![]() |
| Foto udara sejumlah warga melintasi jembatan Aek Garoga 2 di Desa Aek Garoga, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Kamis (11/12/2025) | ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja |
Gelombang bantuan mengalir ke Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyusul banjir bandang dan longsor sejak akhir November 2025 yang menewaskan lebih dari seribu orang, menyebabkan ratusan lainnya hilang, serta merusak ratusan ribu rumah dan fasilitas publik.
Di tengah fase tanggap darurat hingga awal pemulihan, bank-bank BUMN Indonesia tampil di garis depan pendanaan dan logistik, didukung jejaring filantropi domestik serta sinyal bantuan dari China.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, bencana dipicu curah hujan ekstrem yang menyebabkan luapan sungai dan runtuhnya lereng di sejumlah wilayah hulu.
Dampak terberat tercatat di Aceh bagian timur, Sumatera Utara, serta wilayah pesisir dan dataran rendah Sumatera Barat. Aktivitas ekonomi di tiga provinsi tersebut sempat lumpuh selama beberapa pekan.
Bank BUMN di garis depan bantuan darurat
Melalui payung BUMN Peduli dan koordinasi dengan ekosistem Danantara, bank-bank milik negara mempercepat penyaluran bantuan ke wilayah terdampak.
BRI Group menggalang dana pemulihan melalui kegiatan “Satukan Langkah untuk Sumatra” yang digelar di kantor pusat Jakarta dan diikuti sekitar 5.000 peserta. Skema donasi dikaitkan dengan aktivitas jalan sehat, di mana setiap langkah peserta dikonversi menjadi sumbangan Rp1.300.
BRI menargetkan penghimpunan dana hingga Rp50 miliar untuk pemulihan infrastruktur dasar, mulai dari renovasi sekolah dan puskesmas, perbaikan sistem air bersih dan sanitasi, hingga drainase, jalan lingkungan, serta pembangunan hunian sementara di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Informasi tersebut disampaikan perusahaan dalam keterbukaan publik yang dikutip sejumlah media nasional pada Senin (22/12).
Pada fase tanggap darurat, BRI juga menyalurkan ribuan paket logistik, antara lain 3.250 paket makanan siap santap, 63.500 paket sembako, 700 survival kit, 1.680 kasur dan selimut, 23 truk air bersih, 3.800 paket obat-obatan, serta 5.800 peralatan kebersihan.
Total nilai bantuan mencapai Rp11,68 miliar dan disalurkan melalui lebih dari 40 aksi di sekitar 40 lokasi, menjangkau sedikitnya 70.550 warga terdampak.
BTN mengerahkan enam truk bantuan dari Bandara Kualanamu berisi makanan siap saji, perlengkapan bayi, dan air bersih. Bank tersebut juga membangun dapur umum dan tenda pengungsian di sejumlah titik.
Hingga pekan ketiga Desember, total bantuan BTN tercatat sekitar Rp10 miliar, mencakup dukungan logistik, obat-obatan, water filter, alat berat, dapur umum, dan genset, sebagaimana disampaikan manajemen dalam laporan kepada publik.
BNI bersama BUMN Peduli menyalurkan bantuan pangan darurat berupa 52,5 ton beras, 9,5 ton gula, 10.500 liter minyak goreng, makanan siap saji, selimut, dan obat-obatan ke sejumlah wilayah di Sumatera Utara.
Dukungan jaringan internet juga disiapkan untuk membantu koordinasi penanganan bencana. Di tingkat regional, BRI Region 1/Medan mengerahkan sekitar 150 relawan dan 16 truk bantuan dalam apel relawan BUMN Peduli di Kualanamu untuk distribusi ke Aceh dan Sumatera Utara.
Dukungan kredit dan pemulihan usaha
Selain bantuan konsumtif, sektor perbankan mulai menyiapkan langkah jangka menengah. Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) menyatakan industri perbankan siap mendukung kebijakan keringanan dan restrukturisasi kredit bagi nasabah terdampak bencana, mengacu pada kerangka regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk wilayah yang ditetapkan sebagai daerah bencana.
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti perlunya pemulihan usaha kecil dan menengah yang terdampak gangguan distribusi, rusaknya fasilitas produksi, serta krisis air bersih.
Menurut Apindo, dukungan pembiayaan dan pemulihan infrastruktur dasar menjadi prasyarat agar aktivitas ekonomi dapat kembali berjalan.
Sinyal bantuan dari China dan mitra global
Dari tingkat internasional, pemerintah China menyampaikan kesiapan untuk memberikan bantuan “sesuai kapasitas” bagi wilayah Sumatera yang terdampak banjir dan longsor.
Pernyataan tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri China dan diberitakan media resmi serta televisi internasional, seiring laporan meningkatnya jumlah korban jiwa dan kerusakan infrastruktur.
Hingga 22 Desember 2025, rincian teknis komitmen bantuan tersebut belum dipublikasikan. Jalur bantuan yang lazim mencakup hibah kemanusiaan, pengiriman barang kebutuhan darurat, serta dukungan pembiayaan rekonstruksi infrastruktur melalui kerja sama antar-pemerintah.
Pemerintah China menyatakan bantuan akan disesuaikan dengan kebutuhan pemerintah Indonesia dan membuka ruang koordinasi lebih lanjut pada fase rehabilitasi dan rekonstruksi.
Dampak ekonomi dan respons pemerintah
Di dalam negeri, diskusi mengenai dampak makroekonomi bencana mulai mengemuka. Analisis awal yang mengacu pada asesmen Bank Indonesia memperkirakan banjir dan longsor di Sumatera berpotensi menggerus Produk Domestik Bruto sekitar 0,017% pada 2025 akibat terhentinya aktivitas ekonomi selama sekitar 32 hari di tiga provinsi utama terdampak.
Merespons kondisi tersebut, pemerintah menyiapkan sejumlah intervensi, antara lain percepatan pencairan bantuan sosial, pemulihan distribusi pangan, serta skema keringanan kredit bagi UMKM di wilayah terdampak.
Dari bantuan darurat ke rehabilitasi lingkungan
Skala kerusakan membuat penanganan bencana tidak berhenti pada fase darurat. Sejumlah pihak mengkategorikan peristiwa ini sebagai bencana berat yang menuntut pendekatan pembiayaan jangka panjang, termasuk pemulihan ekologis di daerah aliran sungai yang rusak.
Di Sumatera Barat, Semen Padang memastikan kesiapan pasokan semen untuk mendukung rekonstruksi perumahan dan infrastruktur, meski distribusi masih terkendala kerusakan jalan dan jembatan.
Pertamina melalui Pertamina Foundation memperkuat program pemulihan berkelanjutan di Aceh Tamiang dan Agam, menggabungkan bantuan darurat dengan dukungan pendidikan, penguatan UMKM, dan pemberdayaan masyarakat.
Di sisi sosial, BKKBN Aceh menjalankan program pemulihan trauma bagi anak-anak dan kelompok rentan di lokasi pengungsian. Sejumlah lembaga filantropi, termasuk Rumah Zakat dan Dompet Dhuafa, turut menggalang dana miliaran rupiah untuk penyediaan air bersih, MCK darurat, hunian sementara, fasilitas ibadah, serta pendidikan darurat.
Koordinasi pendanaan antara bank BUMN, lembaga keuangan internasional, mitra dari China, dan instrumen fiskal pemerintah terus berjalan seiring bergesernya fokus penanganan dari bantuan darurat ke rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.

0Komentar