Seorang teknisi persenjataan Angkatan Laut Amerika Serikat mengangkut amunisi inert di hanggar kapal induk USS Gerald R. Ford (CVN-78) saat proses pemuatan amunisi untuk mendukung Consolidated Operability Test di Pelabuhan Angkatan Laut Norfolk, 18 Agustus 2020. | U S. Navy/Brett Walker

Amerika Serikat memulai proses notifikasi kepada Kongres terkait rencana penjualan paket senjata senilai US$11,1 miliar kepada Taiwan. Langkah ini diumumkan Kementerian Pertahanan Taiwan pada Kamis (17/12), dan menjadi penjualan senjata Amerika Serikat terbesar yang pernah diajukan ke pulau tersebut, sekaligus yang kedua sejak Presiden Donald Trump memulai masa jabatan keduanya. Paket ini mencakup berbagai sistem persenjataan untuk memperkuat pertahanan Taiwan di tengah tekanan militer yang kian intens dari Republik Rakyat Tiongkok.

Notifikasi tersebut menandai tahap awal prosedur penjualan senjata luar negeri Amerika Serikat, yang masih menunggu persetujuan formal Kongres di Washington. Meski begitu, Taiwan selama ini menikmati dukungan bipartisan di Kongres AS terkait isu pertahanan dan keamanan lintas Selat Taiwan.

Menurut pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Taiwan, paket senjata ini mencakup delapan kategori utama peralatan militer, di antaranya sistem roket HIMARS, howitzer, rudal antitank, drone, serta suku cadang untuk berbagai platform pertahanan lainnya. Seluruhnya dirancang untuk memperkuat konsep asymmetric warfare yang kini menjadi fokus utama modernisasi militer Taiwan.

Penjualan ini berlangsung di tengah meningkatnya aktivitas militer dan tekanan diplomatik Beijing terhadap Taiwan, yang pemerintahannya menolak klaim kedaulatan Republik Rakyat Tiongkok. Otoritas pertahanan Taiwan menyebut paket tersebut ditujukan untuk memastikan kemampuan pertahanan diri yang memadai sekaligus mempercepat pembentukan daya cegah yang kredibel.

“Paket ini membantu kami mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang memadai dan dengan cepat membangun kekuatan pencegahan yang kuat,” kata Kementerian Pertahanan Taiwan dalam pernyataan resminya, seperti dikutip Reuters.

Lebih jauh, pengumuman penjualan senjata ini datang tidak lama setelah pemerintahan Trump merilis National Security Strategy terbaru awal Desember. Dokumen tersebut secara eksplisit menempatkan pencegahan konflik di Selat Taiwan sebagai salah satu prioritas utama kebijakan keamanan Amerika Serikat, dengan penekanan pada upaya mempertahankan keunggulan militer. Taiwan dipandang strategis karena posisinya yang menghubungkan Asia Timur Laut dan Asia Tenggara, serta perannya yang dominan dalam rantai pasok semikonduktor global.

Pejabat Amerika Serikat sebelumnya menyampaikan kepada Reuters bahwa pemerintahan Trump berencana meningkatkan nilai dan intensitas penjualan senjata ke Taipei, melampaui periode jabatan pertamanya. Pada masa jabatan pertama Trump, total penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan tercatat mencapai sekitar US$18,3 miliar.

Di sisi lain, paket terbaru ini menambah daftar tunggakan pengadaan senjata Taiwan yang saat ini diperkirakan mencapai sekitar US$21,5 miliar dari 18 kontrak aktif. Sejumlah pengiriman utama, termasuk pesawat tempur F-16, tank Abrams, dan peluncur HIMARS tambahan, masih menghadapi keterlambatan akibat kendala produksi.

Hingga Kamis, Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat Tiongkok belum memberikan komentar resmi terkait paket senilai US$11,1 miliar tersebut. Namun sebelumnya, Beijing mengecam penjualan senjata Amerika Serikat ke Taiwan sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip satu-Tiongkok. 

Pada November lalu, otoritas Tiongkok secara terbuka memprotes paket pemeliharaan militer senilai US$330 juta yang juga diajukan oleh pemerintahan Trump, dengan menyebutnya mengancam kedaulatan dan keamanan nasional Tiongkok.