seorang pekerja yang sedang memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke dalam truk untuk diangkut. |  Wikipedia


Harga referensi minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) serta batu bara Indonesia kembali terkoreksi pada Desember 2025. Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi CPO bulan ini sebesar US$926,14 per metrik ton, turun 3,9 persen dari November yang berada di US$963,75 per metrik ton. 

Penetapan disampaikan di Jakarta pada Selasa (2/12/2025) dan menandai penurunan paling tajam dalam beberapa bulan terakhir, dipicu pelemahan permintaan global dan tekanan harga minyak nabati lain.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, menjelaskan koreksi harga turut dipengaruhi melemahnya permintaan dari India yang merupakan importir utama, penguatan dolar AS, serta penurunan harga minyak mentah dunia. 

“Penurunan harga minyak nabati lain seperti minyak kedelai serta melemahnya permintaan dari negara importir utama seperti India. Penurunan juga dipengaruhi penguatan nilai dolar Amerika Serikat serta turunnya harga minyak mentah dunia,” ujar Tommy dalam keterangan resminya.

Batu bara ikut tertekan

Di sisi lain, sektor batu bara menghadapi tekanan serupa. Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama Desember 2025 untuk kalori tinggi ditetapkan di US$98,26 per ton, lebih rendah dari periode sebelumnya yang tercatat US$102,03 per ton. Di pasar ICE Newcastle, harga untuk kontrak Januari ditutup pada US$108,35 per ton pada perdagangan Senin (1/12/2025), melemah 1,86 persen.

Data perdagangan menunjukkan ekspor batu bara Indonesia sepanjang Januari–Oktober 2025 mencapai US$20,09 miliar, turun 20,25 persen secara tahunan. Dari sisi volume, pengiriman terkoreksi 4,10 persen menjadi 320,47 juta ton. Kondisi ini menjadi indikasi pelemahan permintaan dari negara tujuan utama, khususnya China dan India, seiring peningkatan kapasitas energi terbarukan.

PT Bumi Resources Tbk memproyeksikan harga batu bara masih akan bergerak stagnan pada 2026 karena surplus pasokan global. Direktur Bumi Resources, Maringan M. Ido Hotna Hutabarat, menyebutkan kinerja pendapatan perseroan tidak akan berubah signifikan tanpa adanya kenaikan impor dari China. 

“Harga tidak akan bergerak jauh karena market masih surplus sehingga dari sisi pendapatan, revenue akan kurang lebih sama di tahun 2026–2025, kecuali jika memang China meningkatkan kembali impor batubaranya,” kata Maringan.

Koreksi harga batu bara turut berkaitan dengan perubahan struktural permintaan global. China dan India yang selama ini menyumbang sekitar 60 persen perdagangan batu bara Indonesia mulai menekan konsumsi seiring akselerasi transisi energi di sektor ketenagalistrikan. Lembaga riset Ember memperkirakan permintaan batu bara Indonesia turun sekitar 10 persen pada 2025.

Sektor Sawit Lebih Tahan Banting

Berbeda dengan batu bara, ekspor CPO dan produk turunannya justru mengalami kenaikan. BPS mencatat nilai ekspor sawit pada Januari–Oktober 2025 mencapai US$20,20 miliar, naik 25,73 persen secara kumulatif. 

Meski permintaan jangka pendek dari India melemah akibat peralihan ke minyak kedelai yang lebih murah, proyeksi jangka panjang menunjukkan impor minyak sawit India untuk tahun pemasaran 2025/26 berpotensi meningkat menjadi 9,3 juta ton dari 7,58 juta ton pada periode sebelumnya.

Pergerakan harga CPO global sempat stabil pada awal Desember sebagaimana dicatat situs commodity tracking, namun tekanan dari persaingan minyak nabati dan ketidakpastian permintaan menjadi faktor pembatas pemulihan harga untuk sementara waktu.