PHE mencatat produksi migas 1,03 juta BOEPD hingga kuartal III 2025, didorong aktivitas hulu intensif, eksplorasi Rokan, dan penambahan cadangan baru. | Wikimedia Commons

PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mencatat produksi minyak dan gas bumi sebesar 1,03 juta barel setara minyak per hari (MMBOEPD) sepanjang kuartal III 2025. Data ini disampaikan dalam laporan perusahaan yang dirilis pada Selasa (19/11). Kinerja tersebut menjadikan PHE sebagai subholding dengan kontribusi terbesar terhadap produksi migas nasional.

Produksi tersebut terdiri dari 553 ribu barel minyak per hari (MBOPD) dan 2,83 miliar standar kaki kubik gas per hari (BSCFD). PHE beroperasi di sejumlah wilayah kerja strategis seperti blok Rokan, Mahakam, ONWJ, serta beberapa portofolio migas internasional.

Penguatan produksi terjadi ketika pemerintah tengah mendorong kemandirian energi dalam kerangka ketahanan pasokan domestik. Pemerintah mematok target produksi nasional mencapai 1 juta barel per hari untuk minyak pada 2030, sehingga capaian PHE menjadi salah satu indikator penting keberlanjutan industri hulu migas nasional.

Aktivitas hulu meningkat sepanjang 2025

PHE melaporkan peningkatan signifikan dalam aktivitas pemboran dan perawatan sumur. Hingga akhir September 2025, sebanyak 661 sumur eksploitasi selesai dibor, 969 sumur menjalani workover, dan 28.507 sumur menerima layanan perawatan lanjutan (well service). Angka ini melampaui realisasi tahun sebelumnya.

Di sisi eksplorasi, perusahaan menyelesaikan survei seismik 2D sepanjang 109 kilometer dan seismik 3D seluas 652 kilometer persegi. PHE juga mengebor 15 sumur eksplorasi baru sebagai bagian dari strategi percepatan penemuan cadangan.

Hasil eksplorasi tersebut menghasilkan temuan sumber daya 2C sebesar 870 juta BOE dengan wilayah kerja Rokan menjadi penyumbang mayoritas. Selain itu, cadangan terbukti (P1) perusahaan bertambah 149 juta BOF.

Sumber internal industri mencatat potensi migas non-konvensional di Aman Trough K7A dan K7B menjadi salah satu temuan terbesar tahun ini dan masih dalam tahap evaluasi lanjutan.

Corporate Secretary Subholding Upstream Pertamina, Hermansyah Y Nasroen, menyampaikan capaian tersebut merupakan hasil konsistensi eksekusi strategi operasi dan percepatan eksplorasi.

“Kami berkomitmen memastikan keberlanjutan produksi migas nasional serta memberikan nilai tambah bagi Pertamina dan Indonesia,” kata Hermansyah dalam pernyataannya.

Ia menambahkan, peningkatan kinerja terjadi seiring digitalisasi aktivitas hulu, optimalisasi peralatan produksi, dan peningkatan integrasi antarwilayah kerja.

Prinsip ESG dan penguatan tata kelola

PHE menegaskan seluruh operasi mengikuti prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Implementasi Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) dengan sertifikasi ISO 37001:2016 diterapkan secara penuh di wilayah operasi PHE domestik maupun aset internasional.

Dalam publikasi resmi PHE, perusahaan menyatakan menerapkan zero tolerance on bribery untuk memastikan akuntabilitas operasional sektor energi yang termasuk kategori strategis negara.

Kinerja PHE sejalan dengan laporan kinerja PT Pertamina (Persero) yang diproyeksikan mencatat pendapatan sekitar USD 68 miliar pada 2025. Hingga Oktober 2025, total produksi migas grup tetap stabil di atas 1 juta BOEPD.

PHE masih menjadi kontributor utama terhadap produksi hulu Pertamina di tengah tekanan makro global, fluktuasi harga minyak dunia, serta kebutuhan domestik yang terus meningkat.