Pesawat militer Tiongkok kembali melintasi garis median Selat Taiwan dan masuk ADIZ. Taiwan mengerahkan sistem pertahanan untuk pemantauan. | X/@MoNDefense

Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan melaporkan peningkatan aktivitas militer Tiongkok di sekitar wilayahnya pada Minggu (21/12). Otoritas pertahanan mendeteksi tujuh pesawat militer, tujuh kapal angkatan laut, serta satu kapal resmi Tiongkok yang beroperasi di dekat perairan teritorial Taiwan. 

Mengutip laporan Reuters, Lima pesawat di antaranya dilaporkan melintasi garis median Selat Taiwan dan masuk ke Air Defense Identification Zone (ADIZ) Taiwan di sektor utara dan barat daya.

Menurut keterangan resmi Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan, insiden tersebut terjadi pada Minggu (21/12) waktu setempat. Garis median Selat Taiwan selama ini dipandang sebagai batas tidak resmi antara kedua sisi, meski tidak diakui Beijing. 

Menyikapi pergerakan itu, Taiwan mengerahkan pesawat tempur, kapal angkatan laut, serta sistem rudal pesisir untuk memantau dan mengendalikan situasi.

Aktivitas pada Minggu itu berlangsung sehari setelah Taiwan mencatat keberadaan enam pesawat militer Tiongkok, 11 kapal angkatan laut, dan satu kapal resmi di sekitar pulau tersebut pada Sabtu. 

Dalam laporan resminya, Kementerian Pertahanan Nasional Taiwan menyebut sebagian pesawat pada akhir pekan itu juga melintasi garis median dan masuk ke ADIZ Taiwan, sehingga memicu respons pemantauan berlapis dari militer setempat.

Rangkaian insiden ini merupakan bagian dari pola aktivitas militer Tiongkok yang terus berlangsung sepanjang tahun. Hingga 15 Desember 2025, Taiwan mencatat 3.570 sortie pesawat militer Tiongkok di sekitar wilayah udaranya, melampaui catatan tahun 2024 yang mencapai 3.070 insiden. 

Biro Keamanan Nasional Taiwan juga melaporkan 39 patroli kesiapsiagaan tempur bersama yang dilakukan Tiongkok sepanjang tahun ini, yang dinilai bertujuan menguji sistem peringatan dini dan respons militer Taiwan.

Pada awal Desember lalu, Taiwan mencatat salah satu lonjakan aktivitas harian tertinggi dengan 40 sortie pesawat Tiongkok dalam kurun 24 jam. Sebanyak 26 di antaranya dilaporkan melintasi garis median Selat Taiwan. 

Pada periode yang sama, kapal induk terbaru Tiongkok, Fujian, juga terdeteksi melintas di Selat Taiwan, menambah intensitas kehadiran militer Beijing di kawasan tersebut.

Analis pertahanan internasional kerap menyebut pola operasi semacam ini sebagai taktik gray zone, istilah yang digunakan untuk menggambarkan aktivitas di ruang abu-abu antara operasi damai dan konflik bersenjata terbuka. Pendekatan ini dinilai memungkinkan tekanan berkelanjutan tanpa memicu konfrontasi militer langsung.

Peningkatan aktivitas militer Tiongkok itu terjadi di tengah perkembangan hubungan Taiwan dengan Amerika Serikat. 

Pada 18 Desember, Washington menyetujui penjualan senjata senilai US$11,15 miliar kepada Taiwan, yang disebut sebagai paket terbesar yang pernah ditawarkan kepada pulau tersebut. 

Paket itu mencakup High Mobility Artillery Rocket Systems, howitzer swagerak, rudal antitank, serta kendaraan udara otonom untuk memperkuat kemampuan pertahanan asimetris Taiwan.

Kementerian Luar Negeri China menanggapi kesepakatan tersebut dengan kecaman. Dalam pernyataan resminya, Beijing menyebut penjualan senjata itu melanggar prinsip satu China dan dinilai mengirim sinyal yang salah kepada pihak-pihak yang mendorong kemerdekaan Taiwan.