![]() |
| Foto Presiden Donald Trump menyambut Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih pada 14 Februari 2025. | Dan Scavino/Wikimedia Commons |
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyiapkan sejumlah opsi militer untuk disampaikan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Langkah ini didorong penilaian Israel bahwa Teheran dengan cepat membangun kembali kapasitas produksi rudal balistik yang sempat rusak akibat serangan militer pada pertengahan tahun.
Rencana tersebut akan dibahas dalam pertemuan Netanyahu dan Trump yang dijadwalkan berlangsung pada 29 Desember di Mar-a-Lago, Florida. Dalam pertemuan itu, Netanyahu diperkirakan menekankan bahwa percepatan produksi rudal Iran kini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Israel.
Menurut laporan NBC News, opsi yang disiapkan mencakup berbagai skenario, mulai dari operasi militer sepihak oleh Israel hingga kerja sama penuh dengan Amerika Serikat. Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut opsi-opsi itu serupa dengan proposal yang pernah diajukan Netanyahu kepada Trump dalam pertemuan mereka pada Februari lalu.
Dorongan ini muncul di tengah penilaian internal militer Israel bahwa Iran telah kembali memproduksi rudal balistik dalam skala besar.
Dalam pengarahan tertutup kepada anggota parlemen, pejabat pertahanan Israel menyatakan pemulihan produksi dimulai sekitar enam bulan setelah perang 12 hari pada Juni. Iran juga dinilai bergerak cepat memperbaiki fasilitas produksi rudal dan sistem pertahanan udara yang sebelumnya mengalami kerusakan.
Bagi Israel, kebangkitan kapasitas rudal Iran saat ini dinilai lebih mendesak dibandingkan upaya rekonstruksi fasilitas pengayaan nuklir. Seorang sumber yang mengetahui pembahasan internal Israel mengatakan kepada Reuters bahwa meski program nuklir Iran tetap menjadi perhatian, ancaman terdekat justru berasal dari kemampuan rudal yang dapat digunakan untuk melindungi situs-situs strategis negara tersebut.
“Program senjata nuklir tentu mengkhawatirkan dan ada upaya untuk merekonstitusinya, tetapi saat ini itu tidak dianggap paling mendesak,” ujar sumber tersebut.
Ia menambahkan, produksi rudal yang berlangsung terus-menerus memberi Iran kapasitas penangkal yang lebih kuat dalam jangka pendek.
Penilaian itu sejalan dengan pernyataan terbuka otoritas Iran yang menyebut persediaan rudal mereka kini melampaui tingkat sebelum perang. Sejumlah laporan media internasional, mengutip sumber keamanan Israel, menyebut fasilitas produksi Iran beroperasi hampir tanpa henti. Dalam perkiraan militer Israel, jika tidak ditekan, produksi rudal Iran berpotensi meningkat hingga sekitar 3.000 unit per tahun.
Di sisi lain, pemerintahan Trump mempertahankan penilaian bahwa serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran pada Juni lalu telah melumpuhkan kemampuan nuklir Teheran. Operasi yang diberi nama Operation Midnight Hammer itu, menurut Gedung Putih, berhasil “sepenuhnya melenyapkan” infrastruktur kunci program nuklir Iran.
Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menyebut penilaian tersebut didukung oleh informasi dari International Atomic Energy Agency (IAEA) serta pernyataan pemerintah Iran sendiri.
Meski demikian, IAEA masih mendesak Iran untuk membuka akses ke sejumlah fasilitas nuklir yang rusak, termasuk di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Badan tersebut menyatakan perlu melakukan verifikasi independen untuk memastikan kondisi aktual di lapangan, terutama terkait klaim keamanan dan tingkat kerusakan fasilitas pascaserangan.
Upaya Netanyahu menyiapkan opsi militer berlangsung di tengah sinyal terbukanya kembali jalur diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat. Dalam beberapa pekan terakhir, Teheran menyatakan minat melanjutkan pembicaraan dengan Washington, sebuah perkembangan yang berpotensi memengaruhi dinamika kebijakan keamanan kawasan.
Pada saat yang sama, Trump juga tengah mendorong fase kedua rencana gencatan senjata di Gaza. Tahap lanjutan ini, menurut pernyataan resmi pemerintah AS dan Israel, akan berfokus pada pelucutan senjata Hamas serta agenda rekonstruksi wilayah tersebut.
Kondisi gencatan senjata yang masih rapuh membuat Gedung Putih harus menyeimbangkan prioritas antara stabilitas regional dan tekanan keamanan dari sekutu utamanya di Timur Tengah.
Israel menilai peningkatan produksi rudal Iran berpotensi mengubah kalkulasi keamanan kawasan. Rudal-rudal tersebut dinilai tidak hanya memperkuat kemampuan ofensif Teheran, tetapi juga meningkatkan perlindungan terhadap fasilitas strategisnya, termasuk lokasi pengayaan nuklir yang tetap menjadi perhatian komunitas internasional.

0Komentar