Dokumen keamanan baru pemerintahan Trump mengkritik Eropa, menyinggung isu imigrasi, demografi, dan pertahanan. | Tangkapan Layar Video CBSNews

Pemerintahan Donald Trump merilis dokumen terbaru National Security Strategy (NSS) pada Kamis malam waktu Washington, yang berisi kritik tajam terhadap sekutu-sekutu Eropa. Dokumen yang dipublikasikan di situs Gedung Putih pada Jumat itu memperingatkan bahwa benua Eropa menghadapi risiko “penghapusan peradaban” dan dapat menjadi “tidak dapat dikenali dalam 20 tahun atau kurang” akibat imigrasi serta penurunan angka kelahiran. 

Washington juga mendesak Eropa mengambil tanggung jawab utama atas pertahanannya sendiri dan membuka ruang kerja sama dengan partai-partai patriotik Eropa.

NSS setebal 33 halaman bertanggal November 2025 tersebut menandai pergeseran besar dalam hubungan transatlantik. Di bagian Promoting European Greatness, dokumen menyebut stagnasi ekonomi Eropa tertutupi oleh prospek penghapusan peradaban. 

Beberapa analis menilai bahasa itu selaras dengan narasi teori konspirasi Great Replacement yang kerap muncul dalam diskursus kelompok sayap kanan di Amerika Serikat.

Sejumlah media internasional termasuk NBC News dan The New York Times mencatat bahwa pernyataan mengenai Eropa yang akan menjadi mayoritas non-Eropa dalam beberapa dekade merupakan adaptasi dari klaim yang biasanya muncul dalam retorika ekstrem kanan. 

Mark Sedgwick, profesor di Universitas Aarhus yang lama meneliti isu tersebut, mengatakan kepada NBC News bahwa klaim Eropa akan “tidak dapat dikenali” dalam 20 tahun adalah “omong kosong total”.

Di Eropa, sejumlah pejabat memberi tanggapan cepat. Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyampaikan upaya meredakan ketegangan saat berbicara di Forum Doha, Qatar, pada Sabtu. Ia mengatakan Amerika Serikat tetap menjadi  sekutu terbesar Eropa meski kritik dalam dokumen tersebut cukup keras. 

“Tentu saja ada banyak kritik, tapi sebagian juga benar,” ujar Kallas seperti dikutip dari Reuters, sembari menambahkan bahwa Eropa kerap meremehkan kapasitasnya sendiri, terutama dalam berhadapan dengan Rusia.

Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul, menolak tuduhan dalam NSS dan menyebut Berlin tidak memerlukan “nasihat dari luar” terkait kebebasan berpendapat maupun praktik demokrasi. Ia menegaskan AS tetap menjadi mitra utama Jerman di NATO, namun diskusi sensitif semacam itu bukan bagian dari dialog aliansi.

Selain isu demografi, dokumen NSS juga menyoroti pendekatan Eropa terhadap perang di Ukraina. Pemerintah Trump menuding beberapa negara memiliki ekspektasi tidak realistis terhadap perang dan menyebut mereka merusak proses demokratis dengan tidak mencerminkan keinginan publik yang lebih luas untuk mendorong perdamaian.

Penerbitan dokumen ini bertepatan dengan perundingan perdamaian AS–Ukraina yang digelar di Miami dan sudah memasuki hari ketiga pada Sabtu. Pejabat dari kedua negara menyebut ada “kemajuan nyata”, meski masih menunggu sikap Rusia untuk langkah berikutnya.