Dampak yang diakibatkan banjir yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya pada Kamis (13/3). | BPBD Kabupaten Tasikmalaya


Peningkatan emisi gas rumah kaca diproyeksikan akan memperparah banjir ekstrem di berbagai kawasan Asia sepanjang abad ini. Studi iklim menunjukkan bahwa pemanasan global telah meningkatkan intensitas curah hujan dan memperbesar risiko banjir, terutama di kawasan berpenduduk padat. 

Dalam beberapa tahun terakhir, pola tersebut terlihat melalui rentetan peristiwa cuaca ekstrem yang menimbulkan ribuan korban jiwa dan kerugian ekonomi besar.

Pada November hingga Desember 2025, Asia Selatan dan Tenggara mengalami banjir besar yang menewaskan lebih dari 1.700 orang di Indonesia, Sri Lanka, Thailand, Malaysia, Vietnam, dan Filipina. PBB menyebut rentetan ini sebagai salah satu pola cuaca paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Banjir dipicu oleh tiga sistem cuaca tropis termasuk Siklon Ditwah dan Senyar serta penguatan monsun timur laut. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana atmosfer yang lebih hangat cenderung membentuk sistem cuaca ekstrem yang lebih sering dan kompleks.

Di Indonesia, banjir besar yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera pada akhir November 2025 terutama di Sumatera Barat dan Aceh menunjukkan pola serupa. 

Curah hujan harian yang tercatat melampaui rerata 30 tahun, sementara analisis BMKG menyebut suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian timur lebih hangat dari kondisi normal. 

Peristiwa ini menyebabkan puluhan ribu warga mengungsi dan memperlihatkan bagaimana perubahan iklim regional memperkuat pola hujan ekstrem di kawasan tropis.

Di Jepang, wilayah Kyushu dan Shikoku kembali mengalami hujan ekstrem, memicu peringatan evakuasi luas. Banyak sungai meluap, dan beberapa kota kecil terisolasi karena longsor. 

Badan meteorologi Jepang menilai pola stagnasi atmosfer dan udara lembap dari Pasifik yang menguat akibat pemanasan laut sebagai pemicu utama meningkatnya kejadian hujan berintensitas tinggi.

Sementara di Korea Selatan, curah hujan ekstrem pada Juli 2025 kembali memecahkan rekor sejak pencatatan modern dimulai. Para peneliti mengaitkannya dengan pemanasan perairan Pasifik Barat yang meningkat cepat.

Thailand juga menghadapi banjir signifikan pada 2025, terutama di wilayah tengah dan utara seperti Sukhothai dan Ayutthaya. Banjir terjadi akibat kombinasi monsun dan sisa badai tropis yang membawa curah hujan tinggi dalam waktu singkat. Ribuan warga terdampak, dan lahan pertanian mengalami kerusakan yang meluas.

Sementara itu, Malaysia kembali dilanda banjir musiman yang lebih awal dan lebih intens dari biasanya. Negara bagian Kelantan, Terengganu, dan Pahang membuka pusat evakuasi lebih cepat, menandakan perubahan pola monsun yang semakin tak terduga. Para ahli menilai bahwa curah hujan yang datang lebih padat dalam durasi lebih singkat menjadi tren yang konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Penelitian yang dipublikasikan di Scientific Reports oleh tim Universitas Durham memperkirakan bahwa banjir ekstrem di Himalaya Tengah dapat meningkat 73–84% pada akhir abad ini jika emisi tetap tinggi. 

Sungai Karnali yang mengalir di Nepal, Tiongkok, dan memengaruhi India diprediksi menjadi salah satu wilayah dengan kenaikan risiko terbesar, terutama karena intensitas hujan yang meningkat tajam.

Menurut Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Asia memanas hampir dua kali lebih cepat dibanding rata-rata global. Kenaikan suhu membuat atmosfer menyimpan uap air lebih banyak; setiap peningkatan 1°C memungkinkan kapasitas penyimpanan bertambah sekitar 7%. 

Akibatnya, hujan ekstrem meningkat 10–20% dibanding era praindustri. Pemanasan laut, terutama di Samudra Hindia dan Pasifik Barat, turut memberi energi tambahan bagi siklon tropis yang membawa angin kencang dan curah hujan lebat ke daratan.

Perubahan pola monsun memperburuk kondisi. Musim hujan menjadi lebih pendek namun lebih intens, sementara periode kering semakin panjang. Fenomena seperti El Niño, La Niña, dan Indian Ocean Dipole semakin kuat dipengaruhi pemanasan global, meningkatkan intensitas curah hujan hingga 15–30% dan membuat pola banjir lebih sulit diprediksi.

