Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan kepemilikan minimal 30 persen saham di proyek waste-to-energy senilai Rp 91 triliun yang akan dibangun di 33 kota. (Humas Pemkot Solo)

Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara menargetkan kepemilikan minimal 30 persen saham di setiap proyek waste-to-energy (WTE) atau pengolahan sampah menjadi energi listrik yang akan dibangun di 33 kota di Indonesia. Proyek nasional ini menelan investasi total sekitar Rp 91 triliun dan dijadwalkan memasuki tahap tender perdana pada 6 November 2025.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menjelaskan, komposisi saham pemerintah bisa berbeda di tiap proyek, namun Danantara akan memastikan kepemilikan strategis. 

“Kami bilangnya jika bisa paling tidak 30 persen, tapi kami senang untuk ambil 51 persen atau lebih, karena yang paling penting menyelesaikan masalah lingkungan,” ujar Pandu dalam konferensi pers di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (3/11/2025), dikutip dari Kontan.

24 perusahaan asing lolos seleksi awal

Dari total 200 perusahaan yang mendaftar, sebanyak 24 perusahaan internasional telah lolos dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) untuk proyek PSEL (Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik).

Perusahaan-perusahaan tersebut berasal dari Tiongkok dan Jepang, di antaranya Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering, ITOCHU Corporation, China Everbright Environment Group Limited, dan Veolia Environmental Services Asia, sebagaimana dilaporkan Kontan (3/11/2025).

Managing Director Investment Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja mengatakan, seluruh perusahaan yang lolos wajib membentuk konsorsium dengan mitra dalam negeri. 

“Kita expect mereka membuat konsorsium dengan pemain lokal BUMN, bahkan mungkin dengan BUMD,” ujarnya kepada Bisnis Indonesia.

TOBA pastikan tak terlibat

Sementara itu, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) dipastikan tidak akan berpartisipasi dalam proyek WTE Danantara. Pandu Sjahrir, yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Direktur Utama TOBA, menegaskan keputusan tersebut. 

“Minggu lalu teman-teman TOBA sudah declare tidak bakal ikutan untuk proyek yang menyangkut WTE Danantara,” kata Pandu dikutip dari CNBC Indonesia (3/11/2025).

TOBA memilih fokus pada ekspansi bisnis pengelolaan limbah di kawasan Asia Tenggara, mencakup Vietnam, Malaysia, dan Thailand. 

Senior Vice President Corporate Finance and Investor Relations TOBA Mirza Rinaldy Hippy menilai, potensi bisnis limbah di negara-negara tersebut lebih menarik dibanding proyek domestik Danantara, seperti dikutip Kompas dan Merdeka.

Pendanaan dan tahapan implementasi

Untuk mendukung pembiayaan proyek, Danantara akan menyediakan 30 persen ekuitas di setiap proyek WTE yang diperkirakan menelan modal Rp 2,5–3,2 triliun. 

Dengan demikian, Danantara akan mengalokasikan Rp 750 miliar hingga Rp 950 miliar per proyek, bersumber dari hasil penerbitan Patriot Bond senilai Rp 50 triliun, sebagaimana dilaporkan Suara.com (3/11/2025).

Tender tahap pertama akan mencakup tujuh wilayah aglomerasi: Yogyakarta Raya, Denpasar Raya, Bogor Raya, Bekasi Raya, Tangerang Raya, Medan Raya, dan Semarang Raya. 

Setiap proyek ditargetkan mampu mengolah lebih dari 1.000 ton sampah per hari, dengan rencana operasi komersial pada 2028, menurut laporan Liputan6 dan Tempo.

“Proyek ini bukan hanya soal energi, tapi juga kebersihan kota dan keberlanjutan lingkungan. Kami ingin setiap proyek berjalan dengan tata kelola dan teknologi terbaik,” kata Pandu menutup keterangannya.