Beberapa pesawat Garuda Indonesia yang sedang terparkir di apron Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng, Indonesia. (APLUSWIRE/Larissa Meidiana)

Upaya restrukturisasi lanjutan yang tengah dipersiapkan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. kembali mendapat sorotan. Keduanya merupakan BUMN strategis yang sebelumnya telah menjalani proses penyehatan keuangan dalam beberapa tahun terakhir. 

Namun, langkah tambahan ini dinilai menunjukkan bahwa penataan tahap pertama belum cukup mengatasi persoalan inti, terutama terkait struktur biaya, utang, dan fokus usaha. 

Situasi ini juga terjadi di tengah kondisi sektor konstruksi yang masih tertekan setelah pandemi dan pemulihan industri penerbangan global yang berjalan bertahap, di mana biaya avtur di Indonesia masih relatif tinggi dibanding negara kawasan.

Tekanan berlanjut di sektor konstruksi dan aviasi

Sejauh ini, manajemen Wijaya Karya memasukkan rencana restrukturisasi lanjutan sebagai bagian dari agenda transformasi hingga 2026. Selain itu, perseroan juga menyiapkan strategi asset recycling dan penguatan efisiensi operasional. 

Periode restrukturisasi sebelumnya tercatat berlangsung pada 2024 dan menghasilkan kesepakatan master restructuring agreement dengan nilai kewajiban mencapai Rp20,79 triliun. Kesepakatan tersebut sempat dianggap sebagai momentum pemulihan, meski realisasi kinerja pascarestrukturisasi belum menunjukkan perbaikan yang konsisten.

Meski demikian, sejumlah analis menilai pemulihan kinerja WIKA belum signifikan. Pemerhati BUMN Herry Gunawan menyebutkan bahwa kondisi keuangan perusahaan konstruksi tersebut masih menghadapi tekanan. 

“Selain ekuitasnya negatif, arus kas operasi WIKA juga defisit. Perusahaan ini membutuhkan suntikan modal serta restrukturisasi besar-besaran terhadap entitas usaha di bawahnya yang jumlahnya terlalu banyak dan menjadi beban tambahan,” ujar Herry seperti dikutip dari Bisnis.com.

Dalam pandangan beberapa ekonom, struktur bisnis WIKA yang tersebar ke banyak lini membuat strategi bisnis kurang fokus dan menyulitkan pengendalian risiko.

WIKA saat ini tercatat memiliki hampir 30 entitas anak dan perusahaan asosiasi. Struktur tersebut dinilai membuat beban administratif dan finansial meningkat, terutama di tengah perlambatan kontrak proyek konstruksi dan pengetatan pembiayaan perbankan. 

Selain itu, sejumlah kontrak proyek pemerintah yang mundur jadwal pembayarannya sejak 2020 juga berkontribusi terhadap tekanan likuiditas perusahaan. Investor pasar modal disebut masih bersikap berhati-hati terhadap saham konstruksi BUMN karena ketidakpastian pendanaan dan kondisi leverage yang tinggi.

Garuda kembali perlu bantalan modal

Di sisi lain, Garuda Indonesia kembali masuk fase restrukturisasi setelah RUPSLB menyetujui penyertaan modal Rp23,67 triliun dari PT Danantara Asset Management melalui skema private placement. Restrukturisasi sebelumnya berlangsung pada 2022 dan menghasilkan penurunan beban utang cukup besar. 

Utang yang semula tercatat US$10 miliar pada 2021 berkurang menjadi US$5 miliar setelah proses negosiasi ulang. Proses tersebut mencakup renegosiasi sewa pesawat, perpanjangan tenor, serta penyesuaian jadwal pembayaran kewajiban kepada kreditur dalam negeri maupun luar negeri.

Namun, beban finansial maskapai nasional tersebut masih dianggap berat. Herry menjelaskan bahwa perbaikan arus operasional Garuda belum mampu mengimbangi biaya pinjaman, sewa pesawat, dan kebutuhan pemeliharaan armada. 

“Akibatnya, walaupun secara operasional Garuda mencatatkan keuntungan, beban keuangan yang besar membuat kinerja keuangannya tetap rugi,” kata Herry. 

Kondisi ini berlangsung di tengah pemulihan pasar penerbangan yang belum sepenuhnya stabil, tingginya biaya operasional global pascapandemi, serta persaingan ketat dengan maskapai asing di rute internasional.

Associate Director BUMN Research Group FEB UI Toto Pranoto memiliki pandangan serupa. Menurutnya, rencana restrukturisasi lanjutan mencerminkan tekanan struktural yang belum terselesaikan. Toto menilai tambahan modal dari Danantara merupakan langkah positif karena memberi indikasi komitmen pemegang saham terhadap pemulihan. 

“Langkah ini bisa menjadi sentimen positif di Bursa Efek Indonesia bahwa pemegang saham sudah ambil langkah proaktif untuk memperbaiki kinerja fundamental BUMN tersebut,” ucap Toto. 

Meski begitu, ia menyebut keberhasilan restrukturisasi tidak hanya bergantung pada pendanaan baru, melainkan juga kedisiplinan eksekusi strategi bisnis, efisiensi operasional, serta kejelasan arah model bisnis.

Respons dan langkah manajemen

Dari sisi korporasi, Direktur Keuangan WIKA Sumadi mengatakan bahwa manajemen masih mengkaji opsi restrukturisasi yang relevan dengan situasi keuangan saat ini. Menurutnya, koordinasi dengan perbankan dan Danantara masih berlangsung. 

“Kami setidaknya mengkaji apakah kami akan melakukan restrukturisasi yang seperti apa ya. Namun memang ada potensi dengan kondisi yang ada sekarang WIKA akan melakukan MRA lagi dengan perbankan,” kata Sumadi. 

Manajemen juga disebut tengah menyusun prioritas proyek yang masih layak dilanjutkan dan mengevaluasi aset yang dapat dijual atau dilepas untuk memperbaiki struktur kas.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menyebut persetujuan pemegang saham terhadap masuknya Danantara sebagai bagian dari proses pemulihan lanjutan. 

“Dukungan dari DAM sebagai bagian dari inisiatif pemerintah mencerminkan kepercayaan terhadap arah strategis dan visi jangka panjang kami dalam mewujudkan maskapai nasional yang sehat, tangguh, dan berkelas dunia,” ujar Glenny dalam keterangan resmi. 

Garuda disebut menargetkan optimalisasi armada, perbaikan rute internasional yang bernilai tinggi, dan konsolidasi biaya operasional sebagai bagian dari program penyehatan lanjutan.

Kedua BUMN ini diperkirakan masih akan berada dalam fase penyesuaian hingga beberapa tahun ke depan. Tantangan terbesar bukan hanya bagaimana menata ulang kewajiban finansial, tetapi juga memastikan model bisnis lebih fokus pada core business, lebih ramping, dan mampu menarik kembali kepercayaan investor. 

Jika proses restrukturisasi lanjutan berhasil, momentum pemulihan dapat membuka ruang pembiayaan baru dari perbankan maupun pasar modal. Namun, apabila strategi tidak berjalan, risiko finansial dapat kembali meningkat dan menekan kepercayaan pasar.