IPCC dalam Laporan AR6 memproyeksikan bahwa curah hujan ekstrem di Asia dapat meningkat 10–30% pada 2100 dalam skenario emisi tinggi. Banjir yang sebelumnya terjadi sekali dalam 100 tahun dapat muncul setiap 10–20 tahun di sebagian wilayah Asia Selatan dan Tenggara. 

Sungai besar seperti Gangga–Brahmaputra, Mekong, dan Yangtze diperkirakan mengalami peningkatan debit antara 15–70%, bergantung pada skenario pemanasan dan kondisi masing-masing cekungan.

Di Himalaya, penelitian menunjukkan bahwa hujan ekstrem, bukan pencairan gletser, menjadi penyumbang utama banjir masa depan. Lebih dari 90% tambahan air banjir diproyeksikan berasal dari intensitas hujan. Meski demikian, risiko banjir akibat jebolnya danau gletser (GLOF) meningkat 30–50% karena mencairnya es memperbesar volume danau di dataran tinggi.

Bangladesh, India, Vietnam, Indonesia, dan Nepal termasuk wilayah dengan kerentanan banjir tertinggi karena kepadatan penduduk dan topografi rendah. Kota besar seperti Dhaka, Mumbai, Jakarta, dan Manila menghadapi risiko ekstra dari penurunan muka tanah yang mencapai 1–5 cm per tahun akibat pemompaan air tanah berlebih. Kondisi ini memperburuk banjir pesisir ketika air laut naik dan gelombang badai semakin kuat.

Secara ekonomi, ADB dan World Bank memperkirakan kerugian tahunan akibat banjir dapat mencapai 1–2% GDP Asia pada 2050, dan hingga 5–10% pada 2100 dalam skenario emisi tinggi. Infrastruktur vital seperti jalan, jembatan, jaringan listrik, dan fasilitas transportasi sering menjadi sektor paling terdampak. 

Di Nepal, banjir 2024 menewaskan ratusan orang dan mengakibatkan kerugian setara 1% GDP, dengan proyeksi peningkatan hingga 2,2% pada 2050.

Dampak kesehatan menjadi kekhawatiran utama. Wabah penyakit seperti kolera dan diare meningkat 20–50% setiap kali banjir besar terjadi, terutama di kawasan dengan sanitasi terbatas. 

Secara sosial ekonomi, banjir memperburuk kemiskinan dan dapat mendorong perpindahan penduduk dalam skala besar. Berbagai proyeksi menunjukkan bahwa Asia berpotensi menghadapi puluhan juta migran iklim pada paruh kedua abad ini.

Sektor pangan turut terdampak. Produksi padi bisa turun 10–30% pada banjir besar, sementara gandum dan jagung turun 5–15%. Ekosistem sungai juga rentan akibat sedimentasi dan erosi yang meningkat hingga 20–50%, menyebabkan pendangkalan sungai dan meningkatkan risiko banjir berulang.

Sejumlah peristiwa besar dalam dekade terakhir memberikan gambaran nyata, banjir Pakistan 2022 menewaskan lebih dari 1.300 orang, banjir Henan di Cina pada 2021 terjadi setelah hujan ekstrem yang jarang muncul dalam skala 1-in-1.000-years, dan banjir Kerala 2018 menunjukkan bagaimana sistem peringatan dini dapat kewalahan menghadapi intensitas hujan yang meningkat cepat.

Negara-negara Asia mulai membangun proyek adaptasi berskala besar. Malaysia mengoperasikan SMART Tunnel di Kuala Lumpur, Cina mengembangkan konsep sponge cities, Jakarta memperkuat pelindung pesisir dari rob, dan Bangladesh menjalankan Delta Plan 2100. 

Sistem peringatan dini juga ditingkatkan, India dan Indonesia berhasil memperbaiki akurasinya hingga 50–70% dalam satu dekade terakhir. Meski demikian, pendanaan adaptasi masih menjadi tantangan, dengan kesenjangan mencapai 100–300 miliar dolar AS per tahun.

Lembaga seperti WMO, IPCC, UNDP, dan UNEP menegaskan bahwa emisi gas rumah kaca adalah faktor utama yang memperburuk risiko banjir. Pengurangan emisi global sebesar 45% pada 2030 diperkirakan dapat menahan sebagian peningkatan tersebut. 

Sejumlah negara mulai memulihkan mangrove dan hutan rawa yang dapat mengurangi dampak banjir 30–50%, serta membangun proyek manajemen air terpadu untuk mengurangi kerentanan jangka panjang.

Tren saat ini menunjukkan bahwa banjir di Asia semakin terkait dengan pemanasan global, curah hujan intens, serta perubahan iklim regional. Tanpa pengendalian emisi dan adaptasi yang lebih kuat, intensitas banjir kemungkinan besar akan terus meningkat dalam beberapa dekade mendatang. Namun, proyek adaptasi yang terus berkembang memberi gambaran bahwa risiko dapat ditekan melalui upaya bersama di tingkat nasional dan regional.