Aktivitas bongkar muat kapal kargo di pelabuhan. | Unsplash/@hamburgmrinefreundin


Indonesia menyatakan telah merampungkan seluruh isu yang sempat tertunda dalam perundingan perdagangan dengan Amerika Serikat dan menargetkan penandatanganan kesepakatan pada akhir Januari. 

Kepastian ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai pertemuan dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer di Washington, Senin waktu setempat, setelah proses negosiasi berbulan-bulan yang sempat diwarnai ketidakpastian.

Airlangga menyebut kedua negara telah mencapai kesepakatan atas isu-isu krusial dalam rancangan perjanjian. Terobosan tersebut dicapai setelah pembicaraan nyaris tersendat beberapa pekan lalu, menyusul tudingan dari pejabat AS bahwa Indonesia mundur dari sejumlah komitmen awal.

Kesepakatan ini berangkat dari kerangka kerja yang diumumkan pada Juli 2025, ketika Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump sepakat meredam potensi kenaikan tarif. Dalam pengaturan itu, AS menurunkan tarif yang semula diusulkan sebesar 32% menjadi 19% untuk produk Indonesia, dibandingkan rata-rata tarif sekitar 5% pada 2024. 

Sebagai timbal balik, Indonesia menyetujui penghapusan tarif atas lebih dari 99% produk AS serta pencabutan berbagai hambatan non-tarif yang selama ini dikeluhkan pelaku usaha Amerika, sebagaimana diberitakan Reuters.

Indonesia juga berkomitmen meningkatkan pembelian energi, produk pertanian, dan pesawat Boeing dari AS dengan nilai sekitar US$19 miliar. Perjanjian tersebut turut mencakup isu perdagangan digital, termasuk penghapusan tarif atas transmisi elektronik dan pengakuan terhadap standar perlindungan data AS.

Dalam pernyataannya, Airlangga mengatakan kesepakatan itu mencerminkan titik temu kepentingan kedua pihak setelah melalui pembahasan intensif di tingkat teknis. Ia menjelaskan, bahasa hukum perjanjian dirampungkan melalui pengiriman tim teknis Indonesia ke Washington dalam beberapa pekan terakhir.

Hubungan dagang Indonesia–AS memiliki bobot signifikan. Nilai perdagangan barang kedua negara mencapai sekitar US$39,74 miliar pada 2024, dengan defisit di pihak AS sekitar US$18 miliar. 

Indonesia mencatat ekspor senilai US$26,37 miliar ke AS pada periode yang sama, menjadikan Amerika Serikat salah satu mitra dagang utama Indonesia, berdasarkan data USTR dan Trading Economics.

Sejumlah sektor domestik sebelumnya berada di bawah tekanan akibat ancaman tarif yang lebih tinggi, terutama tekstil, alas kaki, dan elektronik. AS menyerap sekitar 40% ekspor tekstil dan garmen Indonesia. 

Pelaku industri sempat memperingatkan potensi pemutusan hubungan kerja puluhan ribu pekerja jika tarif 32% diberlakukan, sebagaimana dilaporkan Business & Human Rights Resource Centre.

Rangkaian pertemuan pada Desember di Washington berlangsung di tengah sinyal keras dari pejabat AS yang menyebut kesepakatan berisiko gagal. Namun, setelah isu-isu sensitif diselesaikan, Indonesia dan AS kini memasuki tahap finalisasi hukum. 

Airlangga mengindikasikan Presiden Prabowo dan Presiden Trump berpeluang hadir langsung dalam penandatanganan Perjanjian Perdagangan Timbal Balik tersebut setelah seluruh formalitas rampung.

Kesepakatan ini menjadi salah satu agenda perdagangan awal pemerintahan Trump, menyusul perjanjian serupa dengan Inggris Raya, Vietnam, dan Filipina. Di sisi Indonesia, pemerintah memandang rampungnya perundingan ini penting untuk meredam ketidakpastian ekonomi di tengah target pertumbuhan hingga 2029.