Foto udara masyarakat memanfaatkan lalu lintas di jembatan bailey Teupin Mane sebagai akses jalan nasional Bireuen–Bener Meriah yang kembali fungsional, di Bireuen, Minggu (14/12/2025). | Humas Pemprov Aceh

Pemerintah memutuskan membeli 100 unit jembatan Bailey dari luar negeri atas instruksi Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat pemulihan konektivitas di wilayah Sumatera yang terdampak banjir bandang dan longsor. 

Langkah ini ditempuh guna memulihkan akses antarwilayah serta memperlancar mobilitas masyarakat dan distribusi logistik pascabencana.

Pengadaan jembatan darurat tersebut akan difokuskan pada daerah terdampak seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Pemasangan ditargetkan rampung paling lambat Februari 2026 agar aktivitas warga dan arus barang dapat kembali berjalan normal.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Maruli Simanjuntak menyampaikan rencana tersebut dalam konferensi pers pada akhir Desember 2025. Ia mengatakan, TNI Angkatan Darat ditugaskan sebagai pelaksana utama pembangunan jembatan darurat di lapangan dengan dukungan kementerian terkait dan pemerintah daerah.

“Target kami, seluruh jembatan bisa terpasang paling lambat Februari 2026 agar akses masyarakat segera pulih,” ujar Maruli.

Selain jembatan Bailey, TNI AD juga membangun jembatan Armco dan jembatan gantung di sejumlah titik bencana. Berdasarkan data sementara per akhir Desember 2025, kebutuhan jembatan Bailey tercatat di 44 titik. Dari jumlah tersebut, 12 unit telah selesai dibangun, enam masih dalam proses pemasangan, sementara sisanya berada dalam tahap pengiriman.

Pada saat yang sama, jembatan Armco direncanakan dibangun di 47 titik. Enam unit telah rampung, tiga masih dikerjakan, dan sisanya dalam pengiriman. Adapun jembatan gantung disiapkan di 11 lokasi, dengan tiga di antaranya masih dalam tahap pemasangan.

Pembangunan infrastruktur darurat ini melibatkan satuan Zeni TNI, termasuk Zipur 16 Indrapuri dan jajaran Kodam Iskandar Muda, serta berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) dan masyarakat setempat. 

Di Aceh, salah satu jembatan Bailey di Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, berhasil diselesaikan dalam waktu kurang dari dua pekan sejak material tiba di lokasi.

Sementara itu, di Sumatera Barat, TNI AD merencanakan pembangunan tujuh jembatan Bailey dan lima jembatan Armco. Di Kabupaten Agam, tiga jembatan Bailey telah selesai dibangun dan kembali membuka akses jalan yang sebelumnya terputus akibat banjir bandang.

Maruli menjelaskan, pembangunan jembatan tersebut tidak hanya ditujukan sebagai solusi sementara, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas infrastruktur dasar di wilayah terdampak. Sejumlah jembatan kayu yang rusak akibat bencana diganti dengan konstruksi Armco yang dinilai lebih kuat dan tahan lama.

“Harapannya, setelah terpasang, kondisi infrastruktur justru bisa lebih baik dibanding sebelum bencana,” kata Maruli.

Terkait pengadaan, pemerintah menyebut seluruh 100 unit jembatan Bailey tersebut didatangkan dari luar negeri. Namun hingga kini, negara pemasok maupun perusahaan produsen belum diungkap secara resmi. Pemerintah menegaskan pengadaan dilakukan melalui mekanisme darurat untuk mengejar kecepatan distribusi dan pemasangan di lapangan.

Sejumlah produsen jembatan Bailey yang dikenal secara global berasal dari China, antara lain Jiangsu Bailey Steel Bridge Co., Ltd., EVERCROSS BRIDGE TECHNOLOGY (SHANGHAI) CO., LTD., serta Shandong Wanzhida New Material Technology Co., Ltd. 

Perusahaan-perusahaan tersebut dikenal mengekspor jembatan modular ke berbagai negara Asia Tenggara dan menyatakan produknya memenuhi standar internasional seperti AASHTO dan BS5400 yang digunakan untuk kebutuhan sipil dan militer.

Pemerintah menegaskan fokus utama saat ini adalah percepatan pemulihan akses transportasi dan logistik di wilayah terdampak bencana, seiring dengan masih berlangsungnya upaya rehabilitasi infrastruktur dasar dan penyediaan air bersih bagi masyarakat.