![]() |
| pesawat tempur multiperan General Dynamics F-16 Fighting Falcon. | USAF |
Thailand meluncurkan serangan udara menggunakan jet tempur F-16 ke tiga posisi militer Kamboja pada Senin (8/12/2025) di sepanjang perbatasan Ubon Ratchathani–Preah Vihear, setelah bentrokan pagi hari menewaskan seorang tentara Thailand dan melukai empat lainnya.
Berdasarkan laporan militer Thailand, langkah ini diambil setelah pos mereka diklaim mendapat tembakan artileri dari Kamboja sekitar pukul 05.00 waktu setempat.
Serangan tersebut diarahkan ke posisi artileri dan pos komando Kamboja yang disebut digunakan untuk mengarahkan tembakan ke wilayah Thailand. Sejauh ini, pemerintah Thailand mengevakuasi lebih dari 385.000 warga dari empat distrik perbatasan, dengan sekitar 35.000 orang telah berada di lokasi pengungsian.
Di sisi lain, Kamboja membantah memulai serangan dan menyebut pasukan Thailand menembak berkali-kali menggunakan tank di dekat area candi.
“Pasukan kami tidak membalas,” ujar juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Maly Socheata. Hun Sen turut menyerukan pengekangan agar bentrokan tidak meluas.
Perkembangan ini berawal dari rapuhnya perjanjian gencatan senjata yang disepakati di Kuala Lumpur pada 26 Oktober. Kesepakatan itu dimediasi Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, menyusul konflik lima hari pada Juli yang menewaskan sedikitnya 48 orang dan mengungsikan sekitar 300.000 warga.
Namun demikian, gencatan tersebut mulai goyah pada November ketika Thailand menangguhkan implementasinya setelah insiden ranjau yang melukai tentaranya.
Jika ditarik ke belakang, sengketa perbatasan Thailand–Kamboja telah berlangsung lebih dari satu abad dengan beberapa titik rawan di sepanjang garis batas 817 kilometer.
Malaysia, selaku ketua ASEAN, sejauh ini konsisten menjadi mediator dengan dukungan Amerika Serikat dan China. Situasi terbaru ini masih dipantau oleh otoritas kawasan seiring upaya meredakan bentrokan agar tidak berdampak lebih luas.

0Komentar