![]() |
| kapal Ocean Infinity mengerahkan kendaraan bawah air otonom (Autonomous Underwater Vehicle/AUV) untuk operasi maritim. | Ocean Infinity |
Pemerintah Malaysia akan kembali menggelar operasi pencarian Malaysia Airlines penerbangan MH370 pada 30 Desember 2025. Kementerian Transportasi menyebut langkah ini melibatkan Ocean Infinity, perusahaan robotika kelautan asal Amerika Serikat, yang akan melakukan penyisiran dasar laut selama 55 hari di area target Samudra Hindia bagian selatan.
Operasi dilakukan dengan skema no-find, no-fee, di mana pemerintah hanya membayar sebesar 70 juta dolar AS apabila puing pesawat ditemukan.
Pencarian terbaru ini menargetkan area seluas 15.000 kilometer persegi yang dinilai memiliki kemungkinan tertinggi berdasarkan pemodelan terbaru. Upaya tersebut menjadi fase lanjutan setelah serangkaian operasi sebelumnya gagal menemukan lokasi utama pesawat Boeing 777 yang hilang pada 8 Maret 2014 saat menempuh rute Kuala Lumpur–Beijing.
Boeing 777 itu lepas landas dari Bandara Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pada pukul 00.41 waktu setempat, dan kontak terakhir dengan menara pengawas terjadi sekitar pukul 01.19. Pesawat kemudian menghilang dari radar sipil ketika memasuki wilayah udara Vietnam.
Rekaman radar militer Malaysia menunjukkan pesawat berbalik arah ke barat sebelum terbang menuju Samudra Hindia. Data handshake satelit Inmarsat menjadi dasar kesimpulan bahwa pesawat bergerak ke koridor selatan, yang kemudian membentuk zona pencarian utama selama bertahun-tahun.
Kementerian Transportasi Malaysia dalam keterangannya menjelaskan bahwa keputusan melanjutkan pencarian dilakukan untuk memberikan kepastian bagi keluarga penumpang serta menindaklanjuti temuan teknis yang mengarah pada area baru. Perkembangan terbaru ini menegaskan komitmen pemerintah Malaysia dalam memberikan penutup bagi keluarga yang terdampak.
Langkah ini mengikuti penandatanganan perjanjian antara pemerintah Malaysia dan Ocean Infinity pada 25 Maret 2025. Perusahaan itu sempat memulai pencarian pada Februari, namun operasi dihentikan pada April karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Menteri Transportasi Anthony Loke saat itu menyebutkan bahwa periode tersebut “bukan musimnya” untuk penyisiran dasar laut intensif.
Upaya pelacakan MH370 sejauh ini menjadi salah satu operasi pencarian terbesar dalam sejarah penerbangan. Pencarian awal yang dipimpin Australia menghabiskan waktu hampir tiga tahun dan mencakup area 120.000 kilometer persegi tanpa menemukan lokasi utama puing. Ocean Infinity juga pernah melakukan misi serupa pada 2018, menyisir lebih dari 112.000 kilometer persegi namun tidak memperoleh hasil signifikan.
Meski badan pesawat belum ditemukan, lebih dari 20 serpihan yang diyakini berasal dari MH370 terdampar di pesisir timur Afrika serta sejumlah pulau di Samudra Hindia, termasuk fragmen yang terkonfirmasi di Mozambik, Réunion, Tanzania, dan Mauritius. Temuan tersebut membantu mempersempit perkiraan jalur akhir pesawat, meski belum cukup untuk menentukan titik jatuhnya secara pasti.
Data satelit menunjukkan bahwa pesawat menyimpang dari jalur penerbangan awal dan bergerak ke arah selatan menuju wilayah terpencil. Informasi itu selama bertahun-tahun menjadi dasar pemetaan area pencarian, termasuk untuk misi terbaru yang akan dimulai kembali pada akhir Desember mendatang.
Pemerintah Malaysia menyebut penyisiran lanjutan ini akan menggabungkan teknologi pemetaan dasar laut terbaru yang diklaim dapat meningkatkan peluang identifikasi objek di kedalaman ekstrem.
Tidak ada penjelasan tambahan mengenai batas waktu perpanjangan operasi apabila target awal belum memberikan hasil. Namun demikian, otoritas Malaysia menyatakan bahwa seluruh keputusan lanjutan akan mempertimbangkan evaluasi teknis di lapangan serta temuan sementara selama operasi berlangsung.

0Komentar