Sebuah kapal kontainer membongkar kargo di terminal pelabuhan di Long Beach, California, Amerika Serikat, 10 Mei 2019. | Mark Larston/AFP


Gelombang barang murah asal China mengalir deras ke Eropa seiring tertutupnya pasar Amerika Serikat akibat kenaikan tarif impor. Pergeseran ini melibatkan eksportir dan platform e-commerce China, memanfaatkan bandara serta gudang di berbagai negara Uni Eropa (UE) sebagai simpul distribusi baru. Lonjakan tersebut memicu respons kebijakan dagang dari Brussels untuk menahan dampak pada pasar domestik Eropa.

Peralihan arus perdagangan ini menguat sepanjang akhir 2024. Data menunjukkan ekspor China ke UE melonjak 14,8% year-on-year pada November, naik tajam dibandingkan pertumbuhan kurang dari 1% pada Oktober. Pada periode yang sama, pengiriman ke AS justru merosot 29%. 

Menurut laporan Wall Street Journal, Situasi ini terjadi setelah pemerintahan Presiden Donald Trump memperketat penegakan tarif terhadap impor China, sehingga banyak produsen mengalihkan barang berbiaya rendah ke pasar Eropa.

Volume barang yang masuk ke Eropa tercatat sangat besar. Sepanjang 2024, sekitar 4,6 miliar paket bernilai di bawah €150 beredar di pasar UE, setara lebih dari 12 juta paket per hari. Komisi Eropa mencatat lebih dari 91% paket tersebut berasal dari China, terutama melalui platform Shein, Temu, dan AliExpress. Dari jumlah itu, sekitar 65% diduga dinilai lebih rendah untuk menghindari bea masuk.

Lonjakan impor ini mendorong UE mengambil langkah balasan. Pada 12 Desember, negara-negara anggota menyepakati penerapan bea tetap €3 per item untuk paket bernilai rendah mulai 1 Juli 2026. Kebijakan sementara ini dimaksudkan untuk menekan praktik yang dinilai merugikan pelaku ritel lokal yang selama ini membayar pajak dan bea masuk penuh.

Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure menjelaskan latar belakang kebijakan tersebut kepada AFP. “Empat tahun lalu, hanya satu miliar paket yang tiba dari China. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari empat miliar,” ujarnya, seraya menekankan kebutuhan langkah cepat. 

Selain tarif tetap, UE juga tengah mempertimbangkan biaya penanganan tambahan €2 per paket guna menutup biaya administrasi bea cukai, sebagaimana disampaikan Komisi Eropa dalam keterangan resminya.

Di sisi lain, pergeseran arus perdagangan ini memicu perubahan di sektor logistik Eropa. Perusahaan-perusahaan China menyewa lebih dari 2 juta kaki persegi ruang gudang di Inggris sepanjang tahun ini, mendekati level tertinggi pada masa pandemi. 

Bandara-bandara sekunder seperti East Midlands Airport di Inggris dan bekas pangkalan militer di Liège, Belgia, kini kian sibuk menangani kiriman paket, menggantikan sebagian peran hub utama.

Fenomena ini juga terlihat di tingkat individu. Wall Street Journal melaporkan kisah Xue Er, warga London asal Shanghai, yang membangun gudang kecil seluas 320 kaki persegi untuk menyimpan pakaian, tas, dan furnitur dari pemasok China. Dengan mengemas ulang dan mengirim barang ke konsumen Eropa, ia bisa meraup £3.000 hingga £5.000 per bulan pada periode ramai.

Perkembangan tersebut berlangsung di tengah surplus perdagangan China yang menembus US$1 triliun untuk pertama kalinya pada November, menurut laporan Reuters. Kinerja ekspor itu ditopang oleh produsen yang mengalihkan output ke luar negeri di tengah lemahnya permintaan domestik. Di Eropa, arus barang murah ini kini menjadi salah satu isu utama dalam perdebatan kebijakan perdagangan dan pengawasan impor UE.