Banjir besar Sumatra akan menekan ekonomi kuartal IV 2025. Kondisi pascabencana menjadi dampak jangka panjang yang sulit pulih tanpa bantuan intensif. | AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN


Pemerintah Indonesia menyalurkan bantuan darurat senilai Rp66,7 miliar bagi korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hingga Minggu (7/12/2025). Berdasarkan laporan BNPB, bencana yang terjadi di 52 kabupaten/kota itu menyebabkan 916 orang meninggal, 274 hilang, 4.200 luka-luka, serta lebih dari 105.900 rumah rusak. 

Di tengah penanganan darurat, pemerintah pusat tetap memproyeksikan pertumbuhan ekonomi nasional kuartal IV-2025 berada di atas 5,5 persen, meski ekonom menilai dampaknya dapat menggerus kinerja ekonomi hingga 0,27 persen.

Distribusi bantuan dan respons darurat

Mengacu pada data Kementerian Sosial, bantuan Rp66,7 miliar mencakup dukungan logistik, pendirian 39 dapur umum, dan pengerahan 648 personel Tagana di seluruh wilayah terdampak. 

Dalam keterangan resminya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyebut koordinasi dilakukan bersama BNPB, TNI, Polri, serta pemerintah daerah untuk memastikan distribusi merata.

Di Aceh, nilai bantuan mencapai Rp22,6 miliar dengan operasi 21 dapur umum yang memproduksi sekitar 109.224 porsi makanan per hari bagi 747 ribu pengungsi. Sumatera Utara menerima Rp26,7 miliar dengan delapan dapur umum berkapasitas 22.960 porsi per hari. Adapun Sumatera Barat mendapat Rp17,3 miliar melalui 10 dapur umum yang menghasilkan 285.611 porsi makanan per hari.

Sementara itu, Menko PMK Pratikno menjelaskan pemerintah telah mengirimkan lebih dari 500 ribu ton bantuan yang mencakup sembako, makanan siap saji, obat-obatan, tenda, dan selimut. Lebih dari 50 helikopter TNI, Polri, dan BNPB dikerahkan untuk menjangkau wilayah yang masih terisolasi seperti Aceh Tamiang, Langkat, dan Aceh Tengah.

Jika ditarik ke belakang, langkah percepatan bantuan ini muncul setelah akses darat di sejumlah titik terputus akibat longsor dan banjir bandang. Situasi tersebut menyebabkan distribusi logistik bergantung pada jalur udara.

Optimisme pemerintah di tengah tekanan ekonomi

Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bencana diperkirakan berdampak pada pertumbuhan kuartal IV-2025. Meski begitu, ia menilai aktivitas pemulihan dan rekonstruksi berpotensi menahan pelemahan ekonomi, sehingga proyeksi pertumbuhan berada pada kisaran 5,6–5,7 persen.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menambahkan pemerintah tetap menjaga target pertumbuhan nasional 2025 pada rentang 5,4–5,6 persen. 

Skema relaksasi keuangan, termasuk restrukturisasi dan penghapusan kredit macet bagi pelaku UMKM di wilayah terdampak, tengah disiapkan untuk mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi lokal.


Namun demikian, perhitungan dari Indef menunjukkan dampak ekonomi bencana dapat menekan pertumbuhan kuartal IV-2025 hingga ke level 4,73 persen. Data tersebut juga memperkirakan potensi kerugian ekonomi mencapai Rp32,6 triliun. 

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan efek terhadap PDB diperkirakan berada pada kisaran 0,08–0,12 persen, mengingat kontribusi ekonomi Sumatra mencapai 22–24 persen terhadap nasional.

Secara umum, situasi ini masih dipantau oleh pemerintah pusat dan otoritas daerah sembari menunggu pemutakhiran data kerusakan serta perkembangan pemulihan layanan dasar di wilayah terdampak.