![]() |
| Krisis Nexperia memicu ketegangan Belanda–China dan mengganggu suplai chip global, membuat produsen otomotif mulai menghentikan atau mengurangi produksi. | Nexperia |
Krisis diplomatik antara Belanda dan China terkait produsen chip Nexperia semakin meningkat sejak pertengahan November dan memicu kekhawatiran terhadap rantai pasok otomotif global.
Perselisihan ini melibatkan pemerintah Belanda, manajemen Nexperia di Eropa dan China, serta sejumlah produsen kendaraan yang mulai menghentikan produksi akibat terhambatnya pasokan komponen. Ketegangan berlangsung di tengah persiapan pertemuan resmi antara pejabat Belanda dan China di Beijing dalam pekan ini.
Persoalan bermula pada 30 September ketika pemerintah Belanda menyita 99 persen kendali Nexperia dengan menggunakan undang-undang darurat era Perang Dingin Goods Availability Act. Langkah itu dilakukan karena adanya dugaan pemindahan teknologi strategis ke China oleh perusahaan induk Wingtech.
Situasi memanas pada 15 November setelah sembilan fasilitas Nexperia di China mengirim surat kepada karyawan dan menuduh manajemen Belanda sengaja mengganggu produksi dan operasi, mengutip laporan South China Morning Post.
Respons China semakin keras setelah Menteri Ekonomi Belanda Vincent Karremans pada 14 November menyatakan tidak menyesal dan akan “melakukan hal yang sama lagi” bila diperlukan.
Kementerian Perdagangan China menyebut pernyataan tersebut “sembrono dan tidak masuk akal,” serta mendesak Belanda membawa solusi konstruktif, dalam pernyataan resmi yang dikutip sejumlah media pemerintah.
Di sisi lain, Belanda menjelaskan keputusan pengambilalihan dilakukan karena kekhawatiran keamanan teknologi dan dugaan penyalahgunaan pengelolaan. Pemerintah menempatkan Stefan Tilger sebagai pimpinan sementara menggantikan mantan CEO Zhang Xuezheng.
China membalas dengan pembatasan ekspor chip dari fasilitas Nexperia di Dongguan pada awal Oktober, termasuk komponen yang telah terikat kontrak dengan produsen otomotif.
Meski aturan itu sempat dilonggarkan pada awal November untuk chip penggunaan sipil, pasokan masih tersendat karena kantor pusat Nexperia di Belanda menghentikan pengiriman wafer ke China akibat sengketa pembayaran dan audit internal.
Dampaknya mulai terasa di sektor otomotif. Honda menghentikan operasional pabrik di Celaya, Meksiko sejak 28 Oktober dan mengurangi produksi di Ontario, Kanada. Produsen itu menurunkan target laba tahunan setelah pendapatan semester pertama turun 37 persen.
Volkswagen menyampaikan peringatan serupa pada 23 Oktober dan membentuk satuan tugas untuk memantau situasi. Pemasok komponen ZF Friedrichshafen juga telah mengurangi shift produksi di Jerman karena kekurangan chip.
Seorang pejabat industri yang dikutip Automotive Logistics mengatakan stok komponen di pabrik China diperkirakan akan habis pada pertengahan Desember. “Jika pasokan tidak bergerak dalam dua minggu ke depan, dampaknya akan semakin luas,” ujarnya.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi mengenai hasil pembicaraan awal antara kedua pemerintah. Delegasi Belanda dijadwalkan bertemu dengan otoritas China pekan ini, dengan agenda utama terkait kontrol manajemen, audit produksi, serta rencana jangka panjang operasi Nexperia.
Sejumlah analis menyebut pertemuan itu akan menjadi ujian bagi hubungan ekonomi Eropa–China, terutama dalam sektor teknologi strategis. Pejabat yang mengetahui proses diplomasi mengatakan kepada Reuters bahwa setiap keputusan akan berpengaruh lebih jauh dari satu perusahaan, mengingat peran semikonduktor dalam industri elektronik dan kendaraan modern.
Belum ada konfirmasi kapan produksi dan distribusi chip Nexperia kembali normal. Sejauh ini, produsen otomotif masih menunggu kepastian sambil mempersiapkan opsi alternatif pasokan komponen.

0Komentar