![]() |
| seorang Aviation Ordnanceman Angkatan Laut AS yang sedang memindahkan amunisi pesawat terbang. | U.S. Navy via Wikimedia Commons |
Pemerintah Amerika Serikat menyetujui penjualan paket amunisi udara senilai US$2,68 miliar kepada Kanada melalui skema Foreign Military Sale (FMS). Persetujuan tersebut diumumkan Departemen Luar Negeri AS melalui Defense Security Cooperation Agency (DSCA) pada 4 Desember 2025. Penjualan berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara NATO dan Rusia serta naiknya belanja pertahanan Kanada.
Paket penjualan itu mencakup hingga 3.414 unit bom BLU-111 berbobot 500 pon, 3.108 unit bom presisi GBU-39 Small Diameter Bomb, serta lebih dari 5.000 kit JDAM yang berfungsi mengubah bom tak berpemandu menjadi amunisi pintar.
Selain itu, Kanada juga mendapat alokasi 2.004 unit GBU-53 SDB-II, 220 bom BLU-117 seberat 2.000 pon, ratusan penetrator I-2000, serta perangkat pendukung seperti fuze FMU-139, bom latihan, peralatan uji, dan paket pelatihan.
Alasan dan kepentingan Kanada
DSCA dalam keterangannya menjelaskan bahwa pengadaan ini akan memperkuat kemampuan Kanada untuk mencegah ancaman regional, menjaga interoperabilitas dengan pasukan AS, dan meningkatkan kontribusi Ottawa dalam pertahanan benua bersama. Lembaga itu menilai Kanada mampu menyerap seluruh sistem yang diajukan tanpa mengubah keseimbangan militer kawasan.
Paket tersebut disetujui di saat Pemerintahan Perdana Menteri Mark Carney meningkatkan anggaran pertahanan secara signifikan. Carney pada pertengahan 2025 menyebut bahwa Kanada akan memenuhi komitmen belanja pertahanan 2 persen PDB yang ditetapkan NATO, lebih cepat dari jadwal sebelumnya.
Peningkatan anggaran disebut sebagai respons atas ketidakpastian peran AS sebagai penjamin keamanan NATO serta meningkatnya kekhawatiran terhadap aktivitas Rusia di kawasan Arktik.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump dalam beberapa kesempatan mengkritik negara-negara NATO yang dianggap terlalu bergantung pada Washington. Kanada juga kerap menjadi sasaran komentar Trump sebelum Carney menggantikan Justin Trudeau, termasuk pernyataannya yang menyebut Kanada “layak menjadi negara bagian ke-51 AS”.
Situasi NATO–Rusia kian rumit
Persetujuan penjualan ini muncul bersamaan dengan eskalasi retorika antara Rusia dan NATO. Presiden Rusia Vladimir Putin awal pekan lalu mengatakan bahwa Moskwa tidak mencari konflik baru setelah perang Ukraina, namun menegaskan kesiapan militernya jika Rusia diprovokasi negara-negara Eropa yang mendukung Kyiv.
“Kami tidak akan berperang dengan Eropa. Tetapi jika Eropa memulai, kami siap sekarang juga,” ujar Putin dalam sesi tanya jawab dengan wartawan.
Pernyataan itu segera ditanggapi Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte. Ia menegaskan bahwa aliansi tersebut tetap menjadi blok pertahanan dan siap melindungi seluruh anggotanya.
“NATO siap melakukan apa pun untuk melindungi satu miliar warga dan menjaga wilayah kami,” kata Rutte menjelang pertemuan puncak NATO di Brussels. Ia menambahkan bahwa aliansi tidak akan terpengaruh oleh anggapan bahwa Rusia dapat “berlama-lama” menghadapi Barat.
Persetujuan DSCA telah dikirim ke Kongres AS sesuai prosedur hukum. Nilai akhir transaksi dapat berubah bergantung pada kontrak final antara Kanada dan para kontraktor utama seperti Boeing dan RTX Corporation.
Dengan keputusan ini, Kanada mempercepat modernisasi arsenalnya di tengah dinamika keamanan yang semakin menuntut kesiapan tinggi bagi negara-negara NATO.

0Komentar