![]() |
| menara pendingin pembangkit listrik tenaga nuklir Cofrentes, Spanyol. | Roberto Uderio/Wikimedia Commons |
Jepang menarik diri dari rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Ninh Thuan 2 di Vietnam setelah menilai jadwal konstruksi tidak dapat dipenuhi. Keputusan itu disampaikan Duta Besar Jepang untuk Vietnam, Naoki Ito, dalam wawancara dengan Reuters pada awal Desember 2025.
Ia menyebut Jepang tidak berada dalam posisi untuk melaksanakan proyek berkapasitas 2–3,2 gigawatt tersebut setelah evaluasi bersama pemerintah Vietnam pada November lalu.
Perkembangan ini berawal dari kelanjutan program nuklir Vietnam yang diaktifkan kembali pada 2024. Berdasarkan laporan sejumlah lembaga, Hanoi sebelumnya menghentikan proyek Ninh Thuan pada 2016 akibat keterbatasan anggaran dan isu keselamatan.
Sejak kembali dibuka, pemerintah meminta Jepang dan Rusia yang masing-masing memegang Ninh Thuan 2 dan Ninh Thuan 1 untuk meneruskan pembangunan. Namun sejauh ini, tidak ada perjanjian final yang diteken untuk kedua fasilitas tersebut.
Menurut catatan industri, keputusan Jepang mundur terjadi di tengah tekanan pasokan listrik yang terus membebani kawasan industri Vietnam. Dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut menghadapi pemadaman besar karena permintaan dari sektor manufaktur yang tumbuh pesat melampaui kapasitas pembangkit. Efeknya terlihat dari gangguan produksi di fasilitas Samsung, Apple, hingga Foxconn.
Situasi tersebut terjadi akibat ketergantungan Vietnam pada pasokan batu bara dan gas yang belum stabil, sementara ekspansi energi terbarukan menghadapi hambatan regulasi dan harga.
“Istimewa, kami tidak dapat memenuhi tenggat 2035,” ujar Dubes Ito. Ia menambahkan bahwa Jepang masih terbuka untuk mengeksplorasi opsi teknologi lain, termasuk reaktor modular kecil pada tahap selanjutnya.
Mengacu pada laporan Reuters, rendahnya minat perusahaan Jepang juga dipengaruhi fokus domestik untuk membenahi kembali tenaga kerja dan sistem nuklir nasional pasca peristiwa Fukushima 2011.
Di sisi lain, sejumlah investor dari Prancis, Korea Selatan, dan Amerika Serikat disebut telah menyatakan minat terhadap proyek Ninh Thuan.
Namun demikian, Kementerian Industri Vietnam dan Petrovietnam sebagai mitra lokal belum memberikan tanggapan resmi. Seorang pejabat Vietnam mengonfirmasi bahwa proyek Ninh Thuan 1 yang semula dikerjakan Rusia juga belum memiliki kesepakatan final.
Perkembangan ini muncul pada periode hubungan Jepang–Vietnam yang tengah diuji, mengacu pada laporan mengenai perbedaan pandangan terkait rencana pelarangan sepeda motor bensin di pusat Kota Hanoi yang menimbulkan keberatan dari Honda.

0Komentar