Sebuah kapal perang Amerika Serikat berlabuh di perairan Kota Batam, Kepulauan Riau, untuk berpartisipasi dalam Latihan Maritim ASEAN-AS ke-2 (AUMX) 2025, Rabu (10 Desember 2025). ANTARA/Angiela Chantiequ


Kekuatan angkatan laut dari 11 negara anggota ASEAN dan Amerika Serikat berkumpul di Batam, Kepulauan Riau, pada 10 Desember untuk memulai ASEAN–US Maritime Exercise (AUMX) 2025. Latihan selama lima hari ini digelar di kawasan Selat Singapura untuk meningkatkan kemampuan operasi gabungan serta memperkuat kepercayaan antarangkatan laut di Asia Tenggara.

Latihan tersebut menampilkan sembilan kapal perang dan sebuah drone yang menjalankan berbagai skenario, mulai dari evakuasi medis, pencarian dan penyelamatan, hingga manuver taktis. 

Agenda ini merupakan latihan bersama kedua setelah edisi perdana pada 2019 dan kali ini diselenggarakan bersama Indonesia dan Amerika Serikat.

AUMX 2025 dirancang untuk memperdalam koordinasi regional dalam menghadapi ancaman maritim lintas batas. Sebelum memasuki fase laut, para peserta mengikuti pertukaran pengetahuan mengenai United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) serta prosedur evakuasi medis. Setelah itu, negara-negara peserta menjalani latihan meja untuk menyimulasikan respons terhadap keadaan darurat.

Laksamana Muda Katie F. Sheldon, Wakil Komandan Armada Ketujuh AS, menjelaskan bahwa latihan ini menegaskan komitmen Washington terhadap sentralitas ASEAN dan kawasan Indo-Pasifik yang bebas dan terbuka. 

Di sisi lain, Kapten Angkatan Laut AS Matt Cox menyebut AUMX 2025 sebagai bentuk nyata kolaborasi yang terus berkembang antara ASEAN dan Angkatan Laut AS.

Letnan Jenderal Tri Budi Utomo, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan Indonesia, menilai latihan ini berfungsi sebagai ruang memperkuat kepercayaan antarpersonel militer. Menurutnya, kerja sama tersebut penting untuk menangani kejahatan transnasional, terorisme, manajemen bencana, dan keamanan maritim.

Indonesia mengerahkan KRI John Lie-358 beserta helikopter Bell 402-3. AS menurunkan USS Cincinnati (LCS-20) dan sebuah drone maritim. 

Negara peserta lain meliputi KDB Darulaman dari Brunei, KD Lekir-26 dari Malaysia, Kyan Sit Thar F-12 dari Myanmar, BRP Antonio Luna FF-151 dari Filipina, RSS Vigour-92 dari Singapura, dan VPNS-09 dari Vietnam. Adapun Kamboja, Laos, Thailand, dan Timor Leste turut serta melalui penugasan staf tambahan.

Keterlibatan Vietnam mendapat sorotan karena dinilai menunjukkan komitmen negara tersebut terhadap stabilitas kawasan. Wakil Kepala Staf Angkatan Laut Rakyat Vietnam, Laksamana Muda Nguyen Thien Quan, menyatakan bahwa partisipasi mereka mencerminkan tanggung jawab bersama untuk menjaga perdamaian dan pembangunan di Asia-Pasifik.

Peran Indonesia sebagai tuan rumah bersama disebut selaras dengan ASEAN Outlook on the Indo-Pacific, yang menekankan pentingnya kerja sama praktis dalam menghadapi risiko maritim di kawasan.