![]() |
| Bantuan kemanusiaan terus mengalir ke Sumatra usai banjir dan longsor menewaskan 1.016 orang. | tni-au.mil.id |
Berbagai lembaga kemanusiaan, korporasi, dan organisasi nirlaba terus menyalurkan bantuan logistik dan dana bagi korban banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga Senin (15/12/2025), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia mencapai 1.016 jiwa, sementara 212 orang masih dinyatakan hilang.
Bencana yang berlangsung sejak akhir November itu juga memaksa ratusan ribu warga mengungsi akibat kerusakan permukiman dan infrastruktur di tiga provinsi tersebut.
Gelombang bantuan datang dari berbagai pihak dalam dua pekan terakhir, seiring meningkatnya kebutuhan dasar di lokasi terdampak. Perusahaan logistik JNE, misalnya, mendistribusikan lebih dari 500 ton bantuan yang dihimpun dari masyarakat melalui program gratis ongkos kirim pada 1–10 Desember 2025.
Bantuan tersebut mencakup bahan pokok, pakaian, selimut, perlengkapan kesehatan dasar, serta kebutuhan khusus bayi dan lansia yang disalurkan ke sejumlah titik pengungsian.
Presiden Direktur JNE M. Feriadi Soeprapto menjelaskan distribusi bantuan dilakukan dengan melibatkan jaringan internal perusahaan di berbagai daerah.
“Berkat kepedulian dan kolaborasi dari seluruh #TemanJNE di Indonesia yang mengamanahkan bantuannya kepada JNE, total bantuan yang didistribusikan mencapai lebih dari 500 ton,” kata Feriadi dalam keterangan tertulis.
Di sisi lain, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI berperan sebagai penyalur utama bantuan dari sejumlah donatur korporasi. Unit Pengumpul Zakat Permata Bank Syariah menyalurkan dana kemanusiaan senilai Rp1,4 miliar.
Sementara itu, PT Basa Inti Persada (Nobby Official) menyumbang Rp250 juta, dan PT STAR Asset Management memberikan 100 unit eco composter disertai donasi tunai Rp15 juta. Entitas afiliasinya, PT Aldicitra Sekuritas Indonesia, turut menyalurkan bantuan senilai Rp16,5 juta.
Pimpinan Baznas RI Bidang Pengumpulan Rizaludin Kurniawan menyampaikan bahwa lembaganya mengedepankan akuntabilitas dalam proses distribusi.
“Baznas berkomitmen menyalurkan setiap amanah bantuan dengan cepat, tepat sasaran, dan transparan,” ujarnya, seraya menegaskan koordinasi dengan pemerintah daerah dan relawan di lapangan terus diperkuat.
Upaya serupa dilakukan sektor perbankan. Bank Mandiri melalui relawan Mandirian menyalurkan lebih dari 67.000 paket bantuan ke berbagai wilayah terdampak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Paket bantuan berisi beras, minyak goreng, selimut, hingga perlengkapan bayi, yang didistribusikan melalui sinergi dengan BPBD, TNI, Polri, serta pemerintah daerah. Langkah ini ditempuh untuk mempercepat jangkauan bantuan, terutama ke wilayah yang sempat terisolasi akibat putusnya akses jalan.
Selain korporasi, organisasi kemanusiaan juga mengintensifkan respons lapangan. Rumah Zakat mencatat penghimpunan donasi mencapai Rp5,7 miliar dari 82.690 donatur. Dari jumlah tersebut, Rp3,8 miliar telah disalurkan dalam bentuk bantuan pangan, layanan kesehatan, serta dukungan pengungsian di sejumlah kabupaten terdampak, termasuk Aceh Tamiang dan Langkat.
Pemerintah pusat turut mengerahkan sumber daya dalam skala besar. Kementerian Sosial melaporkan penyaluran bantuan senilai Rp66,7 miliar hingga 7 Desember 2025.
Bantuan tersebut mencakup pendirian 39 dapur umum yang memproduksi 417.749 bungkus makanan per hari, serta pengerahan 648 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) untuk mendukung evakuasi dan layanan dukungan psikososial bagi penyintas. Koordinasi lintas sektor dilakukan untuk menjangkau wilayah yang sempat terputus, seperti Aceh Tengah dan sejumlah kawasan pesisir Sumatera Utara.
Dari sisi dampak, BNPB mencatat bencana banjir dan longsor ini merusak 158.049 rumah, dengan mayoritas mengalami kerusakan berat. Selain itu, 1.200 fasilitas umum terdampak, termasuk 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, serta 145 jembatan.
Jumlah pengungsi masih tercatat mencapai 624.670 jiwa, meski sebagian warga mulai mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat. Aceh menjadi provinsi dengan korban meninggal terbanyak, mencapai 421 jiwa, disusul wilayah lain di Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Data BNPB menunjukkan proses pencarian korban hilang masih berlangsung, sementara distribusi bantuan difokuskan pada pemenuhan kebutuhan dasar dan pemulihan akses logistik di daerah terdampak.
-1121071-1080.webp)
0Komentar