China mengirim utusan khusus ke Thailand dan Kamboja untuk mendorong de-eskalasi konflik perbatasan yang menewaskan puluhan orang. | Shutterstock


China mengirim Utusan Khusus untuk Urusan Asia, Deng Xijun, ke Thailand dan Kamboja pada Rabu, 18 Desember, dalam upaya diplomatik terbaru untuk meredakan bentrokan perbatasan yang terus berlanjut. Langkah ini diambil di tengah eskalasi konflik bersenjata di perbatasan kedua negara yang telah menewaskan sedikitnya 52 orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi sejak awal Desember.

Kementerian Luar Negeri China menyatakan Deng akan melakukan diplomasi antar-jemput atau shuttle diplomacy dengan mengunjungi Bangkok dan Phnom Penh. Upaya ini bertujuan mendorong de-eskalasi konflik yang telah memasuki pekan kedua tanpa tanda mereda, meski berbagai pihak internasional menyerukan penghentian pertempuran.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menegaskan Beijing memandang Thailand dan Kamboja sebagai “tetangga dekat dan sahabat,” serta telah bekerja secara aktif, dengan caranya sendiri, untuk membantu menurunkan ketegangan di kawasan.

Bentrokan terbaru terjadi di sepanjang perbatasan darat sepanjang 817 kilometer. Militer Thailand melaporkan empat prajurit kembali tewas dalam pertempuran terbaru, sehingga total korban tewas di pihak Thailand mencapai 21 orang. 

Di sisi lain, pemerintah Kamboja menyebut sedikitnya 17 warga sipil tewas akibat serangan dan tembakan lintas batas. Secara keseluruhan, korban jiwa di kedua pihak dilaporkan telah mencapai sedikitnya 52 orang merujuk pada laporan Associated Press.

Selain korban jiwa, konflik ini berdampak luas terhadap warga sipil. Lebih dari 700.000 orang dievakuasi dari wilayah perbatasan, terutama setelah Angkatan Udara Thailand mengerahkan jet tempur F-16 untuk menyerang posisi militer Kamboja. Kedua pihak juga saling membalas tembakan artileri, yang membuat pertempuran meluas ke sejumlah provinsi perbatasan.

Situasi ini terjadi setelah gagalnya upaya ceasefire yang sebelumnya diklaim difasilitasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Pada 13 Desember, Trump menyatakan para pemimpin Thailand dan Kamboja telah sepakat menghentikan tembakan usai pembicaraan telepon dengan kedua perdana menteri. Namun, klaim tersebut dibantah oleh kedua pemerintah, dan pertempuran justru terus berlanjut.

Sehari setelah pernyataan Trump, Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan negaranya akan terus melakukan operasi militer selama masih ada ancaman terhadap wilayah dan warganya. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di Facebook, saat laporan dari Kementerian Pertahanan Kamboja menyebut jet F-16 Thailand masih melakukan serangan udara beberapa jam setelah ceasefire yang diklaim tersebut.

Sementara itu, Thailand menuntut agar Kamboja lebih dulu mengumumkan penghentian tembakan secara sepihak dan menunjukkan kerja sama yang tulus, termasuk dalam upaya penyapuan ranjau darat di sepanjang perbatasan. 

Kunjungan Deng Xijun kali ini bukan yang pertama. Pada September lalu, ia juga mendatangi Thailand dan Kamboja untuk bertemu pejabat tinggi militer dan diplomatik kedua negara. Dalam kunjungan tersebut, Deng menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai serta kerja sama pembangunan demi kepentingan bersama rakyat Thailand dan Kamboja, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.

Konflik Thailand–Kamboja sendiri berakar pada sengketa wilayah yang telah berlangsung lama, terutama di sekitar kawasan kuil-kuil kuno seperti Preah Vihear. 

Sebelumnya, bentrokan bersenjata sempat dihentikan melalui ceasefire pada Juli, yang kemudian diformalkan dalam pertemuan tingkat regional di Malaysia pada Oktober. Namun, kesepakatan tersebut kembali runtuh seiring pecahnya kekerasan terbaru di sepanjang perbatasan.