Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. | ekon.go.id

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan Amerika Serikat meminta akses terhadap mineral kritis Indonesia sebagai bagian dari kesepakatan dagang bilateral yang dijadwalkan ditandatangani akhir Januari 2026. Permintaan itu muncul bersamaan dengan pembebasan tarif AS untuk komoditas unggulan Indonesia seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan teh.

"AS memberikan pengecualian tarif untuk produk unggulan kita, seperti sawit, kopi, teh, sedangkan AS mengharapkan dapat akses ke critical mineral," ujar Airlangga saat konferensi pers di Washington, Selasa (23/12/2025).

Kesepakatan ini merupakan kelanjutan dari perundingan yang dimulai sejak Juli 2025, ketika tarif AS terhadap produk Indonesia diturunkan dari 32% menjadi 19%. Pertemuan terbaru antara Airlangga dan Ambassador United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer menyepakati penyelesaian dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART) sebelum akhir Januari 2026. 

Tim teknis kedua negara dijadwalkan bertemu kembali pada minggu kedua Januari untuk finalisasi dokumen, dengan target penandatanganan resmi oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump.

Indonesia menempati posisi strategis dalam rantai pasok mineral kritis global. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan Indonesia menguasai sekitar 42% cadangan nikel dunia, 16,3% timah, dan 7,18% kobalt. Meski begitu, sekitar 70% kapasitas pengolahan nikel saat ini dikuasai oleh investasi China. 

Kesepakatan dengan AS berpotensi membuka diversifikasi investasi di sektor hilirisasi mineral kritis, sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat industri pengolahan dalam negeri.

Duta Besar Indonesia untuk AS, Dwisuryo Indroyono Soesilo, menyatakan Kedutaan Besar RI di Washington DC tengah melakukan persiapan intensif menjelang kunjungan Presiden Prabowo pada akhir Januari 2026.

Kesepakatan ini diharapkan mendorong penguatan perdagangan bilateral sekaligus memberi peluang bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi mineral kritis yang dimiliki.