Tel Aviv mengacu pada klausul yang mengizinkan pembongkaran infrastruktur militer bawah tanah selama masa jeda perang.

Laporan CNN International dan menyebutkan bahwa perselisihan tentang interpretasi perjanjian menjadi salah satu faktor mandeknya pembahasan tahap lanjutan gencatan senjata, termasuk rencana rekonstruksi Gaza dan pembentukan struktur pemerintahan Palestina yang baru.

Sejauh ini tidak ada tanda-tanda kesepakatan baru terkait jalur aman bagi pejuang Hamas yang terjebak. Mediator regional menyebutkan proses masih berlanjut, namun belum ada perkembangan signifikan dalam beberapa hari terakhir. Sementara itu, sistem pemantauan dan operasi pasukan Israel di sekitar terowongan Rafah tetap berlangsung di bawah pengawasan ketat.

Tidak ada pernyataan tambahan dari pihak Israel mengenai pergerakan lanjutan di Rafah, sementara Hamas terus menegaskan bahwa mereka tidak akan menerima syarat penyerahan diri. Situasi di lokasi diperkirakan tetap berubah cepat seiring meningkatnya tensi dan pelanggaran gencatan senjata di jalur Gaza.