![]() |
| Model jet tempur yang ditampilkan adalah konsep untuk Global Combat Air Programme (GCAP). | Hunini/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 |
Jepang, Inggris, dan Italia terus mempercepat pengembangan jet tempur generasi keenam melalui Global Combat Air Programme (GCAP), sebuah proyek pertahanan bersama yang ditargetkan mencapai kesiapan operasional penuh pada 2035.
Program ini dirancang untuk melampaui kemampuan jet generasi kelima seperti F-35, terutama melalui integrasi pesawat berawak, sistem nirawak, dan jaringan sensor tempur dalam satu kesatuan operasi.
Bagi Jepang, proyek ini memiliki makna strategis tersendiri. Tokyo menamai varian domestiknya F-3 Reppu, menegaskan identitas nasional dalam kerangka kerja internasional.
Inggris, di sisi lain, tetap menggunakan nama Tempest untuk kebutuhan Angkatan Udara Kerajaan (RAF), sementara Italia hingga kini belum menetapkan nama resmi bagi variannya.
Awal terbentuknya GCAP
GCAP secara resmi dibentuk pada 2022 melalui penggabungan program Tempest Inggris dengan proyek jet tempur masa depan Jepang. Italia kemudian bergabung sebagai mitra penuh, membawa kapasitas industri dan pengalaman dari program Eurofighter Typhoon.
Ketiga negara sepakat membangun satu platform utama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasional masing-masing, namun tetap berbagi arsitektur dan teknologi inti.
Pesawat ini direncanakan menggantikan Mitsubishi F-2 di Jepang, serta Eurofighter Typhoon generasi awal di Inggris dan Italia. Sejak awal, GCAP dirancang sebagai proyek jangka panjang untuk menjaga kedaulatan teknologi pertahanan ketiga negara, sekaligus mengurangi ketergantungan pada platform asing.
Bagaimana GCAP dikembangkan
Pada Desember 2025, pemerintah Jepang mengonfirmasi alokasi anggaran tahun anggaran 2026 setelah pembahasan di tingkat komite, menegaskan kembali target penerbangan perdana demonstrator teknologi pada 2027. Demonstrator tersebut akan dikembangkan dan diuji di Inggris, dengan BAE Systems sebagai pelaksana utama.
Untuk mengelola aspek lintas negara, ketiga pemerintah membentuk GCAP International Government Organisation (GIGO) sebagai badan pengawas. Di sektor industri, peran utama diemban oleh Edgewing, perusahaan patungan antara BAE Systems, Leonardo, dan Japan Aircraft Industrial Enhancement, yang berkantor pusat di Reading, Inggris. Kontrak internasional pertama melalui GIGO ditargetkan ditandatangani pada akhir 2025.
Perbandingan GCAP dan F-35
Berbeda dari F-35 yang berfokus pada sensor fusion dalam satu platform, GCAP sejak awal mengadopsi konsep system-of-systems. Pesawat berawak akan beroperasi bersama drone Loyal Wingman yang berfungsi sebagai sensor tambahan, umpan, maupun pembawa senjata. Sistem ini didukung kecerdasan buatan untuk membantu pemrosesan data dan pengambilan keputusan pilot dalam lingkungan tempur yang kompleks.
Dari sisi performa, GCAP dirancang memiliki jangkauan dan muatan internal yang lebih besar dibanding F-35. Dengan bahan bakar internal, radius operasinya disebut mampu menjangkau wilayah yang lebih luas tanpa ketergantungan tinggi pada pesawat tanker.
Muatan internal yang lebih besar juga membuka ruang bagi kombinasi senjata kinetik dan non-kinetik, termasuk pengembangan persenjataan generasi baru.
Meski sama-sama mengedepankan stealth, GCAP menekankan ketahanan jaringan sensor lokal yang tetap berfungsi dalam kondisi gangguan elektronik, sehingga pesawat tidak sepenuhnya bergantung pada koneksi jarak jauh.
Dimensi geopolitik GCAP
Keterlibatan Inggris memastikan GCAP tetap relevan dengan kebutuhan NATO, terutama dalam menghadapi tantangan keamanan di Eropa Timur. Program ini dipandang sebagai upaya menjaga kemampuan tempur udara tingkat tinggi di luar platform buatan AS, sambil tetap kompatibel dengan sistem yang sudah digunakan aliansi.
Di kawasan Indo-Pasifik, peran Jepang menjadi sorotan. Dengan wilayah operasi yang luas dan dinamika keamanan yang kompleks, kemampuan jangkauan dan integrasi drone GCAP dinilai sejalan dengan kebutuhan pertahanan udara Jepang.
Italia, meski berfokus pada kawasan Mediterania, tetap berkontribusi pada dimensi global program melalui interoperabilitas NATO dan potensi kerja sama lintas kawasan.
Para pejabat pertahanan ketiga negara secara konsisten menekankan bahwa GCAP bukan sekadar pengembangan pesawat, melainkan ekosistem tempur udara.
Mitsubishi Heavy Industries, BAE Systems, dan Leonardo menyebutkan bahwa kemajuan mesin, manajemen termal, serta penggunaan additive manufacturing menjadi fondasi utama untuk meningkatkan performa dan menekan biaya perawatan jangka panjang.
Estimasi biaya pengembangan program ini mencapai sekitar £25 miliar, atau setara ± US$30 miliar, dengan skema pendanaan dibagi rata antara Jepang, Inggris, dan Italia. Sejauh ini, para mitra menyatakan koordinasi berjalan relatif lancar dibandingkan program serupa di Eropa yang kerap terkendala perbedaan kepentingan nasional.
Situasi terbaru GCAP
Selain fokus pada demonstrator 2027, Jepang juga telah meninjau aspek operasional dan anggaran pengembangan Loyal Wingman untuk tahun anggaran 2026. Di sisi lain, ketiga negara tetap membuka peluang bagi mitra tambahan di masa depan, meski belum ada keputusan resmi terkait perluasan keanggotaan.
Sementara itu, penggunaan nama F-3 Reppu di Jepang masih menjadi bahan diskusi domestik, terutama karena asosiasi historisnya. Namun pemerintah Jepang sejauh ini menyatakan penamaan tersebut mencerminkan kesinambungan desain nasional, bukan dimensi historisnya.
Sejauh ini, GCAP berkembang sebagai salah satu proyek jet tempur generasi keenam paling maju di luar AS. Dengan pendekatan system-of-systems, integrasi AI, dan kerja sama industri lintas negara, program ini menandai upaya Jepang, Inggris, dan Italia menjaga relevansi dan kemandirian teknologi pertahanan udara di tengah perubahan lingkungan keamanan global.

0Komentar