Bendera NATO, UE, dan Jerman yang berkibar di depan Gedung Reichstag di Berlin, Jerman. | Felix Zahn/Global Look Press


Komentar Matthew Whitaker, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk NATO, pada Konferensi Keamanan Berlin awal November 2025 kembali menggeser perhatian publik internasional pada posisi AS dalam arsitektur keamanan Eropa. 

Dalam forum tersebut, Whitaker menyebut harapannya agar Jerman suatu hari mengambil alih posisi Panglima Tertinggi Sekutu Eropa (Supreme Allied Commander Europe/SACEUR), jabatan yang sejak 1950 selalu dipegang oleh perwira Amerika.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai indikasi bahwa Washington sedang meninjau ulang prioritas strategisnya, khususnya di tengah dinamika global yang menempatkan Asia sebagai teater geopolitik utama. 

Sejumlah analis menilai komentar itu merupakan sinyal perubahan yang lebih besar pada peran AS terhadap keamanan benua Eropa, sekaligus memberi ruang bagi Jerman untuk meningkatkan peran militernya di dalam NATO.

Konteks historis dan peran SACEUR

Sejak dibentuknya struktur komando NATO pada 1950, posisi SACEUR tidak pernah lepas dari tangan perwira bintang empat Amerika. Dwight D. Eisenhower menjadi tokoh pertama yang mengemban jabatan tersebut sebelum kemudian menduduki kursi Presiden AS.

Saat ini, posisi itu dijabat Jenderal Alexus G. Grynkewich dari Angkatan Udara AS. Peran SACEUR mencakup pengawasan seluruh operasi militer NATO di Eropa melalui SHAPE (Supreme Headquarters Allied Powers Europe), sebuah struktur komando yang menentukan arah dan kesiapan militer aliansi.

Karena itu, sinyal bahwa jabatan tersebut berpotensi dialihkan ke negara Eropa menjadi isu signifikan dalam hubungan transatlantik. Bagi sejumlah pihak, langkah tersebut mencerminkan mulai bergesernya peran AS dari pengarah utama ke posisi yang lebih terfokus pada kepentingan strategis di kawasan Indo-Pasifik.

Rumor pengunduran diri AS dan retorika Trump

Komentar Whitaker muncul setelah beberapa bulan spekulasi tentang niatan AS untuk mengurangi komitmen militernya di Eropa. Rumor ini diperkuat oleh retorika Presiden Donald Trump yang sejak kampanye menyoroti minimnya kontribusi anggaran pertahanan negara-negara Eropa.

Trump menilai sekutu di Eropa terlalu bergantung pada AS dalam menghadapi ancaman yang meningkat, termasuk perang Rusia–Ukraina yang memasuki tahun ketiga. Menurutnya, pembagian beban harus “lebih adil” dan negara-negara NATO perlu memperkuat kemampuan masing-masing.

Dalam forum Berlin, Whitaker menegaskan bahwa pemerintahan Trump tetap berkomitmen terhadap NATO, namun ia juga menyampaikan apresiasi terhadap Jerman yang telah menaikkan investasi pertahanannya.

“Jerman menunjukkan langkah signifikan dalam memperkuat anggarannya,” ujar Whitaker. Pernyataan ini memberikan konteks bahwa Washington ingin melihat Berlin mengambil tanggung jawab lebih besar dalam keamanan kawasan.

Pendapat para analis menunjukkan adanya pergeseran pemikiran strategis di Washington. Butch Bracknell, pensiunan perwira Marinir AS dengan pengalaman penugasan di SFOR dan ISAF, menilai penyerahan posisi SACEUR bukan sekadar seremonial.

“Jika AS menyerahkan SACEUR kepada Eropa, kita harus menyadari bahwa kita menyerahkan pengaruh dan kemampuan yang sangat besar untuk mengarahkan fungsi militer NATO,” ujar Bracknell. Ia menyebut langkah tersebut akan dipandang Eropa sebagai sinyal penarikan diri AS dari urusan keamanan kawasan.

Menurut Bracknell, dominasi AS dalam posisi komando operasional NATO selama beberapa dekade bukan tanpa alasan. Peran itu memastikan keterlibatan Washington tetap terjaga, meski secara geografis terpisah jauh dari benua Eropa. 

