Bartender Lebanon Hadi Ghassan menyiapkan minuman di belakang konter di "Meraki Riyadh," sebuah bar pop-up yang menawarkan bellini dan semprotan non-alkohol, disajikan dalam gelas koktail dingin, di Riyadh pada 23 Januari 2024. | AFP

Arab Saudi secara diam-diam memperluas akses ke satu-satunya toko alkohol resmi di negara itu dengan mengizinkan warga asing non-Muslim pemegang Premium Residency untuk berbelanja. Kebijakan yang sebelumnya hanya berlaku bagi diplomat asing non-Muslim sejak toko tersebut dibuka pada Januari 2024 ini berlangsung sepanjang 2025 di Riyadh, tanpa pengumuman resmi pemerintah, dan menjadi bagian dari agenda reformasi sosial-ekonomi Vision 2030 yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman.

Toko tersebut berlokasi di Kawasan Diplomatik Riyadh dan beroperasi secara tertutup tanpa papan nama. Penjualan alkohol tetap dilarang bagi warga Saudi dan masyarakat umum. Pemerintah menerapkan kontrol ketat untuk memastikan kebijakan ini hanya menyasar segmen tertentu dan tidak meluas ke konsumsi publik.

Langkah ini melanjutkan pendekatan bertahap kerajaan dalam melonggarkan sejumlah aturan sosial, khususnya bagi komunitas ekspatriat berpendapatan tinggi yang dinilai berkontribusi pada target diversifikasi ekonomi Arab Saudi. Sejak awal, otoritas menegaskan kebijakan ini bukan legalisasi alkohol secara luas, melainkan uji coba yang sangat terbatas dan terkontrol.

Dari sisi operasional, akses ke toko dijaga dengan standar keamanan tinggi. Pengunjung wajib melalui pemeriksaan identitas, verifikasi kelayakan, serta penggeledahan sebelum masuk. 

Ponsel, kamera, dan perangkat pintar termasuk jam dan kacamata pintar dilarang dibawa ke dalam area toko. Menurut laporan Associated Press, pembeli juga harus mendaftar melalui aplikasi pemerintah yang memuat verifikasi biometrik dan sistem kuota bulanan berbasis poin. Pembeli yang diwawancarai meminta anonimitas karena konsumsi alkohol masih dianggap tabu dan berisiko sosial di Arab Saudi. 

“Para pembeli mengaku harus menjaga anonimitas,” tulis kantor berita tersebut, merujuk pada kekhawatiran stigma sosial meski akses resmi telah dibuka secara terbatas.

Selain kontrol akses, harga juga menjadi instrumen pembatas. Sejumlah pembeli mengatakan harga minuman alkohol di toko tersebut tergolong sangat mahal. Harga sebotol anggur bisa mencapai sekitar US$85, atau beberapa kali lipat dibandingkan harga di Amerika Serikat. Diplomat asing dibebaskan dari pajak, sementara pemegang Premium Residency tetap dikenakan pajak penuh.

Pilihan produk di toko ini relatif terbatas, terutama untuk bir dan anggur, dengan ketersediaan minuman beralkohol keras yang lebih sedikit. Meski begitu, keberadaan toko ini dinilai signifikan di negara yang memberlakukan larangan total alkohol selama lebih dari tujuh dekade.

Mengutip Independent, toko tersebut pertama kali dibuka pada Januari 2024 dan hanya melayani diplomat non-Muslim. Perluasan akses ke pemegang Premium Residency menandai fase lanjutan kebijakan yang sejak awal dirancang selektif dan bertahap, sejalan dengan strategi pemerintah menarik talenta global dan investor asing.

Program Premium Residency sendiri diperkenalkan pada 2019 untuk menarik profesional berkeahlian tinggi, investor, dan pengusaha. Skema ini menawarkan berbagai keistimewaan, termasuk hak memiliki properti, mendirikan usaha tanpa sponsor lokal, serta mensponsori anggota keluarga. Namun, persyaratannya ketat, dengan ambang pendapatan tinggi atau investasi besar sebagai prasyarat utama.

Secara historis, Arab Saudi melarang alkohol secara nasional sejak awal 1950-an. Larangan tersebut diberlakukan setelah insiden pada 1951, ketika Pangeran Mishari bin Abdulaziz menembak mati Wakil Konsul Inggris Cyril Ousman dalam kondisi mabuk, yang kemudian mendorong Raja Abdulaziz menetapkan pelarangan total.

Selama bertahun-tahun, sebagian warga Saudi yang ingin mengonsumsi alkohol memilih bepergian ke Bahrain atau Dubai, Uni Emirat Arab, di mana alkohol legal dan tersedia terbuka. 

Di dalam negeri, alternatif yang beredar kerap berisiko, seperti alkohol selundupan atau minuman oplosan rumahan. Dalam beberapa tahun terakhir, bir non-alkohol justru semakin populer, terutama di kalangan muda, wisatawan, dan pada acara berskala besar.

Perluasan akses toko alkohol ini menunjukkan pelonggaran terbatas bagi kelompok asing tertentu, dengan batas yang tetap tegas bagi masyarakat Saudi secara umum serta pengawasan ketat dari negara.