Kanselir Jerman Friedrich Merz menyerukan agar Uni Eropa membentuk uni pertahanan mandiri di tengah ancaman keamanan global dan ketegangan geopolitik.

Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan Uni Eropa harus berubah menjadi uni pertahanan Eropa di tengah meningkatnya ancaman geopolitik global. Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 17 November 2025, saat berbicara di Süddeutsche Zeitung Business Summit di Berlin.

Ia menilai tatanan global pasca-Perang Dunia dan Perang Dingin sudah tidak lagi relevan dengan kondisi keamanan saat ini.

Merz mengatakan Jerman, sebagai ekonomi terbesar sekaligus negara dengan populasi terbanyak di Uni Eropa, perlu mengambil peran lebih besar dalam arsitektur keamanan Eropa. 

“Ini kebutuhan untuk mengubah Uni Eropa ini menjadi uni pertahanan Eropa,” ujarnya di forum tersebut. Ia menambahkan bahwa Eropa harus memiliki kapasitas pertahanan kolektif tanpa hanya bergantung pada mitra eksternal.

Pidato tersebut juga mencerminkan arah kebijakan koalisi konservatif yang dipimpin Merz sejak mengambil alih pemerintahan dari Olaf Scholz pada pemilu 2025. 

Selama kampanye, Partai CDU menempatkan kemandirian pertahanan Eropa sebagai salah satu agenda prioritas, terutama setelah serangkaian peringatan bahwa keamanan Uni Eropa tidak lagi dapat disandarkan sepenuhnya pada Amerika Serikat.

Rusia, AS, dan China dalam peta ancaman Eropa

Menurut Merz, Eropa kini menghadapi tiga poros ancaman: Rusia, Amerika Serikat di bawah administrasi Donald Trump, dan Tiongkok. Ia menyebut Rusia sebagai ancaman paling serius, bukan hanya karena perang di Ukraina namun juga dugaan serangan hibrida seperti intrusi drone dan peretasan terhadap bisnis serta institusi Eropa. Rusia telah berulang kali membantah tuduhan tersebut melalui kanal resmi.

Di sisi lain, sejumlah negara NATO di Eropa Timur seperti Polandia, Lithuania, dan Latvia juga tengah meningkatkan kesiapan militernya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Polandia bahkan menargetkan anggaran pertahanan lebih dari 4% PDB dan mengembangkan kemampuan darat terbesar di kawasan sebagai antisipasi skenario konflik di perbatasan timur Uni Eropa.

Merz juga menyoroti memburuknya hubungan transatlantik sejak Trump kembali ke Gedung Putih. Kebijakan tarif baru Washington terhadap produk Eropa disebut Merz sebagai pemicu ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. 

“Perselisihan tarif dengan AS jauh lebih dari sekadar perselisihan perdagangan. Ini membuka perpecahan mendalam di seberang Atlantik,” kata Merz dalam pernyataannya.

Lonjakan belanja militer Jerman dan proyek pertahanan UE

Sementara untuk Tiongkok, Merz menyebut Beijing semakin agresif di kancah internasional sekaligus lebih represif di dalam negeri. Kondisi tersebut disebutnya menempatkan Uni Eropa dalam posisi strategis yang rumit terkait rantai pasokan dan hubungan dagang.

Pidato itu disampaikan saat pemerintah Jerman menjalankan peningkatan anggaran pertahanan terbesar dalam sejarah modern negara itu. 

NPR melaporkan pada Maret 2025 bahwa Merz berhasil mendapat persetujuan parlemen untuk perubahan konstitusi yang memungkinkan pembelanjaan militer di luar batasan debt brake. Paket tersebut mencakup dana modernisasi dan infrastruktur senilai €500 miliar.

Selain peningkatan alokasi belanja, Jerman juga terlibat dalam berbagai proyek pertahanan bersama Uni Eropa, seperti Future Combat Air System (FCAS) bersama Prancis dan Spanyol, serta European Sky Shield Initiative (ESSI) untuk integrasi sistem pertahanan udara. Uni Eropa juga masih membahas pembentukan EU Rapid Deployment Force berisi 5.000 pasukan yang ditargetkan siap sebelum akhir dekade.

Menurut laporan New York Times dan Atlantic Council, anggaran pertahanan Jerman untuk tahun 2026 mencapai €108,2 miliar, sejalan dengan target belanja NATO yang telah direvisi menjadi 5% dari PDB pada 2035. 

Sejumlah survei publik di Jerman menunjukkan sikap masyarakat masih terbelah terkait peningkatan belanja militer, terutama karena inflasi energi dan tekanan pajak.

“Kita tidak bisa lagi mengandalkan AS untuk membela kita, pada China untuk memasok bahan mentah, atau pada Rusia untuk kembali ke jalan perdamaian,” ujar Merz dalam pidatonya, mengutip laporan TASS dan US Muslims. “Dunia sedang berubah, dan Eropa harus merespons.”