Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM. | Instagram/@bahlillahadalia

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan bahwa Indonesia kehilangan devisa sekitar Rp523 triliun per tahun akibat impor minyak mentah dan Bahan Bakar Minyak (BBM). Pernyataan itu disampaikan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam konferensi BIG 40 di Jakarta pada 8 Desember 2025, merujuk pada data konsumsi dan produksi energi nasional milik kementerian untuk periode tahun lalu.

Menurut Bahlil, nilai tersebut berasal dari proyeksi kebutuhan impor yang masih besar karena produksi domestik belum mampu menutup kebutuhan energi dalam negeri. 

Ia menjelaskan bahwa angka Rp523 triliun dihitung berdasarkan volume impor minyak sepanjang 2024, yang mencapai 313 juta barel per tahun, terdiri atas 112 juta barel crude oil dan 201 juta barel BBM. Perhitungan itu dikaitkan dengan harga minyak acuan serta beban konsumsi LPG yang turut memperlebar defisit energi.

Kementerian mencatat konsumsi BBM nasional pada tahun yang sama berada di kisaran 532 juta barel, jauh melampaui produksi minyak domestik yang hanya sekitar 212 juta barel. 

Pada komoditas LPG, ketergantungan impor juga tinggi karena produksi dalam negeri baru 1,3 juta ton dari kebutuhan 8,5 juta ton. Kondisi ini, menurut ESDM, menjadi dasar utama lonjakan biaya impor dan menguras cadangan devisa.

Bahlil menyebutkan bahwa sebagian besar devisa yang keluar tersebut bisa tetap berputar di dalam negeri bila ketergantungan impor ditekan. 

Dalam penjelasannya, ia menilai bahwa penurunan impor energi berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 2–3 persen. Namun demikian, ia tidak merinci asumsi harga minyak atau kurs rupiah yang digunakan dalam konversi nilai impor tersebut.

Sejauh ini, ESDM belum merilis dokumen teknis yang memuat formulasi rinci atas perhitungan Rp523 triliun. Informasi yang beredar berasal dari data tahunan kementerian yang lazim digunakan dalam evaluasi kebutuhan energi nasional. 

Di sisi lain, beberapa pernyataan sebelumnya menunjukkan angka yang bervariasi. Pada Oktober 2025, misalnya, Bahlil menyebut kerugian devisa mencapai Rp776 triliun saat impor minyak berada di kisaran 900 ribu hingga 1 juta barel per hari.

Perbedaan nilai tersebut menggambarkan bahwa estimasi pemerintahan bersifat dinamis, terutama dipengaruhi pergerakan harga minyak global dan pembaruan data konsumsi energi. 

Pemerintah menyebut upaya pengurangan impor terus dikejar melalui peningkatan lifting minyak, optimalisasi sumur tua, serta pemanfaatan teknologi seperti enhanced oil recovery untuk menambah produksi domestik.