Karang Subi (Subi Reef), sebuah pulau buatan yang dibangun oleh Tiongkok di Kepulauan Spratly, Laut Cina Selatan. | Getty Images/Ezra Acayan


Tiongkok meningkatkan sistem pengawasan dan perang elektronik di tiga pulau buatan di Kepulauan Spratly sepanjang 2023–2024, berdasarkan analisis citra satelit Asia Maritime Transparency Initiative (AMTI) yang dirilis Selasa. Pemutakhiran ini terlihat di Terumbu Mischief, Subi, dan Fiery Cross, yang menjadi bagian dari wilayah sengketa di Laut China Selatan.

AMTI mengidentifikasi penambahan situs radar, jaringan antena baru, serta struktur pertahanan yang diperkuat. Selain itu, terpasang sedikitnya enam jaringan antena beraspal dan unit kendaraan bergerak yang membawa peralatan pengganggu sinyal dan sensor elektromagnetik. 

Menurut laporan tersebut, instalasi ini dirancang untuk meningkatkan kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian Tiongkok, sekaligus memungkinkan Beijing memperebutkan penggunaan spektrum elektromagnetik jika terjadi konflik.

Dalam keterangan analisis itu, AMTI menyebut peningkatan fasilitas tersebut menegaskan fungsi utama pangkalan Tiongkok sebagai pusat cakupan intelijen yang luas di kawasan, mendukung operasi penjaga pantai dan angkatan laut selama masa damai.

Perkembangan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, di mana klaim maritim Tiongkok tumpang tindih dengan Filipina, Vietnam, Malaysia, serta negara lain. Mengacu pada catatan lembaga internasional, kawasan tersebut merupakan jalur vital perdagangan global dengan nilai lebih dari 3 triliun dolar AS setiap tahun.

Jika ditarik ke belakang, tiga pulau buatan itu dibangun melalui reklamasi antara 2013 dan 2016. Ketiganya kini memiliki landasan pacu, pelabuhan, dan fasilitas militer. 

Berdasarkan laporan AMTI sebelumnya, susunan antena terbaru diarahkan langsung ke laut dengan garis pandang terbuka, sementara kelompok kendaraan menyerupai sistem perang elektronik mobile yang dimiliki militer Tiongkok.

Di sisi lain, insiden antara kapal Filipina dan kapal penjaga pantai Tiongkok meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan laporan sejumlah media internasional, kapal Tiongkok menabrak dan menggunakan meriam air terhadap kapal Filipina di dekat Pulau Thitu pada Oktober, mendorong Manila menyebut tindakan itu sebagai ancaman terhadap keselamatan pelaut mereka.

Amerika Serikat memperluas operasi pengawasannya sebagai respons. Menurut keterangan pejabat Gedung Putih, klaim Tiongkok dinilai semakin koersif, sementara Washington menegaskan kembali komitmen pertahanan terhadap Filipina melalui Mutual Defense Treaty 1951.

Sementara itu, Vietnam mempercepat reklamasi di beberapa fitur di Spratly sejak Juni 2024. Mengacu pada data AMTI, lebih dari 640 hektare lahan baru terbentuk dalam kurun satu tahun, yang dinilai analis sebagai langkah defensif atas ekspansi Tiongkok di kawasan.

Situasi ini sejauh ini terus menjadi perhatian negara-negara regional dan mitra keamanan internasional, sementara perkembangan lanjutan bergantung pada dinamika di lapangan dan respons masing-masing pihak.