Presiden Prancis Emmanuel Macron di depan Istana Élysée di Paris, Prancis, pada 17 November 2025. (Foto ilustrasi) | SARAH MEYSSONNIER / POOL / AFP


Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan kembali dukungan penuh Prancis dan Eropa terhadap Denmark serta Greenland, di tengah meningkatnya polemik diplomatik dengan Amerika Serikat terkait masa depan wilayah Arktik tersebut. 

Pernyataan itu disampaikan Macron pada Selasa (waktu setempat) melalui platform X, merespons langkah Presiden AS Donald Trump yang menunjuk Gubernur Louisiana Jeff Landry sebagai utusan khusus AS untuk Greenland.

Dalam unggahannya, Macron menyatakan solidaritas penuh kepada Denmark dan rakyat Greenland. Ia menegaskan bahwa Greenland merupakan milik rakyatnya dan bukan objek yang dapat diambil alih pihak lain. Macron juga menyinggung kunjungannya ke Nuuk pada Juni lalu, yang ia sebut sebagai simbol persatuan Eropa dalam menjaga kedaulatan wilayah Arktik.

Pernyataan Macron muncul sehari setelah Trump secara resmi menunjuk Jeff Landry sebagai utusan khusus AS untuk Greenland. Dalam berbagai pernyataan publik, Trump menyebut pulau yang kaya sumber daya mineral dan memiliki posisi strategis itu sebagai “esensial” bagi keamanan nasional AS. 

Sepanjang 2025, Trump memang berulang kali menyatakan minat untuk mengamankan kendali AS atas Greenland, termasuk dengan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

Langkah Washington tersebut memicu reaksi keras dari Kopenhagen. Pada Senin(22/12/2025), pemerintah Denmark memanggil Duta Besar AS untuk meminta penjelasan terkait penunjukan Landry. 

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen menyebut langkah tersebut “sangat mengganggu” dan menilai tujuan yang disampaikan Landry untuk menjadikan Greenland bagian dari AS sebagai tindakan yang sama sekali tidak dapat diterima.

Sikap tegas juga disampaikan dalam pernyataan bersama Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen. Keduanya menegaskan bahwa Greenland adalah milik rakyat Greenland dan tidak akan diambil alih oleh Amerika Serikat. Pernyataan ini dirilis di tengah meningkatnya tekanan diplomatik dan perhatian internasional terhadap kawasan Arktik.

Di sisi lain, Trump membela kebijakannya saat berbicara kepada wartawan di Mar-a-Lago pada Senin. Ia merujuk pada meningkatnya aktivitas angkatan laut Rusia dan Tiongkok di sekitar Greenland. 

“Kita membutuhkannya demi keamanan nasional. Kita harus memilikinya,” kata Trump, menurut laporan Al Jazeera. Ia kembali menekankan pentingnya pulau tersebut bagi kepentingan strategis AS di kawasan Arktik.

Respons Eropa datang secara kolektif. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menyatakan dukungan penuh terhadap Denmark dan Greenland. 

Uni Eropa menegaskan bahwa integritas teritorial merupakan prinsip dasar hukum internasional yang harus dihormati. Seorang juru bicara Uni Eropa menyebut kedaulatan Kerajaan Denmark sebagai hal yang penting bagi Uni Eropa, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Lebih jauh, pernyataan Macron memperkuat posisi Prancis sebagai salah satu suara utama Eropa dalam isu Greenland. Kunjungannya ke wilayah tersebut pada Juni lalu dicatat sebagai kunjungan pertama kepala negara asing sejak Trump kembali mengemukakan gagasan aneksasi. Media Eropa seperti Euronews menilai kunjungan itu sebagai sinyal politik dukungan Eropa terhadap Greenland di tengah meningkatnya tekanan dari Washington.

Polemik seputar Greenland kini mencerminkan perbedaan pandangan antara Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa, sekaligus menyoroti meningkatnya kepentingan strategis kawasan Arktik dalam dinamika keamanan dan persaingan global.