![]() |
| Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan dukungan penuh pada seruan Israel untuk memberantas Hamas di Gaza. (AFP) |
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan dukungan penuh terhadap operasi militer Israel di Gaza selama kunjungannya ke Yerusalem, Minggu (2/11/2025). Dalam pernyataannya, Rubio menegaskan bahwa kelompok Hamas “harus diberantas”, langkah yang dinilai memperdalam ketegangan atas gencatan senjata yang sudah rapuh sejak diberlakukan pada 10 Oktober.
“Selama mereka tetap ada sebagai kekuatan yang dapat memerintah atau mengancam dengan kekerasan, perdamaian menjadi tidak mungkin,” kata Rubio di Yerusalem, dikutip dari CBS Austin. “Mereka harus diberantas.”
Pernyataan Rubio disampaikan usai pertemuannya dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang turut mendukung rencana Presiden Donald Trump untuk membangun kembali Gaza di bawah pengelolaan AS.
Netanyahu menyebut ia dan Trump memiliki “strategi bersama” bagi masa depan wilayah tersebut, sebagaimana dilaporkan News3LV.
Gencatan senjata di bawah tekanan
Dukungan tegas Rubio datang di tengah meningkatnya laporan pelanggaran terhadap gencatan senjata. Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sedikitnya 194 pelanggaran oleh militer Israel sejak 10 Oktober, termasuk penyusupan ke wilayah yang dilarang, pemblokiran bantuan medis, dan serangan artileri yang menewaskan warga sipil.
Data otoritas Gaza menyebut, sejak kesepakatan gencatan dimulai, serangan Israel telah menewaskan 226 warga Palestina dan melukai 594 lainnya. Hanya 24 persen bantuan kemanusiaan yang diizinkan masuk, sementara operasi militer di Rafah, Khan Younis, dan Kota Gaza masih berlangsung, menurut laporan Al Jazeera dan kantor berita WAFA.
Fase kedua gencatan senjata dijadwalkan dimulai dua minggu lalu, mencakup pembebasan sandera tambahan oleh Hamas dengan imbalan tahanan Palestina dan penarikan pasukan Israel. Namun, hingga awal November, negosiasi belum juga dimulai, menambah ketidakpastian proses perdamaian.
Penolakan Arab terhadap rencana Gaza Trump
Kunjungan Rubio juga diselimuti penolakan keras dari negara-negara Arab atas usulan Presiden Trump untuk memindahkan sekitar 2,2 juta penduduk Gaza ke negara tetangga. Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi menolak gagasan tersebut, menyebut relokasi warga Palestina sebagai “ketidakadilan besar”.
Sikap serupa disampaikan Raja Yordania Abdullah II yang memperingatkan bahwa setiap upaya pemindahan paksa akan mengancam stabilitas regional.
Lima menteri luar negeri dari Yordania, Mesir, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab dilaporkan telah mengirim surat bersama kepada Rubio untuk menolak rencana itu, sebagaimana diberitakan Reuters.
Sementara itu, Turki menjadi tuan rumah pertemuan tingkat menteri di Istanbul pada Minggu (2/11) guna membahas upaya memperkuat gencatan senjata dan menyusun langkah diplomatik lanjutan.
Menurut laporan The New York Times, sejumlah negara Arab tengah menyiapkan proposal alternatif yang memungkinkan warga Palestina tetap di Gaza dengan pengawasan internasional untuk rekonstruksi wilayah tersebut.
Dalam situasi yang terus memanas, posisi Amerika Serikat yang semakin sejalan dengan Israel dinilai akan menjadi ujian bagi hubungan Washington dengan sekutu-sekutu Arab di kawasan, terutama di tengah tekanan agar gencatan senjata benar-benar dihormati.

0Komentar