Sebuah pesawat B-52H Stratofortress Angkatan Udara AS didampingi oleh dua pesawat F-15J Angkatan Udara Bela Diri Jepang (JASDF) selama latihan bilateral pada 16 Desember 2024 di atas Pasifik barat. | Japan Joint Staff

Jepang dan Amerika Serikat mengadakan latihan militer gabungan di atas Laut Jepang pada Rabu, dengan melibatkan dua pengebom strategis B-52 milik militer AS. Kementerian Pertahanan Jepang menyampaikan pada Kamis bahwa latihan ini berlangsung hanya sehari setelah pembom Rusia dan China melakukan patroli bersama di dekat wilayah udara Jepang, yang sebelumnya digambarkan Tokyo sebagai pamer kekuatan.

Latihan tersebut dilakukan di wilayah yang sama dengan jalur terbang patroli udara strategis China–Rusia pada Selasa (9/12). 

Saat itu, dua pembom Tu-95 Rusia yang mampu membawa senjata nuklir bergabung dengan dua pembom H-6 China dalam penerbangan delapan jam yang melewati Selat Miyako, koridor udara strategis antara Okinawa dan Pulau Miyako. Jepang mengerahkan jet tempur untuk melakukan pengawasan selama operasi berlangsung.

Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menilai pola terbang kedua negara itu menunjukkan eskalasi tekanan terhadap Jepang. 

Ia menyebut operasi tersebut “jelas dimaksudkan sebagai pamer kekuatan terhadap negara kami, yang menimbulkan ancaman serius bagi keamanan nasional kami”, dalam penjelasan yang dikutip dari pernyataannya di Tokyo.

Patroli bersama itu, menurut Kementerian Pertahanan China, merupakan bagian dari rencana kerja sama tahunan kedua militer Beijing dan Moskow. 

Korea Selatan juga melaporkan bahwa tujuh pesawat Rusia dan dua pesawat China memasuki zona identifikasi pertahanan udaranya selama operasi yang sama, meski tidak melanggar wilayah udara nasional.

Di sisi lain, hubungan China–Jepang sudah berada dalam keadaan sensitif sejak pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November lalu mengenai potensi dampak serangan China ke Taiwan terhadap keamanan Jepang. 

Beijing menuntut pernyataan itu ditarik dan membalas dengan serangkaian langkah pembatasan, termasuk larangan impor makanan laut Jepang dan pembatasan pertukaran budaya.

Ketegangan kembali meningkat pada 6 Desember ketika Jepang menuduh jet tempur J-15 dari kapal induk China Liaoning mengunci radar kendali tembakan pada F-15 Jepang di dekat Selat Miyako. Beijing membantah tuduhan tersebut. 

Pemerintah AS menyatakan dukungannya kepada Tokyo, dengan juru bicara Departemen Luar Negeri menilai tindakan China tidak kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional.

Latihan udara AS–Jepang pada Rabu menjadi respons cepat pertama yang dikonfirmasi publik setelah rangkaian insiden tersebut, sekaligus menunjukkan koordinasi militer kedua sekutu di kawasan.