![]() |
| Bus Listrik Transjakarta yang tiba di sebuah halte di Jakarta, Indonesia. |
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menargetkan ibu kota masuk jajaran 50 global leading cities pada 2030 melalui percepatan transformasi transportasi publik. Target tersebut disampaikan Pramono dalam kunjungan kerja ke Berlin, Jerman, yang berlangsung pada 22–30 November 2025, di sela agenda sebagai pembicara utama di AsiaBerlin Summit 2025.
Pemerintah Provinsi DKI menilai pembaruan sistem mobilitas perkotaan menjadi kunci pengurangan kemacetan dan peningkatan daya saing kota.
Pramono menyebutkan tiga prioritas pembaruan yang sedang dijalankan, yaitu peningkatan kualitas transportasi publik, penguatan kebijakan transisi energi, serta pembangunan ruang terbuka hijau.
Rencana konkret meliputi perluasan jaringan Transjabodetabek ke tujuh daerah penyangga serta peningkatan bus listrik dari 420 unit saat ini menjadi 10.047 unit pada 2030. Upaya tersebut sejalan dengan dorongan untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi di wilayah metropolitan Jakarta.
Dalam keterangan yang disampaikan di Berlin, Pramono menjelaskan bahwa model transportasi publik terintegrasi di kota-kota Eropa menjadi rujukan dalam pengembangan layanan di Indonesia.
“Kita ingin memastikan seluruh moda terhubung satu sama lain secara efisien dan mudah diakses masyarakat,” ujar Pramono.
Revitalisasi transportasi: dari Trem hingga MRT
Jakarta memiliki sejarah panjang dalam pengembangan transportasi massal. Pada era kolonial, trem menjadi moda utama di Batavia sejak akhir abad ke-19 hingga operasinya dihentikan pada 1962, sebelum digantikan bus kota yang mulai populer pada 1956. Pada masa jayanya, jalanan ibu kota dipadati bus tingkat, Metro Mini, Kopaja, hingga bemo yang melayani berbagai trayek perkotaan.
Revitalisasi angkutan berbasis rel mulai bergulir pada 1970-an ketika pemerintah mendatangkan kereta rel listrik dari Jepang. Bisnis Indonesia edisi 1 April 1987 mencatat elektrifikasi mencakup 15 jalur dengan frekuensi perjalanan setiap 30 menit dan waktu tempuh 90 menit.
“Jalur itu sendiri sudah ada sejak lama. Hanya elektrifikasinya yang baru rampung,” ujar Direktur Jenderal Perhubungan Darat saat itu, Giri Suseno.
Era modern ditandai dengan peluncuran Transjakarta yang diinisiasi Gubernur Sutiyoso pada 2001 dan resmi beroperasi pada 15 Januari 2004, mengacu pada sistem Transmilenio di Bogotá. Saat ini Transjakarta memiliki 13 koridor dan melayani kawasan Jabodetabek.
Pengembangan angkutan berbasis rel berlanjut melalui pembangunan MRT Jakarta fase 1 yang dimulai 2013 dan beroperasi pada 24 Maret 2019. Proyek MRT fase 2A kini mencapai 52,27 persen dan ditargetkan menyelesaikan segmen pertama pada 2027.
Modernisasi era Pramono Anung
Modernisasi transportasi publik turut diperkuat melalui peningkatan layanan KAI Commuter. Perusahaan telah mengoperasikan 11 rangkaian KRL baru seri CLI-125 yang dilengkapi teknologi Train Control Monitoring System untuk meningkatkan keselamatan.
Selain itu, Presiden Prabowo Subianto meresmikan Stasiun Tanah Abang Baru pada 4 November 2025, yang meningkatkan kapasitas pelayanan penumpang dari 141.000 menjadi 380.000 penumpang per hari.
Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, menyebut integrasi moda Transjakarta, MRT, LRT, dan JakLingko menunjukkan kemajuan signifikan dalam mobilitas perkotaan.
“Kami melihat perubahan besar dalam cara warga Jakarta berpindah dan menggunakan transportasi publik,” ujar Gerritsen dikutip Detik News.
Sistem JakLingko yang mulai diimplementasikan sejak era Gubernur Anies Baswedan juga terus diperkuat melalui tarif integrasi maksimal Rp10.000 per perjalanan untuk kombinasi moda urban. Pramono menyebut penggunaan transportasi umum meningkat dari rata-rata 21 persen dan ditargetkan mencapai 24–25 persen pada periode berikutnya.
Transformasi yang tengah berlangsung dipandang sebagai bagian dari upaya penataan kota menuju standar metropolitan global, dengan fokus pada layanan transportasi terintegrasi, efisiensi mobilitas, dan pengendalian penggunaan kendaraan pribadi.

0Komentar