![]() |
| kapal eksperimental Pasukan Bela Diri Maritim Jepang (JMSDF) JS Asuka (ASE-6102). | JMSDF |
Jepang resmi memasang sistem senjata laser berdaya 100 kilowatt di kapal perang eksperimental JS Asuka, menandai lompatan penting dalam modernisasi pertahanan maritimnya di tengah meningkatnya ketegangan dengan China terkait Taiwan. Pemasangan ini dikonfirmasi Badan Akuisisi, Teknologi dan Logistik Jepang (ATLA) pada 2 Desember.
Sistem laser berenergi tinggi tersebut dipasang di kapal uji coba berbobot sekitar 6.200 ton yang saat ini berada di galangan Japan Marine United. Senjata ini dikembangkan Kawasaki Heavy Industries sejak 2018 dan dirancang untuk menghadapi ancaman udara jarak dekat, termasuk drone dan proyektil berkecepatan rendah. Uji coba laut dalam kondisi maritim nyata dijadwalkan dimulai setelah 27 Februari 2026, sebagaimana tercantum dalam materi dukungan teknis ATLA.
Secara teknis, sistem ini menggabungkan 10 fiber laser menjadi satu berkas terfokus dengan daya 100 kilowatt. Perangkat tersebut tampak dalam dua modul berkubah sepanjang sekitar 40 kaki di geladak JS Asuka.
Dalam pengujian berbasis darat awal tahun ini, sistem ini dilaporkan mampu memotong logam serta menetralkan drone udara dan peluru mortir, menurut laporan Live Science dan Interesting Engineering yang mengutip pejabat pertahanan Jepang.
ATLA menjelaskan keunggulan utama senjata ini adalah “kedalaman magasin tidak terbatas” karena tidak bergantung pada amunisi fisik.
“Dengan daya listrik yang memadai, sistem dapat terus melibatkan target tanpa kehabisan amunisi,” kata pejabat ATLA dalam penjelasan teknis lembaga tersebut.
Biaya per tembakan juga dinilai jauh lebih rendah dibandingkan sistem pertahanan udara konvensional berbasis rudal.
![]() |
| Senjata laser berdaya 100 kilowatt di kapal perang eksperimental JS Asuka. | JMSDF |
Penempatan sistem laser ini berlangsung saat hubungan Tokyo–Beijing berada dalam fase sensitif. Pada 7 November, Perdana Menteri Sanae Takaichi menyatakan di parlemen bahwa tindakan militer China terhadap Taiwan, termasuk kemungkinan blokade laut, dapat menjadi “situasi yang mengancam kelangsungan hidup” Jepang dan berpotensi membenarkan intervensi militer. Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Beijing.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi menilai Jepang telah “melewati garis merah”. Pemerintah China kemudian mengirim surat ke Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menuduh Tokyo mengancam intervensi bersenjata dan melanggar hukum internasional, sebagaimana dilaporkan sejumlah media internasional, termasuk The Guardian dan Le Monde.
Di sisi lain, Jepang menempatkan pengembangan senjata energi terarah sebagai bagian dari Program Penguatan Pertahanan nasional. Untuk tahun fiskal 2025, kabinet Jepang menyetujui anggaran pertahanan sebesar 8,7 triliun yen atau sekitar US$55,1 miliar, naik 9,4% dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah menyebut peningkatan ini sebagai respons atas lingkungan keamanan yang dinilai semakin kompleks.
Situasi kawasan juga diwarnai insiden militer. Pada 6 Desember, jet tempur J-15 China dari kapal induk Liaoning dilaporkan dua kali mengunci radar ke arah pesawat Jepang dalam manuver yang dinilai berisiko. Jepang merespons dengan langkah siaga dari pangkalan militernya di Okinawa. China turut mengeluarkan peringatan perjalanan bagi warganya ke Jepang serta membatasi impor makanan laut dan kegiatan budaya.
Pengembangan sistem laser Jepang menempatkan negara itu sejajar dengan sejumlah kekuatan militer lain yang lebih dulu menguji senjata energi terarah. Amerika Serikat mengoperasikan sistem HELIOS berdaya 60 kilowatt, Inggris mengembangkan DragonFire 50 kilowatt, sementara Israel menyiapkan Iron Beam yang ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun ini.
Sumber internal ATLA menyebutkan versi lanjutan dari sistem ini berpeluang mengintegrasikan kecerdasan buatan untuk membantu prioritas target secara otonom. Teknologi tersebut dipertimbangkan untuk diterapkan di kapal perang garis depan, termasuk kapal perusak Aegis kelas Maya dan fregat multi-misi kelas Mogami, seiring evaluasi hasil uji coba laut yang akan datang.



0Komentar