![]() |
| Donald Trump, Wikimedia Commons. | Gage Skidmore/Wikimedia Commons |
Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump merilis National Security Strategy (NSS) terbaru pada Kamis (4/12) waktu setempat, menandai perubahan besar arah kebijakan luar negeri Washington.
Dokumen setebal 33 halaman itu menegaskan upaya menghidupkan kembali Monroe Doctrine dan memperingatkan bahwa Eropa menghadapi penghapusan peradaban akibat migrasi serta rendahnya angka kelahiran.
Monroe Doctrine sendiri merupakan kebijakan luar negeri AS yang diperkenalkan pada 1823 dan menegaskan bahwa kekuatan Eropa tidak boleh memperluas pengaruh atau campur tangan di Belahan Bumi Barat. Doktrin itu selama lebih dari satu abad menjadi dasar dominasi geopolitik Washington di wilayah Amerika Utara dan Selatan.
Dalam dokumen yang berfungsi sebagai panduan prioritas keamanan nasional selama masa jabatan presiden tersebut, Gedung Putih menyebut strategi ini sebagai “Trump Effect on the Monroe Doctrine”.
Pemerintah menekankan pentingnya mempertahankan keunggulan strategis AS di Belahan Bumi Barat dan menyatakan bahwa era Amerika Serikat mendukung seluruh tatanan global seperti Atlas telah berakhir.
Kritik terbuka terhadap Eropa
Strategi keamanan itu menyampaikan bahasa yang tidak lazim keras terhadap sekutu Eropa. Gedung Putih menyebut benua tersebut berisiko menjadi tidak dapat dikenali dalam 20 tahun atau kurang dan mengklaim bahwa beberapa negara anggota NATO “akan menjadi mayoritas non-Eropa”, mengutip laporan New York Times dan Euronews.
Dokumen juga meminta kebijakan AS diarahkan untuk membangun perlawanan terhadap lintasan Eropa saat ini di dalam negara-negara Eropa serta memuji menguatnya partai-partai yang mereka sebut sebagai patriotic parties. Strategi ini sekaligus menuding para pemimpin Eropa memiliki “harapan yang tidak realistis” terkait penyelesaian perang Rusia–Ukraina.
Pemerintah Jerman merespons cepat. Menteri Luar Negeri Johann Wadephul mengatakan negaranya tidak memerlukan nasihat eksternal mengenai nilai demokrasi dan kebebasan, sebagaimana dikutip kantor berita Anadolu dan BBC.
Di bagian lain, dokumen tersebut menekankan perlunya mengakhiri persepsi bahwa NATO adalah aliansi yang terus berkembang, sebuah sinyal bahwa Washington ingin menahan perluasan blok pertahanan Barat itu.
Tuntutan baru untuk Jepang dan Korea Selatan
NSS terbaru juga menaruh sorotan kuat ke sekutu utama AS di Asia Timur. Dokumen tersebut meminta Jepang dan Korea Selatan meningkatkan belanja pertahanan secara signifikan, terutama untuk memperkuat kemampuan yang diperlukan guna menghalangi musuh dan melindungi First Island Chain.
Washington menilai sekutu Asia harus melangkah lebih jauh dan berkontribusi lebih besar pada pertahanan kolektif. Pencegahan konflik terkait Taiwan disebut tetap menjadi prioritas, namun strategi menegaskan beban tidak dapat terus ditanggung AS sendirian.
Yang menjadi perhatian adalah absennya nama Korea Utara dalam dokumen tersebut. Berbeda dengan NSS 2017 yang menyebut Pyongyang sebanyak 17 kali, laporan terbaru dari media Korea Selatan menyebut kelalaian ini sebagai perubahan kebijakan yang cukup mencolok.
Sikap terhadap Tiongkok dan tarik-menarik dalam kabinet
Meski tetap menegaskan pencegahan agresi Tiongkok di kawasan Indo-Pasifik, strategi ini juga memuat upaya menyeimbangkan kembali hubungan ekonomi Amerika dengan Tiongkok.
Menteri Keuangan Scott Bessent disebut mendorong bahasa yang lebih moderat terkait Beijing karena adanya negosiasi perdagangan yang masih berlangsung.
Sementara itu, dokumen menegaskan bahwa Washington tetap berkomitmen mempertahankan pencegahan untuk mencegah konflik terbuka di kawasan tersebut.
Penegasan ulang agenda America First
Rilis strategi ini menandai penegasan ulang agenda America First dalam kebijakan luar negeri AS: memperketat komitmen terhadap sekutu, membatasi ekspansi NATO, meningkatkan tekanan agar mitra strategis menanggung beban lebih besar, serta memperkuat fokus AS pada hegemoni regional di Belahan Bumi Barat.
.Dokumen tersebut juga memperlihatkan pergeseran retorika yang lebih keras terhadap Eropa dan pendekatan kalkulatif terhadap Tiongkok.
Strategi ini menggambarkan arah kebijakan Washington dalam beberapa tahun ke depan, dengan implikasi langsung bagi hubungan AS dengan sekutu transatlantik dan Asia. Dokumentasi resmi ini menjadi salah satu rujukan utama untuk membaca prioritas keamanan Gedung Putih selama masa jabatan Trump.

0Komentar