Terminal modular jarak jauh milik Angkatan Luar Angkasa AS dirancang untuk mengganggu sinyal satelit musuh dan mencegah penargetan aset AS serta sekutunya. (Photo: Isaac Blancas/U.S. Space Force)

Angkatan Luar Angkasa Amerika Serikat (US Space Force) tengah mempersiapkan dua sistem senjata jarak jauh baru yang dirancang untuk mengganggu operasi satelit China dan Rusia. Kedua sistem bernama Meadowlands dan Remote Modular Terminals (RMT) itu melengkapi kemampuan pengacau sinyal yang sebelumnya dimiliki AS melalui Counter Communications System, yang mulai dioperasikan pada 2020.

Menurut laporan Newsmax pada Selasa (4/11/2025), sistem-sistem baru tersebut dapat dioperasikan secara global dan dikendalikan dari jarak jauh. Tujuannya adalah untuk sementara waktu memutus komunikasi dan jaringan penargetan militer lawan selama konflik.

RMT dikembangkan oleh Northstrat Inc. dan CACI International, serta telah digunakan secara terbatas di sejumlah lokasi luar negeri yang tidak diungkapkan. Setiap unitnya diperkirakan bernilai sekitar US$1,5 juta dan masih dalam tahap pengujian operasional. 

Pentagon menargetkan penyebaran 24 unit RMT, dengan 11 sistem dijadwalkan aktif sebelum akhir tahun ini, sebagaimana diberitakan Defense News.

“Kami ingin dapat mengganggu komunikasi mereka, rantai pembunuhan mereka, dan tautan penargetan mereka,” kata Kelly Hammett, Direktur Space Rapid Capabilities Office, menjelaskan bahwa sistem tersebut akan “berteriak di telinga mereka” untuk mencegah koordinasi serangan terhadap aset AS.

Sistem modular itu dapat ditempatkan di area garnisun maupun lokasi terpencil, dengan kendali utama tetap berada di wilayah Amerika Serikat. Menurut EurAsian Times, kemampuan operasi jarak jauh memungkinkan Space Force beroperasi tanpa kehadiran langsung di zona konflik.

Peningkatan kemampuan ini muncul di tengah kekhawatiran meningkatnya risiko perang luar angkasa. China dalam beberapa tahun terakhir disebut telah mengembangkan kemampuan manuver orbital yang canggih. 

Pejabat AS menggambarkan latihan satelit Beijing sebagai bentuk dogfighting in space atau pertempuran udara di orbit, seperti dilaporkan CNN pada Maret 2025.

Pejabat militer AS menegaskan, sistem baru ini bersifat defensif, dimaksudkan untuk “secara bertanggung jawab melawan kemampuan komunikasi satelit musuh yang memungkinkan serangan.” Namun, sejumlah analis pertahanan menilai teknologi tersebut juga dapat berfungsi ofensif dalam konteks persaingan strategis antara AS dan China.

Menurut laporan SatNews dan West Point’s Modern War Institute, meningkatnya aktivitas pengujian dan penyebaran sistem pengganggu sinyal oleh kedua negara memperbesar risiko eskalasi di orbit Bumi, wilayah yang kini kian menjadi arena baru perebutan keunggulan militer global.