![]() |
| bagian ekor pesawat Garuda Indonesia yang sedang terparkir di apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Indonesia. | APLUSWIRE/Larissa Meidiana |
PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk memutuskan memangkas gaji para direksi sebesar 10 persen sebagai bagian dari langkah efisiensi setelah pendapatan kuartal III 2025 turun 10,53 persen. Kebijakan itu disampaikan Direktur Utama Glenny H Kairupan dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR yang berlangsung di Senayan, Jakarta, Senin (1/12/2025). Glenny menyebut pemotongan dilakukan secara sukarela sebagai bentuk komitmen manajemen di tengah tekanan kinerja.
Garuda Indonesia Group mencatat pendapatan sebesar US$842,16 juta atau sekitar Rp14,03 triliun pada periode Juli–September 2025. Angka itu turun dari US$941,29 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya, sebagaimana disampaikan manajemen dalam paparan kepada DPR dan sejumlah pemberitaan industri sepanjang pekan ini.
Penurunan terutama terjadi pada pendapatan penumpang yang merosot 11,36 persen menjadi US$618,91 juta, serta pendapatan kargo yang turun 3,8 persen menjadi US$41,88 juta.
Wakil Direktur Utama Thomas Sugiarto Oentoro menjelaskan, tekanan tersebut dipicu program pemeliharaan pesawat yang mengurangi kapasitas produksi dan berdampak pada pendapatan operasional.
“Kami di kondisi kritis secara operasional diakibatkan armada kami yang tidak bisa bullish serviceable yang menekan revenue kami,” ujar Thomas dalam forum yang sama, merujuk pada keterbatasan armada yang siap terbang.
Kerugian bersih maskapai juga semakin melebar. Hingga kuartal III 2025, Garuda mencatat rugi US$182,53 juta atau sekitar Rp3,03 triliun, meningkat 39,1 persen secara tahunan. Laporan keuangan yang dipublikasikan pekan lalu menyebut, tingginya biaya operasional dan terbatasnya jam terbang berkontribusi signifikan terhadap pelemahan tersebut.
Di sisi lain, manajemen memaparkan sejumlah langkah efisiensi untuk menahan laju beban perusahaan. Selain pemotongan gaji direksi, Garuda mengurangi jumlah pegawai yang ditempatkan di Jepang dari sebelumnya 2–3 orang menjadi hanya satu orang. Perseroan juga menghemat konsumsi avtur hingga 21 juta liter dengan menerapkan praktik penggunaan satu mesin saat pesawat melakukan taxying di landasan.
Per November 2025, Garuda mengoperasikan 58 pesawat, sementara Citilink mengoperasikan 32 pesawat, naik dari 21 pesawat pada Juli 2025. Penambahan armada aktif ini, menurut Thomas, menjadi bagian dari strategi pemulihan kapasitas setelah perusahaan menerima suntikan modal dari PT Danantara Asset Management.
Danantara telah menggelontorkan Rp23,67 triliun melalui skema penambahan modal yang meliputi setoran tunai Rp17,02 triliun dan konversi utang Rp6,65 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk kebutuhan modal kerja dan pemeliharaan armada Garuda sebesar 37 persen, serta mendukung operasional Citilink sebesar 63 persen, sebagaimana tercantum dalam dokumen penjelasan yang disampaikan kepada pasar dan regulator.
Glenny menyebut, langkah-langkah efisiensi yang ditempuh manajemen sejauh ini bertujuan menjaga keberlanjutan operasional maskapai.
“Seorang pemimpin harus berani berkorban. Kalau gaji kita potong 10 persen apakah setuju? Ternyata semuanya setuju,” ujarnya dalam rapat di DPR.
Tidak ada informasi tambahan dari pemerintah maupun pemegang saham mayoritas dalam forum tersebut terkait rencana lanjutan penyehatan Garuda. Maskapai sejauh ini masih menjalankan berbagai inisiatif restrukturisasi operasional dan keuangan yang telah disusun bersama Danantara dan Kementerian BUMN.

0Komentar