Empat gajah Sumatera jinak dikerahkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh ke lokasi banjir bandang di Kabupaten Pidie Jaya pada Senin (8/12) untuk membersihkan puing kayu dan membuka akses yang tidak dapat dijangkau alat berat. Operasi berlangsung di sejumlah titik terdampak di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua, wilayah yang terdampak paling parah usai banjir besar menerjang sejak akhir November.
BKSDA Aceh mengirim empat gajah terlatih bernama Abu, Mido, Ajis, dan Noni dari Pusat Latihan Gajah Saree. Upaya ini ditempuh karena akses darat ke beberapa desa terputus akibat lumpur tebal serta rumah-rumah yang rata dengan tanah. Di Desa Meunasah Bie, kondisi permukiman yang hancur total membuat tim penyelamat mengandalkan gajah untuk membuka jalur masuk.
Kepala BKSDA Wilayah Sigli, Hadi Sofyan, menjelaskan para pawang memandu gajah dengan hati-hati untuk menghindari puing yang diduga masih menyimpan korban.
“Gajah kami arahkan membersihkan material yang tersangkut di rumah warga dan membuka akses menuju titik yang tertimbun,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip dari pemberitaan Antara.
Ia menambahkan, keempat gajah tersebut memiliki pengalaman panjang dalam operasi kemanusiaan, termasuk saat membantu pembersihan material pascatsunami Aceh 2004.
Selain mengangkat kayu gelondongan dan membuka jalur darurat, gajah juga diproyeksikan membantu evakuasi korban yang ditemukan di area yang tidak bisa terjangkau kendaraan. Distribusi logistik bagi pengungsi di Pidie Jaya turut menjadi bagian dari tugas harian mereka selama operasi berlangsung hingga 14 Desember.
Di sisi lain, banjir bandang yang menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak 25 November tercatat sebagai bencana terburuk dalam 25 tahun terakhir.
Data BNPB per Senin (8/12) pukul 16.00 WIB menunjukkan 961 orang meninggal dunia, 293 orang hilang, dan sekitar 5.000 warga mengalami luka-luka.
Pidie Jaya mengalami banjir susulan pada Sabtu (6/12) malam setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Jalan utama di Meureudu kembali tertutup air, membuat sejumlah kendaraan terjebak.
Ratusan warga dari Bener Meriah bahkan harus berjalan kaki melalui jalur bekas longsor menuju Lhokseumawe karena stok bahan pokok menipis akibat akses logistik terputus.
Operasi pembersihan menggunakan gajah menjadi salah satu langkah yang saat ini dinilai paling memungkinkan untuk menembus area yang rusak berat, sambil menunggu cuaca membaik dan akses alat berat kembali terbuka.


0Komentar