Transaksi mata uang lokal Indonesia, China, dan Jepang capai rekor US$12 miliar.

Transaksi menggunakan mata uang lokal (Local Currency Transaction/LCT) antara Indonesia, China, dan Jepang mencatat rekor baru sebesar US$12 miliar atau sekitar Rp200,37 triliun hingga awal November 2025. 

Capaian tersebut disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/11/2025).

“Nilai transaksi mata uang lokal dengan Tiongkok mencapai US$7 miliar dan dengan Jepang sebesar US$5 miliar,” ujar Perry dalam keterangan persnya. Ia menambahkan, nilai itu menandai peningkatan signifikan dibandingkan pertengahan 2025 yang masih di kisaran US$11,7 miliar.

Kenaikan transaksi ini menunjukkan percepatan nyata dalam upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan bilateral. Dibanding semester I-2024 yang mencatat US$4,7 miliar, nilai tersebut melonjak lebih dari dua kali lipat.

Menurut data BI yang dikutip dari CNBC Indonesia dan Infobanknews, transaksi LCT antara Indonesia dan China pada periode Januari–Juli 2025 mencapai US$6,23 miliar, naik tajam dari US$2,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Jepang tercatat sebagai mitra terbesar kedua setelah China dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi lintas negara.

Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta menyatakan bahwa peningkatan tersebut merupakan hasil kerja Satuan Tugas Nasional LCT yang terus memperluas penggunaan mata uang lokal antarnegara. 

“Kami mendorong penggunaan LCT untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mengurangi ketergantungan pada dolar AS,” ujarnya, dikutip dari Bloomberg Technoz.

Bank Indonesia juga memperluas kerja sama LCT dengan sejumlah negara. Setelah menggandeng Korea Selatan pada September 2024 dan Uni Emirat Arab pada Januari 2025, BI kini mempersiapkan integrasi sistem pembayaran lintas negara melalui QRIS yang sudah berjalan dengan Malaysia, Thailand, dan Singapura, serta akan diperluas ke Jepang dan China.

Program LCT sendiri merupakan bagian dari strategi regional yang juga dijalankan negara ASEAN untuk memperkuat ketahanan keuangan kawasan terhadap fluktuasi dolar AS. 

Negara-negara Asia, termasuk China dan Jepang, semakin aktif menggunakan mata uang lokal untuk perdagangan agar menekan risiko nilai tukar dan biaya konversi.

BI telah menandatangani kesepakatan kerja sama dengan People’s Bank of China (PBoC) dan Bank of Japan (BoJ) untuk memperluas penyelesaian transaksi dalam mata uang lokal. Saat ini, terdapat sekitar 20 bank di Indonesia yang ditunjuk sebagai peserta LCT, termasuk bank BUMN dan swasta nasional.

Menurut laporan BI, jumlah nasabah yang menggunakan skema LCT meningkat sekitar 45% dibandingkan tahun sebelumnya. Perry optimistis tren ini akan berlanjut hingga akhir 2025 seiring dengan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas nilai tukar domestik.

Penggunaan mata uang lokal juga diyakini dapat mengurangi tekanan permintaan dolar di pasar, menjaga kestabilan rupiah, dan menekan biaya transaksi bagi pelaku ekspor-impor. Dengan nilai transaksi yang terus meningkat, kebijakan ini memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok perdagangan Asia Timur.

Hingga akhir 2024, total kumulatif transaksi LCT Indonesia tercatat sekitar US$9,3 miliar, dengan kontribusi terbesar berasal dari sektor manufaktur, bahan baku, dan energi. BI menargetkan pada 2027, sekitar 20–30% transaksi internasional Indonesia dapat diselesaikan menggunakan mata uang lokal.