Potret Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Kamis (11/12/2025) pasca diterjang banjir pada Rabu (26/11/2025).


Majelis Agama Islam dan Adat Melayu Perlis (MAIPs) menyalurkan seluruh dana infak Shalat Jumat dari semua masjid di Negeri Perlis, Malaysia, untuk membantu korban banjir di Aceh. Kebijakan itu diberlakukan serentak pada pelaksanaan Shalat Jumat, 19 Desember 2025, sebagai bentuk solidaritas kemanusiaan lintas negara.

Keputusan tersebut diumumkan di tengah situasi darurat banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh sejak akhir November 2025. Bencana hidrometeorologi itu menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gelombang pengungsian dalam skala besar.

Raja Muda Perlis Tuanku Syed Faizuddin Putra Jamalullail menyatakan penyaluran dana infak itu dilandasi ikatan persaudaraan dan kedekatan historis antara masyarakat Perlis dan Aceh. 

Menurut dia, bantuan kemanusiaan tersebut diharapkan dapat meringankan beban warga terdampak sekaligus mempercepat proses pemulihan pascabencana.

“Bantuan ini digerakkan atas dasar kemanusiaan dan ukhuwah Islamiah, selain hubungan budaya Melayu yang telah lama terjalin antara Perlis dan Aceh,” kata Tuanku Syed Faizuddin dalam pernyataan yang disampaikan MAIPs dan dikutip sejumlah media Malaysia.

MAIPs menjelaskan, seluruh dana yang terkumpul dari kotak infak Shalat Jumat di masjid-masjid Perlis pada hari tersebut langsung dialokasikan untuk bantuan kemanusiaan Aceh. Penghimpunan dana dilakukan secara satu kali dan serentak, dengan kemungkinan penggalangan lanjutan melalui lembaga terkait.

Respons serupa juga datang dari organisasi masyarakat di Malaysia. Pergerakan Puteri Islam Malaysia (PPIM) mendorong pemerintah federal agar memfasilitasi pengiriman bantuan lintas negara secara lebih terkoordinasi agar penyaluran bantuan masyarakat tidak terkendala administrasi.

Sementara itu, pemerintah Malaysia menyatakan terus memantau dampak banjir di Aceh, termasuk kondisi warga negaranya di wilayah terdampak. Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan pemantauan dilakukan bersama perwakilan diplomatik Malaysia di Indonesia.

Berdasarkan data pemerintah Malaysia, terdapat 49 mahasiswa asal Malaysia yang berada di Aceh saat banjir terjadi. Sebanyak 25 mahasiswa telah kembali ke Malaysia, sementara 24 lainnya masih berada di Aceh. Seluruh mahasiswa tersebut dilaporkan dalam kondisi selamat.

Kementerian Pendidikan Tinggi Malaysia juga menyalurkan bantuan keuangan darurat sebesar RM500 per orang kepada para mahasiswa tersebut untuk mendukung kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat dan pemulihan awal.

“Keselamatan warga negara Malaysia menjadi prioritas. Kami terus berkoordinasi dengan otoritas Indonesia dan memastikan bantuan yang diperlukan dapat disalurkan,” ujar Mohamad Hasan dalam keterangan terpisah yang dikutip media pemerintah Malaysia, Bernama.

Selain mahasiswa, pemerintah Malaysia mencatat satu warga negara Malaysia dilaporkan hilang di wilayah Sumatra akibat rangkaian banjir dan longsor. Hingga pertengahan Desember 2025, proses pencarian masih berlangsung dan belum ada pembaruan resmi mengenai status korban tersebut.

Banjir bandang yang melanda Aceh merupakan bagian dari bencana hidrometeorologi besar di wilayah barat Sumatra. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Aceh menjadi daerah terdampak paling parah, dengan ratusan korban meninggal dunia, ribuan warga luka-luka, dan ratusan ribu orang mengungsi.

Selain Aceh, banjir dan longsor juga terjadi di Sumatra Utara dan Sumatra Barat. Hingga pertengahan Desember 2025, total korban jiwa di tiga provinsi tersebut dilaporkan menembus lebih dari 1.000 orang, dengan puluhan ribu rumah mengalami kerusakan berat hingga ringan.

BNPB menyebut hujan berintensitas tinggi sebagai faktor utama bencana. Sejumlah pakar lingkungan juga menyoroti kerusakan ekosistem di hulu daerah aliran sungai yang memperparah dampak banjir bandang di kawasan tersebut.

Di tengah situasi itu, bantuan dari luar negeri, termasuk dari Malaysia, terus berdatangan dalam berbagai bentuk, mulai dari bantuan logistik, dukungan keuangan, hingga penggalangan dana berbasis komunitas dan lembaga keagamaan. Inisiatif MAIPs menjadi salah satu bentuk dukungan kemanusiaan regional dalam fase tanggap darurat bencana Aceh.