Di sisi lain, ia menegaskan bahwa kesiapan negara-negara NATO lain untuk menduduki posisi tersebut sebenarnya sudah ada, termasuk sejumlah perwira bintang empat dari Eropa.

Pandangan berbeda datang dari Roger Hilton, peneliti pertahanan di lembaga riset GLOBSEC. Menurut Hilton, komentar Whitaker lebih menandakan prioritas strategis AS yang kini beralih ke Asia.

“Komentar Duta Besar Whitaker menunjukkan sinyal paling jelas bahwa AS memandang Asia sebagai teater geopolitik utama,” ujar Hilton. Ia menambahkan, penyelarasan kemampuan militer antara AS dan Eropa dalam jangka panjang dapat menciptakan struktur transatlantik yang lebih seimbang, bukan melemahkan hubungan.

Perubahan kebijakan pertahanan Jerman

Komentar Whitaker juga menimbulkan reaksi di Berlin. Letnan Jenderal Wolfgang Wien, perwakilan Jerman untuk NATO dan Uni Eropa, mengatakan bahwa ia terkejut dengan pernyataan tersebut.

Menurut Wien, meskipun Jerman siap mengambil tanggung jawab lebih besar, posisi SACEUR secara historis dianggap sebagai bagian dari tanggung jawab utama Amerika. Namun demikian, ia tidak menutup kemungkinan bahwa perubahan dinamika geopolitik dapat mengarah pada penyesuaian peran.

Sementara itu, kebijakan pertahanan Jerman sedang mengalami transformasi besar di bawah Kanselir Friedrich Merz. Pemerintah berencana membentuk “tentara konvensional terkuat di Eropa”, dengan anggaran yang diproyeksikan melampaui €60 miliar pada 2025 dan meningkat hingga €161,8 miliar pada 2029.

Menurut catatan kebijakan fiskal Jerman, langkah tersebut didukung reformasi aturan Debt Brake serta pendirian Dana Khusus Pertahanan yang memungkinkan alokasi pembiayaan besar tanpa pelanggaran konstitusi.

Bundeswehr juga menargetkan total 460.000 personel pada pertengahan dekade mendatang, terdiri dari 260.000 tentara aktif dan sekitar 200.000 cadangan. Kenaikan ini didorong penilaian bahwa “situasi ancaman bagi Eropa dan Jerman telah memburuk secara signifikan sejak 2022,” menurut pernyataan juru bicara Bundeswehr.

Perubahan prioritas global AS

Sejumlah analis menilai bahwa pernyataan Whitaker merupakan refleksi dari reposisi geopolitik AS. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington meningkatkan fokus pada Indo-Pasifik, terutama menghadapi dinamika keamanan terkait Tiongkok, Taiwan, dan Laut China Selatan.

Di sisi lain, perang Rusia–Ukraina memaksa Eropa mempercepat penguatan militernya. Karena itu, realokasi aset AS dari Eropa ke Asia menjadi bagian dari penataan ulang strategi global yang lebih luas.

Menurut Hilton, langkah tersebut tidak serta-merta menggerus hubungan transatlantik. Ia melihatnya sebagai fase baru, di mana Eropa mengambil peran lebih besar dalam keamanan regional, sementara AS tetap memberikan dukungan strategis.

Prospek Perubahan Komando NATO

Whitaker menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak akan terjadi dalam waktu dekat. “Saya menantikan hari ketika Jerman datang ke Amerika Serikat dan menyatakan bahwa kami siap mengambil alih posisi Panglima Tertinggi Sekutu. Saya rasa kita masih jauh dari itu,” ujarnya.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa Washington melihat kemungkinan pergeseran komando sebagai bagian dari proses jangka panjang yang membutuhkan kesiapan Jerman, konsensus NATO, dan adaptasi terhadap lingkungan ancaman yang terus berubah.

Pernyataan Whitaker di Berlin menjadi indikator bahwa NATO sedang memasuki fase diskusi strategis yang lebih luas, mencakup peran Eropa yang lebih mandiri dan penataan ulang fokus global AS. 

Sejauh ini, belum ada langkah konkret mengenai pergantian SACEUR, namun dinamika politik, perkembangan anggaran pertahanan Jerman, serta reposisi AS ke Asia akan terus membentuk arah pembahasan di dalam aliansi.