![]() |
| Formasi pesawat militer Amerika Serikat yang dipimpin oleh pengebom strategis Boeing B-52 Stratofortress. | U.S. Navy |
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa ruang udara di atas dan sekitar Venezuela harus dianggap “tertutup sepenuhnya”. Pernyataan mendadak itu disampaikan melalui platform Truth Social pada Sabtu (29/11) tanpa penjelasan teknis, memicu kecemasan dan kebingungan di Caracas di tengah meningkatnya tekanan Washington terhadap pemerintahan Presiden Nicolas Maduro.
“Kepada seluruh maskapai, pilot, pengedar narkoba, dan pelaku perdagangan manusia, mohon anggap RUANG UDARA DI ATAS DAN SEKITAR VENEZUELA TERTUTUP SEPENUHNYA,” tulis Trump dalam unggahan tersebut.
Hingga saat ini Pentagon tidak memberikan komentar, sementara Gedung Putih belum menyampaikan penjelasan tambahan. Sejumlah pejabat AS yang dihubungi Reuters menyatakan terkejut dan mengaku tidak mengetahui adanya operasi militer untuk menegakkan penutupan ruang udara Venezuela.
Pemerintah Venezuela mengecam keras pengumuman Trump dan menilai langkah itu sebagai ancaman terhadap kedaulatan negara. Caracas menyebut kebijakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional dan meminta dukungan komunitas global menolak tindakan yang mereka sebut “agresif dan tidak bermoral”.
Iran, sekutu utama Venezuela juga mengecam pengumuman tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan ancaman bagi keselamatan penerbangan global.
David Deptula, purnawirawan letnan jenderal Angkatan Udara AS yang pernah memimpin zona larangan terbang di Irak utara pada 1998–1999, mengatakan pengumuman Trump menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
“Semua tergantung detailnya,” ujarnya, menilai penerapan larangan terbang memerlukan perencanaan dan sumber daya besar tergantung tujuan strategisnya.
Washington selama ini menuding Maduro terlibat dalam penyelundupan narkoba yang dianggap menyebabkan kematian warga AS. Tuduhan tersebut berulang kali dibantah Maduro.
Pengumuman Trump disampaikan saat militer AS meningkatkan kehadiran di kawasan Karibia dan melakukan operasi besar-besaran terhadap kapal-kapal yang dicurigai mengangkut narkoba di lepas pantai Venezuela.
Laporan menunjukkan adanya peningkatan patroli keamanan di negara bagian Sucre serta gangguan sinyal GPS di beberapa wilayah dalam beberapa pekan terakhir.
Maduro menuduh Trump berusaha menggulingkannya, dan menegaskan rakyat serta militer Venezuela akan melawan segala bentuk intervensi.
Penutupan ruang udara memicu keresahan warga Caracas, terutama menjelang musim liburan dan meningkatnya kebutuhan perjalanan keluarga serta bisnis.
Pemerintah Venezuela mengatakan pengumuman tersebut juga berarti penghentian sepihak penerbangan deportasi migran yang selama beberapa bulan terakhir memulangkan hampir 14 ribu warga Venezuela dari AS, yang sebelumnya berlangsung dua kali seminggu di tengah pengetatan kebijakan imigrasi.
Pernyataan Trump muncul setelah Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan peringatan bahwa maskapai internasional menghadapi “situasi berbahaya” ketika melintasi Venezuela karena kondisi keamanan memburuk dan meningkatnya aktivitas militer.
Menindaklanjuti peringatan tersebut, pemerintah Venezuela mencabut izin operasi enam maskapai internasional besar yang telah menangguhkan penerbangan mereka lebih dulu.

0Komentar