Uang kertas ringgit Malaysia. (Brent Lewin/Bloomberg)

Ringgit Malaysia mencatatkan kinerja terbaik di Asia sepanjang 2025, mendekati level tertinggi dalam empat tahun terakhir terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sebaliknya, rupiah Indonesia justru menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di kawasan pada perdagangan Kamis (13/11/2025).

Pada perdagangan pagi pukul 09.20 WIB, rupiah melemah 0,24% ke level Rp16.735 per dolar AS. Sementara itu, ringgit Malaysia menguat 0,07% ke posisi 4,130 per dolar AS, melanjutkan tren penguatan yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Penguatan ringgit sepanjang 2025 mencapai lebih dari 8%, didorong oleh pemulihan ekonomi Malaysia yang melampaui ekspektasi pasar. Perekonomian negeri jiran tersebut tumbuh 5,2% pada kuartal ketiga 2025, menjadi ekspansi tercepat dalam setahun terakhir. Lonjakan konsumsi domestik dan pemulihan permintaan global menjadi pendorong utama pertumbuhan.

Data BNY dan Malayan Banking Bhd menunjukkan, investor asing membeli obligasi pemerintah Malaysia senilai hampir US$4 miliar sepanjang tahun ini. Bank Negara Malaysia (BNM) juga mempertahankan suku bunga acuan di level 2,75% pada awal November, mencerminkan keyakinan terhadap ketahanan ekonomi di tengah gejolak global.

“Sentimen terhadap ringgit terus positif,” tulis ahli strategi Maybank Saktiandi Supaat dalam laporan yang dikutip Bloomberg. Ia menilai ringgit berpotensi menembus level 4,1 per dolar AS, tertinggi sejak Mei 2021.

Sementara itu, pelemahan rupiah terjadi di tengah meredanya ketidakpastian politik di Washington setelah Kongres AS meloloskan rancangan pendanaan jangka pendek yang mengakhiri penutupan pemerintahan terpanjang dalam sejarah AS selama 43 hari. Presiden Donald Trump menandatangani RUU tersebut pada 12 November 2025.

Sejak awal tahun, rupiah telah melemah 3,8% terhadap dolar AS, menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia. Sebagai pembanding, ringgit Malaysia memimpin penguatan tahunan dengan kenaikan 8,18%.

Terhadap ringgit, rupiah mencatat rekor terlemah dengan menembus Rp4.047,95 per ringgit pada 12 November 2025. Secara year-to-date, rupiah telah turun 11,67% terhadap mata uang Malaysia.

Menurut analis BNY Hong Kong, Wee Khoon Chong, prospek ringgit tetap solid meski telah reli signifikan. “Valuasi ringgit masih menarik, mengingat posisi mata uang ini sempat sangat lemah pada 2021 hingga 2023,” ujarnya.

Di sisi lain, penguatan ringgit juga ditopang oleh membaiknya hubungan perdagangan antara AS dan China, dua mitra dagang utama Malaysia, yang memperkuat arus investasi asing ke pasar keuangan kawasan.